FF/YUNJAE (YAOI)/Beautiful Surprise/OneShoot

Title: Beautiful Surprise

Part: Oneshoot

Rating: PG+15 (YAOI)

Cast: Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Junsu, Park Yoochun, and Shim Changmin

Author: Revi JaeJoong aka Han Hyesu

 

A/N        : Cerita ini aku buat sendiri tanpa memplagiat cerita manapun dan yang jelas ini cuma CERITA FIKTIF belaka.

 

^^^^^^^^^^

 

Menurutku, sepandai-pandainya seseorang untuk menutupi semua perasaannya, pasti semua yang ia sembunyikan itu akan terlihat juga. Memang benar seperti yang orang banyak katakan, mata adalah satu-satunya indera manusia yang tidak bisa berbohong ataupun menyembunyikan perasaan pemiliknya. Mata adalah indera yang jauh dari kebohongan. Tentu mata pria itu pun begitu. Terlihat menyiratkan rasa pilu meski bibir merahnya tersenyum manis. Matanya melukiskan kesedihan meski mulutnya terus saja berkata jika ia baik-baik saja. Matanya memancarkan kerinduan meski air matanya tidak pernah terurai. Pria itu lemah saat ini.

 

^^^^^^^^^^

 

Senyumanmu sangat indah. Terpancarkan sempurna tanpa penghalang. Semua orang yang melihatnya pasti akan terpesona. Dan tentu saja tidak ada yang akan menyangka jika kau sedang tidak baik-baik saja. Kau cukup pandai menutupi hatimu yang gundah saat ini. Dan hanya cukup pandai.

 

“Hyung, gwenchana?” Junsu. Kim Junsu. Sahabat terbaikmu itu merasakan auramu saat ini. Aura kesedihan. Kau hanya cukup pandai, bukan? Junsu sudah merasakan keanehan pada dirimu.

 

“Gwenchanayo, Junsu-ah. Waeyo?” Kau masih saja berusaha menyembunyikannya. Rasa tidak enak akan menyergapmu jika perasaanmu terbongkar. Kau tak ingin merepotkan orang lain.

 

“Kau tidak baik, Hyung. Auramu memancarkan sesuatu yang aneh..” Kali ini sahabat terbaikmu yang lain pun telah merasakannya. Yoochun hafal betul senyum indah hyungnya itu.

 

“Hm? Tapi aku benar-benar baik saat ini..” Lagi, kau merekahkan senyum itu. Pandanganmu kini teralihkan. Kau lebih memilih menikmati orang-orang yang sedang menari di bawah sana daripada menatap kedua pasang mata dari dongsaengmu yang terus saja menatapmu khawatir. Pub di Seoul memang selalu ramai. Termasuk pub yang sedang kau dan kedua dongsaengmu kunjungi kali ini. Sedikit keinginan untuk melupakan sejenak semua hal yang membuat kepalamu sakit dan terus berdenyut. Tentu, juga membuat hatimu terasa perih dan membuat dadamu seakan sesak seperti tak akan ada lagi udara segar yang akan mengisi paru-parumu. Namun, itu semua tidak terlalu berpengaruh. Segera kau ambil segelas vodka di meja dengan sedikit getaran di tanganmu. Kau meminumnya dengan cepat seakan semua hal yang membuatmu berat saat ini akan turut menguap dari dirimu seperti vodka yang telah habis dari gelasmu. Pandanganmu masih tertancap sedikit tajam ke arah dance floor itu, namun pikiranmu sudah tidak lagi berada di sana. Kau masih memikirkan semua itu. Kau masih memikirkan mereka. Kau masih memikirkannya.

 

“Cukup, Hyung” Junsu langsung menarik tanganmu yang sedari tadi menggenggam gelas panjang berisi vodka entah yang ke berapa. Junsu memang yakin dengan hatinya. Kau tentu tidak akan dengan mudah melupakan semuanya. Kunjungan mereka ke pub kali ini pun karena kemauanmu. Saat itu, Junsu berpikir mungkin kau ingin sedikit menenangkan dirimu. Namun, Junsu salah. Kau tidak bisa sejenak melupakannya. Terbukti dari tingkahmu yang terus saja meminum vodka dengan cepat dan banyak. Kau mulai terlihat gila.

 

“Aku masih ingin, Junsu. Berikan!” Kau sudah sedikit mabuk. Yea, kau memang peminum yang handal, tetapi keadaanmu yang sedari awal memang sedikit pucat tentu akan mengkhawatirkan Junsu dan Yoochun, bukan?

 

“Sebaiknya kita kembali, Hyung..” Yoochun segera mengambil kunci mobilnya di meja dan membantu Junsu untuk memapahmu yang sedikit memberontak. Apa salah jika kau ingin melupakannya? Kau hanya ingin berusaha melupakannya, bukan? Meskipun kau tahu betul jika kau memang tidak bisa melupakannya dengan mudah. Meski kau tahu semua ini sulit. Untuk dirinya sendiri. Ataupun untuk mereka semua. Kau terlalu lemah saat ini.

 

^^^^^^^^^^

 

“Lebih baik aku melihatmu menangis, Hyung” Yoochun memandang sedih dirimu yang sedang membaca komik di balkon apartemen. Menikmati sempurnanya lingkaran bulan malam ini. Perhatianmu berhasil teralihkan. Dari komik ke Yoochun yang sedang duduk di sampingmu dengan wajah yang khawatir. Kau hanya menatap dongsaengmu itu dengan heran. Kenapa kau harus menangis?

 

“Menangis?” Yoochun hanya menganggukan kepalanya berkali-kali dengan wajah yang masih khawatir dan dengan bibir yang dikerucutkan. Itu lucu.

 

“Hey, ada apa, Hyung?” Yoochun menatapmu heran kali ini. Tentu karena tawamu yang tiba-tiba meledak.

 

“Kau tau? Wajahmu sungguh menggemaskan..” Kau meletakkan komik itu di pangkuanmu dan mulai mencubit kedua pipi Yoochun. Terus begitu tanpa kau pedulikan tatapan meringis dari Yoochun.

 

“Appo, Hyung..” Rasa gemasmu belum hilang sebenarnya. Karena Yoochun makin membuat bibirnya bertambah maju. Dongsaengmu ini memang lucu. Namun, kau melepaskan kedua tanganmu dari pipinya ketika Yoochun mulai menatapmu khawatir. Lagi.

 

“Aku siap mendengarkan” Yoochun mulai mempersiapkan dirinya untuk sekedar mendengarkan kata-kata yang akan keluar dari bibirmu. Kau memang tidak pandai berbohong pada Yoochun ataupun Junsu, juga tidak pandai menyembunyikan dari mereka.

 

“Aku merindukan kalian semua” Kau memulai ceritamu dengan senyum. Namun, kau tidak menatap Yoochun. Pandanganmu terarah lembut kepada bulan yang sinarnya tak tertutupi apapun malam itu. Indah.

 

Helaan nafas panjang Yoochun sedikit terdengar olehmu. Kau tahu jika Yoochun berusaha lebih tegar daripada dirimu. Bukankah seharusnya kau yang lebih tegar? Kau memang terlihat tegar di luar sana. Dan tidak seperti itu di hadapan Yoochun ataupun Junsu. Kau masih saja menatap bulan. Dan kau pun masih merasakan tatapan Yoochun padamu. Tatapan lesu dan khawatir.

 

“Semua ini akan segera selesai, Hyung. Teruslah percaya bersama kami..” Bulan itu kini terhalangi sinarnya. Bukan karena awan ataupun sesuatu di langit sana. Karena sesuatu di matamu. Mengalir bebas turun ke pipimu. Kau memang menahan semua perasaanmu. Dan kau memang tidak seharusnya menutupi semua itu dari Junsu ataupun Yoochun. Mereka sudah bersama cukup lama, bukan? Seharusnya kau percaya kepada mereka berdua. Juga kepada mereka berdua di luar sana.

 

Yoochun tersenyum melihatmu yang mulai menangis. Akhirnya Yoochun melihat perasaanmu yang sebenarnya selama ini. Selama hampir 1 tahun terakhir kau memang menyembunyikan segalanya. Menyembunyikan semua perasaan di hatimu. Rasa kesal, sedih, ataupun tersakiti. Terlebih rasa rindu. Rasa rindu yang teramat kuat. Kau terpisah dari dua orang yang terlalu berharga di hidupmu. Terpisah cukup lama. Terpisah karena keputusan yang telah dibuat. Mata besarmu itu cukup membuat Junsu dan Yoochun tahu bagaimana sakitnya dirimu. Junsu dan Yoochun bahkan terkadang menangis karena perpisahan sementara ini. Tapi,, kau sama sekali tidak. Mungkin hanya saat itu. Saat bernyanyi di atas panggung. Ya. Tentu menyanyi dan panggung sangat memaksa pikiranmu untuk mengingat kenangan itu. Kenangan akan mereka berlima. Namun, setelahnya? Tidak. Sama sekali. Kau berusaha tegar sebagai yang tertua di antara mereka semua, bukan? Seharusnya kau percaya pada mereka semua yang menyayangimu. Mereka pasti akan membantumu melewati semua ini. Berhentilah kali ini menjadi seseorang yang paling kuat. Berhentilah. Lepaskan semua yang kau inginkan. Dan kau akan mendapatkan kekuatan baru, bukan? Kekuatan dari sekelilingmu. Dari mereka. Dongsaeng-dongsaengmu.

 

Junsu sedikit terkejut melihatmu. Kau masih terus menangis sambil menatap bulan malam itu. Tak jauh di sampingmu, Junsu melihat Yoochun yang tersenyum lega melihatmu. Junsu pun merasakan rasa kepuasan tersendiri di hatinya, ketika melihatmu juga melihat Yoochun di balkon. Junsu hanya memperhatikan mereka semua dari sofa ruang tamu yang tak jauh dari balkon apartemen. Junsu baru saja kembali dari kamarnya setelah mandi tadi. Dan dia mendapatkan pemandangan indah saat ini. Kau yang menangis sambil terus menatap sinar bulan malam itu adalah poin utamanya. Kedua dongsaengmu itu sangatlah lega melihatmu menangis. Melihatmu telah percaya kepada mereka berdua. Malam itu adalah malam yang indah, bukan?

 

^^^^^^^^^^

 

Setelah malam itu, kau memang sudah kembali menjadi dirimu yang mau terbuka dengan Junsu dan Yoochun. Kau tidak lagi menutupinya. Jika kau merasa tidak kuat, maka kau akan segera mencari Junsu ataupun Yoochun untuk bercerita. Begitupun Yoochun dan Junsu. Mereka memang bertambah dekat lagi karena semua ini. Karena masalah ini. Meskipun mereka masih saja menutupi semua kerapuhan mereka di luar sana. Mereka benar-benar tidak ingin merepotkan.

 

“Junsu-ah..” Yoochun menghampiri Junsu yang sedang sibuk dengan ponselnya. Segera Yoochun duduk di samping Junsu. Di sofa apartemen mereka. Kali ini kau sedang tidak di rumah. Kau memang sudah berencana untuk pergi membeli kebutuhan sehari-hari untukmu juga untuk Yoochun dan Junsu. Junsu masih saja menatap layar ponselnya juga menekan beberapa tombol di sana. Tak mengacuhkan atau mungkin tak mendengar panggilan Yoochun?

 

“Junsu-ah..” Yoochun memanggil Junsu lagi sambil sedikit menepuk pundaknya. Junsu menoleh. Sepertinya tadi Junsu tak mendengar panggilan Yoochun. Terlalu sibuk dengan ponselnya. Apa Junho menghubunginya?

 

“Mwoya?” Wajah Junsu menyiratkan rasa kebingungan sepertinya. Yoochun jadi sedikit ragu untuk bertanya padanya. Namun, dia tidak mungkin menyelesaikan masalah ini sendiri. Dia harus menyelesaikannya bersama Junsu. Yoochun menghela nafas sebelum bertanya pada Junsu. Dia sedikit bingung menyelesaikan masalah ini.

 

“Tentu kau ingat. Jaejoong hyung akan berulang tahun sebentar lagi..”

 

“Aku memang sedang berusaha menghubunginya..” Jawaban Junsu membuat Yoochun heran. Menghubungi? Siapa yang akan dihubungi Junsu? Apakah—

 

“Eee—e.. Siapa yang akan kau hubungi?” Yoochun bertanya dengan nada sedikit ragu. Jika benar pemikirannya, maka Junsu adalah seseorang yang sangat nekat. Lagipula, sepertinya mereka mengganti nomor ponsel mereka.

 

“Huh? Kau ini. Tentu saja aku akan menghubungi Bakery Shop di tengah kota Seoul itu. Jaejoong hyung sangat menyukai cake di sana, bukan? Kau melupakannya ya?” Mwo?? Aish, dasar Kim Junsu. Anak ini tentu sangatlah berhasil membuat Yoochun menatap heran padanya. Junsu benar-benar membuat Yoochun panik tadi dan sekarang Junsu malah membuatnya melongo menatapnya yang masih mencoba menghubungi Bakery Shop itu.

 

“Ahh~ Lalu sebaiknya kita memesan apa?” Yoochun sudah berusaha melupakan kejadian tadi. Junsu memang tidak berubah. Selalu berhasil membuatnya ataupun membuat semua anggota terheran-heran dengan jalan pikirannya. Aish, dia jadi merasakan perasaan rindu. Rindu akan kebersamaan mereka berlima. Padahal sebentar lagi anggota tertua akan berulang tahun. Yoochun sudah mulai merasakan sesak di dadanya.

 

“Molla~ Yang selalu hafal perubahan selera Jaejoong hyung itu Yunho hyung, bukan? Aku jadi bingung akan memesan apa untuk Jaejoong hyung nanti..” Perubahan suara Junsu sangatlah terasa. Suara dan wajahnya serempak menunjukkan rasa kerinduan. Rasa sesak di dada Yoochun mulai terasa lagi. Jangan sampai dia menangis. Dia harus memikirkan cara untuk membuatmu senang di hari bahagiamu. Yoochun tidak ingin mengecewakanmu.

 

“Berarti sekarang itulah tugas kita, bukan?” Yoochun harus lebih kuat lagi.Sudah terlalu lama baginya untuk bersedih. Kau sebagai yang tertua telah mampu tampak tegar. Sebaiknya Yoochun memang harus belajar mengikutimu.

 

“Hm.. Kau pintar, Chunnie. Ayo kita selidiki!”

 

^^^^^^^^^^

 

Apakah kau salah melihat? Ini musim dingin, bukan? Tapi, kenapa ada sekeranjang bunga Sweet Pea disini? Kau terus saja terdiam di depan pintu apartemen. Menatap sekeranjang bunga Sweet Pea yang tampak cantik dan segar itu. Keranjangnya pun diselimuti dengan beberapa untaian pita-pita berwarna senada. Untuk siapa? Apakah salah kirim?

 

Sungguh sangat beruntung si penerima sekeranjang Sweet Pea ini. Bagaimana tidak? Bunga Sweet Pea tampak sangat cantik dan segar di musim dingin seperti ini? Dan dalam jumlah yang banyak. Bunga ini hanya akan mekar di musim semi. Kau tahu betul mengenai bunga cantik ini. Tentu. Karena kau adalah salah satu penggemarnya.  Kau pun akhirnya tergerak untuk mencari sesuatu disana. Mungkin saja kau akan menemukan identitas pengiriman bunga ini. Dan dengan perlahan kau sedikit menyingkapkan beberapa tangkai bunga yang telah tersusun indah disana. Nihil. Tak menemukan apapun. Dan kau pun mengambil sekeranjang bunga itu untuk dibawa masuk setelah kau memastikan jika di sekeliling apartemen telah aman. Kenapa kau jadi tampak seperti pencuri?

 

“Hyung..” Kau hampir saja menjatuhkan sekeranjang bunga itu. Kau tersentak mendengar panggilan dari Yoochun. Aish. Kau memang jadi tampak seperti pencuri.

 

“Mwoya?”

 

“Itu dari siapa?” Yoochun mulai menghampirimu yang masih berada di ambang pintu. Yoochun sebenarnya sudah memperhatikan tingkahmu dari sejak kau menutup pintu dengan perlahan. Kau tiba-tiba bertingkah sedikit aneh. Hingga Yoochun memutuskan untuk memanggilmu.

 

“Hm.. Aku tidak tau..”

 

“Huh? Lalu, kenapa kau ambil?”

 

“Karena ini ada di depan pintu kita..”

 

“Apa tak ada secarik kertas atau apapun di dalamnya?”

 

“Tidak.. Sudahlah, mungkin saja ini dari penggemar, bukan?” Kau langsung berlari tanpa memedulikan Yoochun yang masih menatapmu sedikit heran. Hatimu sungguh senang. Siapa pun pemberi bunga ini, kau yakin jika ia adalah orang yang sangat baik. Senyum manismu terus terlukiskan hari itu.

 

^^^^^^^^^^

 

Apa ini? Lagi, kau menemukan sesuatu di depan pintu apartemen. Namun, bukanlah sekeranjang bunga. Boneka beruang coklat dengan ukuran mini tersenyum di sana. Sambil tangannya memegang sebuah permen lollipop. Rasa penasaran mulai mengusikmu. Apa ini pemberian penggemar juga? Dan lagi, kau tak menemukan apapun di sekitar beruang lucu itu. Kertas ataupun sesuatu sebagai petunjuk pengiriman. Namun, kau tidak lagi mengacuhkan hal itu. Kau mengambilnya dan membawa masuk beruang itu. Meskipun itu bukan untuknya ataupun bukan untuk Yoochun dan Junsu. Kau hanya berpikir untuk segera melindunginya. Tidak tega meninggalkan beruang mungil itu di depan sana.

 

Kau meletakkan beruang mungil itu di sebelah bunga yang kemarin bernasib sama seperti beruang itu. Kau temukan di depan pintu apartemen tanpa kau tahu apapun tentangnya. Senyummu terpancarkan ketika melihatnya. Siapa pengirimnya? Dan untuk siapa? Untukmu atau untuk kedua dongsaengmu? Atau mungkin salah kirim? Entahlah. Yang kau ingat hanyalah senyummu yang ingin mekar sekarang.

 

^^^^^^^^^^

 

“Dari siapa ini?” Junsu merasa janggal pada benda yang ada di atas meja. Meja di ruang santai tepatnya.

 

“Hn. Dari siapa, Hyung?” Yoochun yang memang saat itu sempat memergokimu seakan memperjelas pertanyaan Junsu. Agar lebih mengarah kepadamu.

 

“Aku tidak tau..” Ucapmu santai masih dengan mencuci piring. Junsu menatap Yoochun sedikit heran. Segeralah mereka menghampirimu di dapur. Membutuhkan penjelasan lebih.

 

“Apa dari penggemar?” Junsu langsung menarik kursi di sekitar sana masih dengan menatapmu yang tampak tidak terusik dengan tatapan mereka. Begitu pun Yoochun yang duduk di samping Junsu.

 

“Mungkin..”

 

“Aish. Kalau kau tidak mengetahuinya, kenapa malah kau bawa masuk?” Yoochun tampak sedikit tidak sabar. Apa mereka memiliki penggemar yang sedikit aneh?

 

“Karena benda itu ada di depan apartemen kita..” Kau masih saja tampak tenang. Padahal kedua dongsaengmu sedikit menaruh rasa kecurigaan pada benda itu.

 

“Kau yakin tak menemukan apapun di sekitar benda-benda itu, Hyung?” Junsu mulai penasaran sekarang. Karena Junsu memang tidak merasa jika benda-benda itu ditujukan untuknya.

 

“Tidak, Junsu-ah. Atau mungkin benda-benda itu untuk seseorang di antara kalian” Kau telah selesai mencuci piring sekarang. Kau segera membersihkan kedua tanganmu dan duduk di samping Junsu.

 

“Aku yakin jika benda-benda itu bukanlah untukku..” Junsu langsung mematahkan pendapatmu.

 

“Begitu pun denganku..” Yoochun mulai menatapmu dan Junsu yakin. Kau hanya tersenyum melihat wajah penasaran mereka. Lucu.

 

“Karena benda-benda itu ada di depan apartemen kita, mungkin saja itu untuk kita, bukan? Tak ada salahnya untuk disimpan. Lagipula aku suka. Sangat menyukainya..” Senyum indahmu terpancarkan bebas. Sesungguhnya kau memang berharap jika hadiah-hadiah itu untukmu. Kau adalah penggemar bunga Sweat Pea. Kau pun tidak membenci boneka beruang. Junsu dan Yoochun belum menyadari mengenai perubahan senyummu. Senyum tulusmu kini telah terpancarkan. Karena hadiah itu. Hadiah yang tidak jelas asalnya.

 

^^^^^^^^^^

 

“Kau sangat cantik.” Suara lembut itu membuatmu harus menoleh. Hey, siapa? Gadis mungil dengan permen besar juga balon tengah memandangmu. Dia sangat manis. Lalu kau tampak mencari-cari seseorang. Bersama siapa gadis ini? Saat ini, kau sedang berada di halaman salah satu gedung pemancar pesawat televisi. Baru saja kau menyelesaikan salah satu jadwal pekerjaanmu bersama Yoochun dan Junsu. Tentu aneh jika kau menemukan seorang gadis mungil yang sendirian di sekitar sini.

 

“Nuguseyo? Di mana orang tuamu?”  Tak berhasil menemukan seseorang yang mungkin saja adalah pendamping gadis ini, kau pun berjongkok di hadapannya. Gadis itu tampak asik dengan permennya. Terus dijilatinya hingga sedikit air liurnya menetes di dagunya. Gadis ini mengingatkanmu pada dirimu sendiri. Kau pun selalu bersemangat jika sudah mengulum permen. Entah permen Lollipop ataupun permen bentuk lainnya. Kau sangat menyukai permen.

 

“Ini untukmu.” Gadis itu mulai berbicara lagi padamu setelah kau menunggunya selesai mengulum permen lollipop besarnya. Gadis ini memang tak menjawab pertanyaanmu. Gadis mungil ini malah menyodorkanmu balon besar berwarna merah yang sejak tadi digenggamnya. Untukmu?

 

“Untukku?” Tanyamu sambil menunjuk dirimu sendiri. Dan gadis itu hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali masih dengan mengulum permen. Lucunya.

 

“Dari siapa?” Pertanyaanmu terabaikan. Setelah kau mengambil balon itu, gadis mungil yang manis tadi langsung berlari menjauhimu. Hey, apa ini? Kejutankah? Tadi pagi di saat dirimu, Yoochun dan Junsu keluar dari apartemen untuk beberapa pekerjaan memang membuatmu sedikit heran. Pasalnya, kau tidak lagi menemukan sesuatu di depan pintu apartemen. Padahal lusa dan kemarin secara berturut-turut, ada saja sesuatu di sana. Dan rasa heran itu seakan terjawab dengan kejutan yang diterimamu saat ini. Apa balon ini memiliki suatu hubungan dengan sekeranjang bunga dan beruang mungil di apartemen? Apa sebenarnya semua kejutan ini untukmu? Kau masih harus mencari tahu tentang semua ini.

 

Pandanganmu teralihkan. Sejak tadi kau terus saja menatap ke arah perginya gadis tadi dan sekarang pandanganmu terarahkan pada pemberat balon yang masih kau genggam. Permen lollipop kesukaanmu terikat disana. Dengan rasa kesukaanmu pula, Strawberry. Senyummu terkembang lagi di wajah manismu. Ada keyakinan jika semua ini memang berhubungan. Tentu saja untukmu.

 

^^^^^^^^^^

 

Hari ini mereka masih saja sibuk. Jadwal pekerjaan mereka hari ini memang sudah dijelaskan oleh manager. Namun, Junsu dan Yoochun tidak mau melewatkan hari ini begitu saja. Hari ini adalah hari yang istimewa. Kau berulang tahun. Dan tentu saja, Junsu dan Yoochun tidak ingin mengecewakanmu. Pagi-pagi benar, Junsu dan Yoochun sudah terbangun untuk menyiapkan pesta kejutan kecil untukmu. Tentu kau masih terlelap saat itu. Yoochun sudah menemukan kue yang sedang kau inginkan. Kue vanilla dengan banyak permen di sekitarnya. Junsu pun langsung setuju dengan kue pilihan Yoochun. Dan kue itu sudah berada di tangan Junsu sekarang. Lilin dengan bentuk angka ‘27’ menyala dengan cantik di atasnya. Dengan sedikit mengendap Junsu dan Yoochun memasuki kamarmu. Kau masih terselimuti mimpi. Dengan sedikit gerakan, Yoochun membangunkanmu.

 

Matamu tentu masih terasa berat. Ada apa ini? Kau lebih memilih menatap layar ponselmu untuk sekedar mengetahui pukul berapa saat ini. 04.13 tertera di sana. Ini sungguh masih sangat pagi, bukan? Namun, kau sudah cukup tidak tahan dengan goyangan lembut di tubuhmu. Segera kau bangun dan memaksa matamu untuk terbuka saat itu juga.

 

“Saengil chukha hamnida..” Sesuatu yang bercahaya di gelapnya kamarmu memaksa kedua matamu untuk terbuka. Dan pandanganmu langsung terarah pada lilin yang membentuk angka itu. Hey, hari ini ulang tahunmu, bukan? Kenapa kau melupakannya?

 

“Sepagi ini?” Dengan suara yang masih parau kau bertanya pada kedua dongsaeng yang sangat kau cintai itu. Sedang mereka hanya tersenyum manis padamu.

 

“Jadwal kita sangat padat hari ini, Hyung..” Yoochun menyahut. Dan Junsu hanya mengangguk. Kau tersenyum. Sungguh bahagia memiliki mereka. Kau saja melupakan hari ini, padahal mereka berdua mengingatnya. Apakah mereka berdua di sana mengingatnya juga?

 

“Jeongmal gomawo yo, Junsu-ah, Yoochun-ah..” Senyum ketulusan mengiringimu saat ini. Kau sungguh-sungguh sangat bahagia.

 

“Buat permohonan, Hyung. Lalu tiup lilinnya..” Ujar Junsu sambil mendekatkan kue yang sejak tadi di bawanya kepadamu.

 

Kau mulai menutup matamu dan mengucapkan permohonanmu. Kau sungguh-sungguh sangat ingin semua ini terselesaikan. Kau sungguh sangat ingin jika mereka kembali bersama. Tentu saja dalam kebahagiaan dan senyuman. Kembali menyampaikan perasaan mereka dalam sebuah harmoni yang indah. Kembali menyatukan suara mereka dalam symphoni yang dapat membuat semua orang tersenyum. Kembali tertawa bersama dengan luapan kebahagiaan yang hadir dalam hidup mereka. Juga kembali menangis bersama karena badai yang mengharuskan untuk lewat dalam jalan hidup mereka. Kau ingin kembali bersama mereka. Berlima dalam kebahagiaan.

 

Junsu sudah meneteskan air matanya sejak tadi. Begitupun dengan Yoochun. Kaulah yang membuat mereka menangis. Permohonanmu memang tak diketahui oleh Junsu ataupun Yoochun, namun, air matamulah yang seakan membongkar permohonanmu. Mereka tahu betul apa yang sedang kau mohonkan. Karena mereka pun menginginkan hal itu.

 

Masih dengan wajah yang basah, kau meniup lilin itu. Dan kau sedikit terkejut melihat Junsu dan Yoochun yang menangis. Sepertinya permohonanmu telah diketahui mereka. “Aku sudah memohonkan hal yang kita inginkan.”

 

“Aku merindukan mereka, Hyung. Aku sungguh sangat ingin seperti dulu.” Yoochun langsung memelukmu dengan wajah yang telah penuh dengan air mata. Setelah meletakkan kuemu di meja, Junsu pun memelukmu juga Yoochun. Atmosfir kerinduan menyesakkan kamarmu saat ini.

 

“Kita berlima akan segera bertemu dan kembali seperti semula.”

 

^^^^^^^^^^

 

Hatimu masih berharap. Meskipun ribuan ucapan selamat telah kau dapat. Masih saja terasa kurang. Jujur, kau ingin mendapatkan ucapan selamat dari dua orang yang berharga di sana. Namun, kau memang sudah mengetahuinya sejak awal. Itu tidak mungkin.

 

Sesuatu yang melayang berhasil menghamburkan pikiranmu yang sejak tadi duduk di kursi. Kau memang sedang bersantai di balkon apartemen. Dan lamunanmu harus terhapuskan karena sesuatu itu. Itu helikopter mainan, bukan? Merasa penasaran kau pun mendekatinya. Ada sesuatu di sana. Sebuah pesan. Setelah kau berhasil membaca pesan yang memang tergantung di helikopter itu, kau segera berlari keluar dari apartemen dan mengikuti perginya helikopter itu. Kau terus berlari tanpa memedulikan tubuhmu yang belum memakai jaket. Padahal saat ini sedang musim dingin.

 

Apa itu? Apa pesan itu berhubungan dengan semua hadiah yang telah diterimamu? Ternyata kejutan-kejutan itu memang belum berakhir. Kau sungguh ingin tahu mengenai semua ini. Siapa pengirimnya? Apakah benar semua hadiah itu untukmu?

 

Tiba-tiba kau berhenti berlari. Tak kau pedulikan lagi helikopter itu. Pandanganmu telah tertancap pada seseorang di sana. Seseorang yang mengendalikan helikopter itu. Kini kau telah berada di taman kota. Tak jauh memang dari apartemen. Dan sungguh aneh jika dia berada di sana. Benarkah itu?

 

“Hai..” Suara lembutnya berhasil membuatmu terpaku. Itu dia. Itu benar dirinya. Namun, kau masih saja membatu di tempatmu. Dengan senyum indahnya, pria tampan itu menghampirimu dan langsung saja menarikmu dalam pelukan hangatnya. Ini kehangatannya. Ini benar Jung Yunho.

 

“Ini musim dingin, Joongie. Kemana mantelmu?” Kau langsung menangis sekeras-kerasnya. Kau merindukan pria ini. Sungguh sangat merindukannya. Yunho tersenyum sambil terus mengusap kepalamu yang sudah tenggelam di dadanya. Yunho pun sangat merindukanmu.

 

“Jeongmal bogoshipo..” Hanya seperti bisikan kau mengatakannya. Namun, Yunho dapat mendengarnya. Yunho hanya terus tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. “Jeongmal nado bogoshipo..”

 

“Hyung, saengil chukae..” Suara ini tentu tidak akan pernah dilupakan olehmu. Kau masih sangat hafal. Segera kau berbalik dan kau menemukan senyum manis Changmin di sana. Tanpa keraguan kau langsung memeluknya. Changmin pun dengan senang hati membalas pelukan hangatmu. “Jeongmal bogoshipo, Minnie-ah..” Changmin hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya berkali-kali. Dan air matanya pun telah mengalir. Changmin juga sangat-sangat merindukanmu.

 

“Saengil Chukha Hamnida!!” Pita-pita telah berjatuhan. Kau terkejut. Kau pun melepaskan pelukanmu pada Changmin. Di hadapanmu kini juga telah ada Junsu dan Yoochun. Keempat dongsaengmu itu kini tengah tersenyum sambil menghamburkan beberapa untaian pita-pita indah ke arahmu. Mereka berlima kini bertemu. Benarkah ini? Melihat semua ini, benar-benar membuatmu merasa sangat behagia. Tuhan mendengar permohonanmu. Salah satu permohonanmu terkabulkan. Lagi. Kau menangis sekencang yang kau bisa. Rasa sesak akan kerinduan telah meluap-luap di dadamu. Mereka semua berkumpul di hari istimewamu.

 

“Uljima, Joongie..” Pria tampan yang selalu saja membuat dirimu seakan penuh karenanya kembali menarikmu dalam pelukannya. Yunho pun mengusap lembut kepalamu. Dan kau masih saja terus menangis. Melihat pemandangan indah itu, Junsu, Changmin, dan Yoochun pun menghambur ke arah kalian. Kalian berlima berpelukan erat di senja yang indah itu. Angin musim dingin yang selalu berhasil membuat tubuh bergidik, kali ini harus mengalah. Karena kehangatan telah menyelimuti kalian berlima. Suara tangisan sangat terdengar. Hanya sang pemimpin yang sejak tadi tersenyum indah. Yunho memang sangat tegar.

 

Kerinduan kalian sedikit demi sedikit telah menguap. Meskipun kalian tahu betul jika kebersamaan kalian belum dapat kembali seperti sedia kala. Masih banyak masalah yang harus kalian lalui terlebih dahulu. Namun, kalian kini telah mendapatkan kekuatan baru. Kekuatan baru yang akan memberi kalian keberanian untuk mewujudkan kebersamaan kalian lagi. Kalian akan segera bersama.

 

^^^^^^^^^^

 

“Jadi, semua itu untukku?” Kini mereka semua telah duduk di sofa. Di apartemenmu, Yoochun dan Junsu tepatnya. Dengan senyum yang terus saja terpancar dari setiap wajah tampan pria-pria di sana. Seperti tidak ingin melewatkan kesempatan, kau terus saja bermanja dengan pria tampan yang merupakan pujaan hatimu itu. Tentu saja Yunho tak keberatan.

 

“Hm.. Kau suka?” Yunholah si pengirim rahasia itu. Yunho memang ingin membuat kejutan untuk kekasih hatinya ini.

 

“Sangaaaat suka..” Kau tersenyum sangat lebar sambil menenggelamkan kepalamu di dada bidang Yunho. Junsu, Yoochun, dan Changmin pun turut merasakan kebahagiaan pasangan itu. Mereka masih saja tersenyum sambil memandangi tingkah manjamu pada Yunho.

 

Hari itu, mereka semua saling melepaskan rasa rindu. Karena mereka semua tahu jika keadaan belum kembali baik sepenuhnya. Mereka kembali seperti dulu. Mereka bercanda bersama. Mereka pun tertawa bersama. Bahkan mereka saling berkejaran. Hingga akhirnya mereka menangis bersama. Tak apa, karena pertemuan ini benar-benar memberikan kekuatan tersendiri bagi mereka. Kekuatan inilah yang akan mereka kenang. Kekuatan ini pula yang akan selalu memberikan mereka keberanian juga kepercayaan. Meski waktu belum mengizinkan mereka untuk kembali bersama. Tetapi, bukan berarti waktu tidak memberikan mereka kesempatan, bukan? Perjuangan mereka akan segera berbuah manis. Mereka pasti akan segera bersama kembali. Percayalah. Percayalah bersama mereka.

 

=END=

 

Saengil Chukae Ummaaaaaaaa (>o<)/

Wish u always healthy and happy :***

 

we still waiting for uri 5 namja! Cassiopeia always waiting cause we love u forever ♥♥♥

Always Keep The Faith!

CASSIEASTVXQ JJANG!

YUNJAE JJANG!

First ♥

Helaan napas panjang belum terasa cukup untuk mewakili kesedihan ini. Getaran pelan dan teratur masih terasa di dada. Perlahan namun pasti, air mata ini mulai menetes. Rasanya sakit.

Apa rasa ini memang sebaiknya tidak terbalas? Atau apa sebenarnya? Aku tidak mau menanggung rasa sakitnya. Meski sejak semula aku sadar jika aku pasti akan menangis. Dan tentu saja aku harus merasakan rasa sesak ini memenuhiku. Membuatku tak kuasa untuk menahan air mata. Air mataku yang ingin sekali mengumumkan pada dunia jika aku sedang bersedih. Dan kecewa.

Rasa yang baru pertama kali aku rasakan harus tandas dan lenyap. Rasa ini tidak ingin beranjak. Namun, rasa ini harus pergi. Meski aku tidak ingin. Meski rasanya sakit.

Dan, akhirnya aku tidak akan memiliki senyuman itu. Aku tidak akan memiliki tatapan itu. Aku tidak akan memilikimu.

Relakah aku? Melepas semua kesenangan ini? Melepas rasa nyaman ini? Kau pasti tidak akan tahu, betapa menyenangkannya menatapmu. Betapa bahagianya ketika memperhatikanmu. Sungguh membuatku menjadi sangat lebih baik. Meskipun itu hanya dari jauh.

Dan, sekarang aku harus melupakannya. Melupakan segalanya. Rasa ini, kesenangan ini, kenyamanan ini, dan juga dirimu.

Berkali- kali aku menghela napas, sekedar untuk melepas sedikit kesedihan ini. Namun, nyatanya aku makin menyukaimu. Nyatanya aku semakin ingin memilikimu.

Bolehkah aku berharap? Bolehkah aku merasakannya lagi? Bolehkah?

Karena aku memang tidak ingin rasa ini meninggalkanku.

By Revi JaeJoong
For Someone who always make me happy and beating >.<

My Letter For U

Kau pasti sadar jika kau dicintai banyak orang. Digilai banyak orang. Aku salah satunya. Aku tak tahu pasti, mengapa aku bisa jatuh terlalu jauh ke dalammu. Yang aku ingat saat ini hanyalah aku yang sangat sangat mencintaimu. Aku sangat yakin jika kau sama sekali tak mengetahuiku. Tentu. Di antara banyak orang, aku hanyalah seorang gadis yang tak mungkin bisa meraihmu. Bahkan ketika kau sudah sedikit lebih dekat pun aku masih tak bisa menggapaimu. Cara apa yang harus aku gunakan? Aku sangat sangat menggilaimu, sekalipun aku belum pernah bertemu denganmu. Sama sekali. Dan ini bukanlah hal aneh. Rasa cintaku padamu tumbuh bukan tanpa sebab. Tanpa sepengetahuanmu, aku sudah menjadi seorang stalker. Seorang stalker yang mengikutimu dari jauh. Sangat jauh.

Pertama kali aku melihat wajahmu, aku merasa sangat tenang. Wajahmu sungguh indah. Sebuah pahatan menakjubkan dari Allah SWT. Yang Maha Kuasa. Senyummu pun langsung merobohkan hatiku. Begitu manis dan bersinar. Subhanallah. Sungguh, aku tertarik padamu. Dan ketika aku mendengar suaramu, sungguh sungguh membuat seluruh diriku melayang. Suaramu begitu lembut. Lagi-lagi aku berucap Subhanallah. Sejak itulah aku mulai menyukaimu. Dan aku sangat menikmatinya. Begitu seterusnya seiring dengan rasa cintaku yang terus tumbuh padamu.

Aku sangat sadar jika kau bukan milikku. Kau tidak akan pernah menjadi milikku. Kau terlalu berharga untuk menjadi milikku. Kau terlalu berarti untuk menjadi seseorang yang dekat denganku. Tapi semua perasaan ini tidak bisa ku hentikan. Aku mencintaimu. Dan perasaan ini tidak akan pernah ku izinkan untuk pergi dari hatiku. Aku tidak akan pernah berhenti untuk mencintaimu. Walaupun kau tidak pernah sekali pun melihat perasaanku padamu. Tidak akan pernah.

Terima kasih banyak. Kau telah membuatku merasakan perasaan ‘cinta’ yang memang sebelumnya belum pernah kurasakan. Kaulah yang pertama mengajarkan aku rasanya ‘mencintai’ seseorang. Meski aku yakin jika kau tidak sadar akan hal itu.

Gomawo yo.

Entah apa yang akan terjadi pada perasaanku ini. Hanya Allah yang tahu. Aku hanya akan tetap berusaha untuk menjaganya. Karena aku mencintaimu.

By Revi JaeJoong

For my beloved Umma and Husband, Kim JaeJoong


Kim JaeJoong!

He is Kim JaeJoong

and he is My Handsome and Beautiful Husband!!

kyaaaaaaaaaaaaa >///<

This slideshow requires JavaScript.


FF / YUNJAE(YAOI) / MY RED YARN / PART 5

Title                       : MY RED YARN

Part                        : 5/?

Rating                   : PG+15 (YAOI)

Cast                       : Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Junsu, Park Yoochun, Shim Changmin, Kim Hyunjae, and other cast will appear

Author                  : Revi Junsu aka Han Hyesu aka Junsu’s Eternal Wife ^^


A/N        : Cerita ini aku buat sendiri tanpa memplagiat cerita manapun dan yang jelas ini cuma CERITA FIKTIF belaka.


douzo^^

^^^^^^^^


Seorang laki-laki di umurnya yang 15 tahun belum pernah merasakan cinta, mungkin terdengar aneh. Tapi, sepertinya aku pun begitu. Dan semua yang terasa saat ini pun sedikit lebih belum kupahami. Hanya terasa sakit atau mungkin sesak. Apa seperti ini salah satu rasa yang dapat diberikan cinta? Apa ini cinta? Terdengar aneh jika aku berhipotesis seperti ini. Aku mulai menyukai Jung songsaenim. Aneh. Pertama, kami berdua laki-laki (meski ikatan jodoh antara Junsu dan Yoochun sunbae sudah membuktikan hubungan aneh ini). Kedua, Jung songsaenim adalah guruku (sebenarnya semua perbedaan dalam suatu hubungan pasti akan terlupakan dan melebur karena telah dipersatukan). Dan yang paling penting, aku sama sekali belum mengenalnya (seperti yang sering ada dalam drama-drama atau film, cinta pandangan pertama. Mereka tentu belum saling mengenal dan karena cinta yang sudah mulai tumbuh di hatinya, seseorang itu mulai berusaha mengenal seseorang yang dicintainya hingga akhirnya mereka saling mengenal. Masalah ini tak bisa dihitung). Aish. Apa-apaan ini? Kenapa aku selalu mendapatkan fakta dari semua hal yang aneh antara aku dan Jung songsaenim? Dan semua hal aneh itu terlihat menjadi lebih baik. Aish. Jadi—ini semua cinta? Jadi aku harus memperjuangkannya? Meski ada beberapa hal yang menurutku aneh? Sejujurnya, aku ingin sekali mengetahui hubungan yang mungkin antara aku dan Jung songsaenim. Kenapa kami berdua sama-sama tidak memiliki benang merah? Entahlah. Untuk saat ini aku hanya ingin membuktikan hipotesisku saja. Ada suatu hubungan antara aku dan Jung songsaenim. Lalu bagaimana dengan gadis itu? Jika memang dia kekasih Jung songsaenim, apa yang harus kulakukan? Kurasa gadis itu pun harus ku selidiki. Besok aku akan berusaha keras.

^^^^^^^^^^

Setelah berpikir keras semalam di meja belajarnya, Jaejoong terlihat sedikit segar. Dia memang sudah bertekad untuk menyelidiki suatu hubungan yang mungkin antara dirinya dan Yunho. Juga hubungan antara Yunho dan gadis itu. Meski kenyataan yang mungkin terjadi nantinya akan menghalangi Jaejoong untuk mengungkapkan hipotesisnya tentang suatu hubungan antara dirinya dan Yunho. Tetapi, Jaejoong tetap ingin berusaha dulu. Ini demi dirinya, bukan? Atau demi cintanya?

“Joongie, telurnya gosong.” Seakan tersadar dari lamunannya, Jaejoong segera mematikan kompor. Dia benar-benar lupa jika saat ini dia sedang memasak sarapan untuk Hyunjae hyung juga untuk dirinya sendiri. Aish. Benang merahnya benar-benar mengalihkan perhatiannya.

“Mian, Hyung.”

“Hey! Kau ini kenapa? Hanya soal telur yang gosong dan wajahmu benar-benar merasa bersalah seperti ini. Apa Joongie sedang memikirkan sesuatu?” Hyunjae mulai mengelus kepala Jaejoong lembut. Dan Jaejoong merasa sangat nyaman. Hyunjae tidak berubah. Kebiasaannya itu selalu saja ia lakukan ketika Jaejoong sedang merasa kesal atau tidak senang. Dan Jaejoong selalu suka itu.

“Hanya masalah kecil, Hyung.” Jaejoong segera berbalik dan kembali meneruskan kegiatan sebelumnya di dapur. Kenapa tiba-tiba ia merasa sangat sedih? Apa karena benang merahnya yang tidak ada? Tapi Yunho juga tidak memilikinya dan Jaejoong baru saja akan menyelidiki kebenaran yang mungkin terjadi di antara mereka, bukan? Seharusnya Jaejoong bersemangat. Sepertinya memang bukan itu yang membuat Jaejoong merasa sedih. Kenyataan di depan perpustakaan kemarin adalah kenyataan yang sudah berulang kali membuat beberapa tempat di dadanya sakit. Senyum tulus dan indah milik Yunho bukan untuknya. Gadis manis yang berjalan beriringan dengannya sangatlah manis dan serasi dengannya. Ini cinta dan ini sakit.

^^^^^^^^^^

“Ini hari Sabtu, Hyung.” Changmin mengalihkan pandangannya dari laptop putihnya ke arah dongsaeng manisnya yang masih sibuk merapikan buku-buku di rak buku. Changmin juga tau jika hari ini adalah hari Sabtu. Sangat tau bahkan. Dan dongsaeng manisnya itu masih saja menggodanya dengan wajah polos. Aish.

“Lalu?” Pura-pura tak mengerti sepertinya adalah ide bagus yang saat itu terlintas di pikiran Changmin. Mengelak dari Jaejoong.

“Kenapa kau masih di sini?”

“Memangnya kenapa jika aku di sini? Apa aku mengganggu?”

“Kau tidak pergi ke suatu tempat?” Jaejoong mulai mengalihkan pandangannya ke arah Changmin yang masih menatapnya sedikit jengkel. Jaejoong tidak merasa jika pertanyaannya menyindir Changmin yang memang ‘sendiri’ saat ini. Jaejoong pasti berpikir jika Changmin memiliki seseorang yang spesial dan seharusnya dia tidak di sini bersama tumpukan-tumpukan buku juga sebuah laptop. Seharusnya Changmin pergi ke suatu tempat bersama seseorang yang spesial itu. Terutama hari ini adalah hari Sabtu. Aish. Changmin harus memberitahunya.

“Untuk apa? Berkencan maksudmu? Aku sendiri!” Dengan suara yang terus terang saja cukup kencang dan nada yang blak-blakan, Changmin langsung mengalihkan pandangannya ke laptop lagi setelah selesai mengatakan hal itu. Jaejoong hanya terdiam dan masih menatap Changmin yang wajahnya benar-benar kesal. Changmin hyung tidak memiliki kekasih?

“Kau bercanda, Hyung.” Jaejoong mulai duduk di sebelah Changmin yang masih saja tampak sibuk dengan laptopnya. Namun, Jaejoong yakin jika pikiran Changmin sudah tidak terfokus lagi ke sana. Changmin pasti memikirkan hal lain.

“YA! Kau mengejekku!” Dengan wajah kesalnya Changmin memukul bahu Jaejoong. Dongsaeng manisnya itu hanya menatapnya polos. Aish. Jaejoong benar-benar dapat menjadi monster yang menjengkelkan juga menggemaskan di saat yang bersamaan.

“Tapi, kau kan sangat tampan, Hyung. Kau juga pintar dan keren. Seharusnya banyak gadis yang tergila-gila padamu!”

“Itu kan pendapatmu.”

“Jadi, tidak ada gadis yang menyukaimu?”

“Aish. Bukan seperti itu. Hanya saja aku merasa jika mereka merepotkan untukku saat ini.”

“Um. Bukankah memiliki seorang kekasih itu keren, Hyung?”

“Tidak juga. Terkadang aku merasa jika mereka terlalu berisik dan mengganggu.”

“Mengajaknya berkencan, memberikannya hadiah, berciuman, woah! Itu pasti seru kan, Hyung?” Jaejoong benar-benar menggambarkan ekspresi kebahagiaannya. Sepertinya Jaejoong sangat ingin memiliki kekasih saat ini.

“Hey! Ada apa denganmu? Kau ingin memiliki seorang kekasih?”

“Um. Mungkin.” Kekasih? Selama ini Jaejoong memang tidak pernah sekalipun berpikir untuk memiliki kekasih.  Padahal banyak gadis yang menyukainya. Wajahnya yang tampan dan menarik merupakan faktor utama para gadis yang melihatnya langsung tertarik untuk mendekatinya. Yea, lagi-lagi benang merahnya yang belum bahkan tidak jelas adalah penyebab Jaejoong tidak pernah berpikir untuk memiliki seorang kekasih. Aish. Dia hanya akan menjadi pengganggu.

“Dan tentunya kau termasuk siswa populer, bukan? Tentu mudah untukmu mendapatkan kekasih.” Changmin senang sekali untuk menggoda dongsaeng manisnya itu. Dia mulai memasang senyum menggodanya. Dan Jaejoong tetap menatapnya polos. Aish. Changmin benar-benar gemas pada Jaejoong.

“Populer? Entahlah.”

“Wajahmu itu manis, Jae-ah. Pasti para siswi-siswi di sekolahmu tertarik padamu.”

“Hyung, kau tidak menyukaiku, kan?” Jaejooong mulai merasa ada yang aneh dari hyungnya yang satu itu. Kenapa Changmin selalu tersenyum menjijikan kepadanya? Merasa bahwa ini gawat, Jaejoong mulai menggeser posisi duduknya menjauhi Changmin. Sepertinya Changmin telah membuat Jaejoong salah paham terhadapnya.

“YA! Aku ini normal! Dan aku juga bukan pencinta anak di bawah umur!” Changmin mulai merasa jengkel lagi terhadap Jaejoong. Anak ini tidak bisa diajak bercanda! Changmin bahkan hanya menggodanya dan Jaejoong malah mengira jika Changmin menyukainya. Aish.

“Hehe, mian, Hyung.” Dengan wajahnya yang menggemaskan, Jaejoong tersenyum lucu ke arah Changmin. Tidak tahan lagi dengan keinginannya, Changmin langsung saja mencubit kedua pipi gembil Jaejoong. Dan Jaejoong hanya bisa berteriak kesakitan.

“YA! Bisakah kalian tenang?” Suara yang baru-baru ini berusaha untuk diingat oleh Jaejoong terdengar membentak Jaejoong dan Changmin yang tidak sengaja membuat sedikit kegaduhan di salah satu sudut perpustakaan. Benarkah?

“Ju—Jung song—songsaenim??” Jaejoong berusaha melepaskan cengkraman kedua tangan Changmin di pipinya dan segera melihat ke arah suara tadi berasal. Dan wajah tampan Jung songsaenim tampak di sana. Berdiri dengan sedikit menyandar pada rak buku sambil membawa satu buah buku tebal di sebelah tangannya sedangkan tangan lainnya bertumpu pada pinggangnya. Masih dengan jasnya yang hitam, Yunho memang selalu tampan ketika memakainya. Dan ada dua hal penting yang baru saja Jaejoong sadari. Dasi yang Yunho kenakan sudah kendur dan dua kancing teratas kemejanya sudah terbuka. Itu Sexy! Dan jangan lupakan kacamata berbingkai persegi hitam itu! Yunho sangat tampan juga sexy saat itu. Woah!

“Kau bekerja disini, bukan? Kenapa justru kau yang membuat keributan?” Tersadar dari lamunannya yang indah, Jaejoong segera berdiri dan menghampiri Yunho yang masih bersandar di sana.

“Mianhamnida. Mianhamnida, songsaenim.” Dengan sedikit gugup, Jaejoong membungkukkan tubuhnya berkali-kali di depan Yunho. Sesungguhnya, beberapa tempat di dadanya masih terasa sakit jika melihat Yunho. Kejadian itu terputar lagi di otaknya.

“Itu bukan sepenuhnya kesalahan Jaejoong. Saya juga bersalah. Mianhamnida.” Changmin tidak tega melihat Jaejoong. Ia pun bersalah sehingga Changmin pun turut membungkukkan tubuhnya di depan Yunho.

“Gwenchana. Aku hanya tidak suka jika waktu membacaku terganggu.” Yunho mulai menarik Jaejoong berdiri lagi. Dan Jaejoong langsung terpana begitu melihat senyuman Yunho yang ditujukan untuknya. Senyuman ini untukku? Benarkah?

“Sekali lagi, mianhamnida.” Ujar Changmin yang membungkukkan tubuhnya lagi. Bagaimanapun juga ini adalah kesalahannya. Dia yang membuat Jaejoong berteriak kesakitan tadi. Aish. Mau bagaimana lagi? Jaejoong memang benar-benar menggemaskan!

“Gwenchanayo?” Yunho mulai merasa heran. Bagaimana tidak? Sejak tadi, Jaejoong terus saja menatapnya. Kenapa anak manis ini terlihat seperti menyukaiku?

“Ah! Gwenchana. Gwenchana, Songsaenim.” Jaejoong hanya bisa tersenyum gugup melihat senyum Yunho yang tertuju lagi padanya. Rasa sakit yang sejak tadi terasa di dadanya mulai menghilang perlahan. Ada apa ini? Rasa sakit ini mulai lenyap ketika aku melihat senyum indahnya. Benarkah?

“Kau bekerja sampai selarut ini? Apa hyungmu tidak akan mencarimu?” Nada khawatir terasa di pertanyaan yang Yunho lontarkan untuk Jaejoong. Rasa sakit itu sepenuhnya hilang saat ini. Jaejoong memang menyukainya.

“Tenang saja, hyungnya tidak akan tau mengenai hal ini. Karena setiap hari Sabtu, hyungnya selalu berken—-“ Changmin hyung terlalu banyak omong! Begitulah pikir Jaejoong. Mereka berdua memang sudah saling mengenal satu sama lain. Seringnya Changmin datang ke perpustakaan memang membuat dirinya jadi mengenal Jaejoong lebih jauh begitupun Jaejoong. Dan hal seperti ini pun Changmin tau. Seingatnya Jaejoong pernah menceritakannya pada Changmin dan dengan bodohnya Changmin mengatakan hal itu pada Yunho yang adalah teman Hyunjae hyung. Maka itu, Jaejoong segera membungkam mulut Changmin dan melanjutkan ucapan Changmin dengan ucapan yang dapat menyelamatkan dirinya.

“E—ee-ee… itu.. Hyunjae hyung memang selalu pulang agak larut setiap hari Sabtu, jadi aku pun mengambil waktu tambahan bekerja di hari Sabtu.” Jaejoong memasang senyum anehnya ke arah Yunho. Dan tentu saja Changmin memberontak di dekapannya. Membuat Jaejoong kesulitan. Tubuhnya yang tidak seimbang dengan tubuh Changmin adalah faktor utamanya. Aish. Ingatkan Jaejoong untuk menambah porsi susunya!

“Aish, baiklah. Tapi kau tidak boleh pulang larut, arraseo? Kau ini masih siswaku! Omo! Apa yang sudah kupikirkan saat itu sehingga aku tidak melaporkanmu?? Aish, sudahlah. Ingat jangan pulang larut!” Jaejoong masih terus menatap Yunho hingga Yunho menghilang lagi di beberapa rak buku di hadapannya. Jung songsaenim mengkhawatirkannya. Benarkah? Jaejoong tidak percaya ini!

“Aish! YA Jaejoong-ah! Kau benar-benar tega padaku!” Changmin langsung saja mengeluarkan semua kata-kata yang sejak tadi dipendamnya karena Jaejoong membungkam mulutnya erat. Tapi ada apa dengan anak ini? Jaejoong tidak mengacuhkannya yang sudah berteriak sedikit kencang di sampingnya. Jaejoong masih saja menatap lurus ke depannya. Aish.

^^^^^^^^^^

“Kau kenapa?” Jaejoong lagi-lagi merasa ada yang aneh dari Junsu. Biasanya junsu adalah seseorang yang paling pertama keluar kelas bila bel pertanda sekolah usai berbunyi. Biasanya dia sangat bersemangat untuk mengikuti latihan di klubnya. Dan ada apa dengannya hari ini?

“Kau duluan saja. Kau harus melakukan urusanmu, bukan?” Junsu tersenyum ke arah Jaejoong masih sambil merapikan buku-bukunya. Senyumannya memang seperti biasa tapi tatapannya tidak seperti biasanya. Junsu masih terpukul sepertinya. Kecewa akan penolakan Yoochun.

“Aku akan di sini.” Jaejoong tetap duduk di kursinya. Dia memang berniat ke perpustakaan tadi. Bukan untuk bekerja tetapi untuk mendekati Yunho yang mungkin saja berada di sana. Namun, Jaejoong tidak mungkin meninggalkan Junsu yang sedang sedih, bukan? Mereka sudah berteman baik sejak dulu.

“Kenapa? Aku baik-baik saja.” Masih saja Junsu tersenyum. Padahal Jaejoong tau betul jika Junsu masih sedih karena kejadian waktu itu. Dan Junsu tidak bercerita secara rinci kepadanya. Aish. Menyebalkan!

“Sebaiknya kau keluarkan semua hal yang memenuhi pikiran dan hatimu sekarang juga! Di sini! Bersamaku! Dan aku tidak menerima penolakan!” Dengan nada memerintah, Jaejoong mulai mengeluarkan isi hatinya. Dia ingin dia berguna sebagai sahabat baik Junsu.

Junsu sangat tau watak pemaksa Jaejoong. Dan Junsu pun tau jika ia tidak bisa membohongi Jaejoong dengan semua usahanya untuk menutupi perasaan sebenarnya. Sebaiknya Junsu memang bercerita pada sahabat baiknya itu, bukan? “Arraseo”

“Aku mendengarkan!” Jaejoong mulai merubah posisi duduknya agar lebih merapat ke arah Junsu yang duduk di sebelahnya. Junsu tersenyum kecil melihat sahabatnya yang begitu antusias. Junsu memang seharusnya tidak boleh terlalu sedih. Dia masih memiliki banyak orang yang menyayanginya termasuk Jaejoong. Junsu sungguh beruntung memiliki sahabat sebaik Jaejoong.

“Mungkin, aku memang akan menjauhinya.”

“Karena dia menolakmu?”

“Penolakannya membuatku sakit. Entahlah. Tetapi ketika aku mengingat Yoochun sunbae, aku hanya akan mengingat rasa sakit itu. Jadi aku menghindarinya. Dan mungkin akan menjauhinya dan melupakannya.”

“Tapi kau mencintainya. Seharusnya kau tetap mengejarnya, Junsu-ah!”

“Kau tidak mengerti, Jae-ah. Dia tidak menyukaiku dan aku memang harus mundur. Meskipun ini sakit.”

“Bahkan dengan tidak mengikuti latihan klub? Kau sangat mencintai sepak bola, bukan?”

“Yoochun sunbaelah kaptennya dan tentu saja aku tidak bisa menghindarinya di sana.”

“YA Junsu-ah! Kau terpilih dalam pemain inti, bukan? Kau harus ikut latihan! Jika kau memang ingin melupakannya, kau tidak harus melupakan cita-citamu juga hanya karena dialah kaptennya! Kau ingin menjadi pemain sepak bola professional, bukan? Maka kau harus berhasil mulai dari sekarang, Junsu-ah!” Jaejoong tidak lagi dapat menahan rasa kesalnya. Jika Junsu ingin melupakan Yoochun, hal itu tidak boleh mempengaruhi keinginannya untuk menjadi seorang pemain sepak bola professional, bukan? Aish.

“Tapi, rasa sakit itu akan menyergapku lagi, Jae-ah. Rasa sakit itu akan memaksa aku untuk menangis lagi. Aku benar-benar tidak ingin menjadi lemah karenanya. Hanya itu saja. Aku laki-laki dan aku harus kuat. Mungkin untuk saat ini aku akan jadi kuat jika aku menjauhinya dan melupakannya. Karena.. karena.. aku tentu masih mencintainya.” Air mata Junsu mulai mengalir perlahan. Dan Jaejoong hanya bisa memeluk Junsu saat itu. Junsu menangis tersedu di dalam pelukannya. Melupakan seseorang yang sangat kau cintai memang bukanlah hal mudah. Ini memang terasa sakit. Ini sama. Ya, ini sama. Antara dirinya, Yunho, dan gadis itu pun begitu. Jaejoong tampak seperti harus melupakan Yunho, bukan?

“Aku mengerti.”

^^^^^^^^^^

“Kau harus siap, Jaejoong! ini adalah salah satu kesempatanmu. Dan kau tidak boleh melewatkannya! Kau harus tau lebih banyak tentangnya. Ini demi dirimu. Demi dirimu yang tidak memiliki benang pengikat jodoh. Ini demi masa depanmu. Ini adalah perjuangan!” Jaejoong masih saja memberi sugesti-sugesti pada dirinya sendiri di ruang ganti di perpustakaan. Ya. Hari ini adalah hari Sabtu dan Yunho selalu datang ke perpustakaan di hari Sabtu. Jaejoong berhasil mengetahui hal ini setelah mengintip kartu perpustakaan milik Yunho sewaktu Yunho datang ke perpustakaan minggu lalu. Dan Jaejoong merasa harus memberi sugesti-sugesti seperti itu kepada dirinya sendiri. Jaejoong ingin lebih mengenal Yunho lagi.

Dan Jaejoong pun keluar dari ruang ganti. Langsung menuju ke beberapa rak yang memang terlihat berantakan. Tentu saja Jaejoong tidak boleh melupakan pekerjaannya, bukan? Dia harus tetap bekerja. Dan tentu sambil mencari Yunho yang biasanya lebih memilih membaca di sela-sela rak buku yang cukup lebar. Namun, sudah hampir semua sela-sela rak buku Jaejoong lewati dan Jaejoong tetap tidak menemukan Yunho. Apa dia tidak datang hari ini? Pertanyaannya langsung terjawab begitu ia menangkap sosok seseorang yang sedang ia cari itu duduk di salah satu sofa perpustakaan. Tidak biasanya, Jung songsaenim duduk di di sofa? Pertanyaan Jaejoong yang satu itu terjawab lagi ketika Jaejoong menghampiri Yunho. Ada seseorang disana. Ya. Gadis manis yang waktu itu Jaejoong lihat. Sedang apa dia di sana? Tidak biasanya Jung songsaenim mengajaknya, bukan? Rasa sakit itu mulai menghantam lagi beberapa tempat di dadanya.

“Jaejoong-ah!” Baru saja Jaejoong ingin pergi dari sana, Yunho sudah terlebih dulu melihatnya dan memanggilnya. Aish. Sial! Jaejoong tidak ingin menerima kenyataan soal gadis itu. Ia takut jika ia akan merasakan rasa sakit lagi. Tetapi, bukankah ia memang harus tau mengenai gadis itu? Agar ia bisa membuktikan hipotesisnya, bukan? Aish, baiklah.

“Songsaenim. Ada apa?” Jaejoong sudah mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menghampiri mereka berdua yang sedang tampak asik berbincang. Mereka berdua duduk bersebrangan di sofa coklat yang berada di dekat jendela perpustakaan yang menampakkan keadaan di luar sana. Jalanan yang sudah basah juga terdapat beberapa genangan air di sekitarnya. Hey! Sejak kapan di luar sana hujan? Jaejoong tidak menyadarinya. Hujan masih saja turun dan juga terlihat beberapa orang berlarian untuk mencari tempat berteduh. Kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang pun sudah berkurang jumlahnya. Embun-embun yang tercipta di jendela-jendela besar perpustakaan membuat atmosfir semakin romantis. Aish. Menyebalkan.

“Duduk di sini.” Yunho menyuruhnya duduk di sebelahnya. Dan Jaejoong mulai menatap gadis di hadapannya yang sedang tersenyum ke arahnya. Gadis ini memang manis. Rambutnya bergelombang dan pendek. Pakaiannya yang feminim menambah kesan kecantikannya. Dan senyumnya pun sungguh manis dan menggemaskan. Aish. Kenapa gadis semanis ini yang menjadi sainganku? Begitu pikir Jaejoong. Saingan? Saingan apa?

“Aku ingin memperkenalkannya padamu. Hyesu-ah ini Kim Jaejoong, salah satu siswaku di Shinki Senior High School. Dan Jaejoong, ini Han Hyesu, kekasihku.” Tepat seperti dugaan Jaejoong, gadis manis ini memang kekasih Yunho. Aish. Jaejoong sedikit enggan untuk menjabat tangan Hyesu yang sudah terulur ke arahnya. Namun, Jaejoong tetap menjabat tangan Hyesu yang masih saja tersenyum manis ke arahnya. Hatinya mulai terasa sakit.

“Mannaseo bangapsumnida, Jaejoong-shi.”

“Ne. Mannaseo bangapsumnida, Hyesu noona.”

“Hyunjae belum tau mengenai ini. Jadi jangan katakan padanya karena aku yang akan mengatakannya langsung, arraseo?” Untuk apa aku mengatakannya pada Hyunjae hyung? Pikir Jaejoong kesal. Yunho mengatakan hal tersebut dengan sangat ringan dan senyum manis yang terkembang di wajahnya. Padahal dada Jaejoong sudah terasa sakit lagi. Dan itu karenanya. Aish. Jaejoong kau memang harus bersabar.

“Aku harus kembali bekerja, Songsaenim. Aku permisi.” Pergi adalah langkah yang tepat. Rasa sakit mulai menyebar lagi di dada Jaejoong. Hatinya sakit melihat Yunho bersama gadis itu. Usahanya untuk mendekati Yunho gagal sudah. Jaejoong pikir Yunho tidak akan memperkenalkan dirinya dengan Hyesu. Karena Jaejoong yakin jika kenyataan tentang gadis itu akan membuat dadanya sakit. Aish. Padahal Jaejoong ingin membuktikan suatu hubungan yang mungkin di antara dirinya dan Yunho. Hey! Bukankah Hyesu memiliki benang merah? Dan itu berarti, Hyesu memiliki jodohnya, bukan? Jodohnya sudah pasti bukan Yunho. Setitik cahaya mulai membangkitkan semangat Jaejoong.

“Aku harus menyelidikinya.”

^^^^^^^^^^

“Apa ada di antara kalian yang tau kemana Junsu?” Yoochun jelas tau mengenai ketidakhadiran Junsu. Bagaimana tidak? Junsu adalah salah satu pemain inti dan bisa-bisanya dia tidak hadir dalam latihan kali ini. Padahal pertandingan sudah hampir dua minggu lagi. Seharusnya dia hadir dan mengikuti latihan di sini. Ada apa ini? Tidak biasanya Junsu melupakan tanggung jawabnya. Dan bukankah Junsu sangat mencintai sepak bola? Seharusnya dia tidak pernah melewatkannya, bukan? Apa ini ada hubungannya dengan kejadian waktu itu? Yoochun memang belum bicara lagi dengan Junsu semenjak kejadian di ruang ganti itu. Bicara? Bahkan bertemu pun mereka tidak pernah lagi. Sepertinya Junsu menghindarinya.

“Dia sedang tidak enak badan, Kapten.” Minhyuk memang bertemu dengan Junsu tadi. Bertabrakan lebih tepatnya. Mereka bertabrakan di depan ruang kelas Junsu. Junsu memang tampak terburu-buru saat itu. Tidak hanya itu, wajahnya pun memerah dan sepertinya Junsu menangis. Wajahnya memang tampak kacau saat itu. Dan Minhyuk menyimpulkan jika Junsu memang sedang tidak enak badan. Ada apa dengan Junsu?

“Dia sakit? Benarkah?” Rasa khawatir sedikit demi sedikit mulai menyelimuti perasaan Yoochun. Apa ini ada hubungannya dengan dirinya? Dengan kejadian waktu itu?

“Aku melihatnya dan wajahnya memang tampak kacau.” Sepertinya semua ini adalah kesalahannya. Kejadian di ruang ganti itu adalah penyebabnya. Tapi bagaimana Yoochun tau? Entahlah. Tapi dia sangat yakin tentang hal ini. Sepertinya dia sedikit keterlaluan pada Junsu. Aish. Rasa bersalah sudah menutupi seluruh hatinya sekarang. Aku harus minta maaf.

^^^^^^^^^^

Bolehkah aku berharap? Berharap memilikinya? Rasa sakit itu sudah sejak tadi menyelimutiku. Aish. Rasa sakit ini memang berhubungan dengan Jung songsaenim. Setiap dia melakukan suatu hal yang tidak kusuka, perasaan ini selalu saja hadir. Cemburu? Aish baiklah, aku memang cemburu. Seperti saat ini. Jung songsaenim mengajak Hyesu lagi ke perpustakaan. Dan tepat di hari kerjaku. Menyebalkan! Lagipula, Jung songsaenim tidak biasanya datang ke perpustakaan di hari Jumat. Bukankah dia selalu ke sini di hari Sabtu? Apa kali ini ia ke perpustakaan bukan untuk membaca? Tapi untuk berkencan? Aish. Ini perpustakaan! Kau memang seharusnya membaca jika kau datang ke sini! Dan bukan untuk berkencan! Ingin sekali aku berteriak padanya. Melihat senyum tulusnya itu membuatku ingin melempar sapu ke arahnya juga ke arah gadis itu! Mereka berdua bahkan tidak sama sekali mengambil buku! Mereka berdua hanya berbincang-bincang sambil sesekali memegang tangan pasangannya yang terjulur di meja! Ya Tuhan! Ditambah lagi dengan tempat duduk mereka yang berada di pojok perpustakaan ini. Seakan menjauh dari orang-orang di sekitarnya! Menyebalkaaaaaaaaaaaaaaan!!

“YA! Apa yang kau lakukan di sini?” Suara ini. Aku mengenali suara ini. Sepertinya aku harus segera berlari atau aku akan dilahapnya.

“E—ee.. aku? Tentu saja aku sedang menyapu Ahjumma.” Senyumku pasti sangat aneh saat ini. Bagaimana tidak? Ahjumma yang selalu saja mengecek pekerjaanku ini sedang menatapku seram dan tajam. Tubuhnya yang tidak kecil semakin membuatnya terlihat besar di mataku. Aish.

“Benarkah?” Omo! Wanita ini sudah mengeluarkan senyum mengerikannya. Aku benar-benar harus lari saat ini!

“Se—seperti yang kau lihat..” Aish. Sekarang aku menyapu seperti orang tidak waras. Dan tentu masih dengan senyum aneh terkembang di bibirku. Ayolah percaya! Semua ini gara-gara Jung songsaenim!!

“Arraseo. Tapi, jika aku melihatmu bertingkah aneh lagi seperti tadi, maka kau harus menemuiku, Sweet Joongie!!” Dan pergilah wanita gemuk itu. Aish. Jung songsaenim, kau memang menyebalkan!! Lagipula apa yang telah aku perbuat tadi? Aku hanya memegang keras-keras sapu ini karena gemas melihat mereka berdua bersama. Apa itu tingkah yang aneh?? Terkadang aku tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita itu. Aish.

^^^^^^^^^^

Yoochun sudah berlari sekencang mungkin dan dia masih saja tidak menemukan Junsu. Bahkan Yoochun belum menemui Junsu dan seperti peramal, Junsu tau jika Yoochun ingin menemuinya. Begitu Yoochun hampir beberapa langkah lagi menuju kelas Junsu, Junsu sudah berlari sekencang mungkin. Untungnya Yoochun sadar jika itu adalah Junsu, maka di sinilah Yoochun sekarang. Mengejar Junsu yang entah di mana. Junsu memang salah satu pemain sepak bola terbaik di klub, sehingga tidak dipungkiri lagi jika ia bisa berlari secepat itu. Aish.

Sayup-sayup, Yoochun mendengar suara tangisan di arah tangga. Siapa yang menangis? Apa mungkin itu Junsu? Tanpa berpikir lebih lama, Yoochun segera menghampiri suara itu dengan perlahan. Dan Junsu memang di sana. Menangis sambil meringkukkan tubuhnya di pojok di bawah tangga besar itu. Memeluk tasnya erat. Ada apa dengannya? Apa ini semua karena Yoochun?

“Pergilah. Aku sungguh tidak mau bertemu denganmu.” Tanpa melihat, Junsu mengusir Yoochun yang masih diam terpaku menatap Junsu khawatir. Kenapa Junsu tau jika itu adalah Yoochun? Lagi-lagi Junsu terlihat seperti peramal.

“Ini salahku..” Penyataan pelan itu terdengar dari mulut Yoochun. Yoochun masih saja menatap Junsu yang tiba-tiba merasa kaget karena ucapan Yoochun. Yoochun menyadarinya? Benarkah? Itu berarti jika Yoochun juga mengetahui perasannya, bukan?

“Ini memang salahku. Benarkan, Junsu-ah?” Yoochun tidak bergeming dari tempatnya. Ia terus saja berdiri di sana. Lagi, ucapannya membuat Junsu terdiam. Bahkan membuat Junsu untuk melihat ke arahnya.

“A—apa maksudmu, Sunbae?” Junsu jelas sekali melihat wajah terkejut Yoochun. Dia benar-benar merasa bersalah sepertinya. Junsu tidak pernah berpikir jika Yoochun akan seperti ini padanya. Benarkah ini?

“Kau menangis karena aku, bukan? Pasti karena aku. Apa ucapanku keterlaluan?” Wajah Yoochun mulai melunak. Rasa bersalah itu jelas tergambarkan di wajah Yoochun. Dan Junsu hanya bisa terdiam menatap Yoochun yang masih berdiri di sana.

“A—aa—ku..”

“Mian. Jeongmal mianhae. Aku menyakiti perasaanmu. Mianhae.” Sekarang Yoochun membungkuk ke arahnya. Yoochun memang tau perasaan Junsu padanya. Hanya saja dia pun tidak tau bagaimana perasaanya pada Junsu. Yang pasti, dia masih merasa jika dirinya adalah pria normal.

“Sunbae, tau mengenai perasaanku?” Junsu mulai berdiri dan sedikit mendekati posisi Yoochun. Benarkah Yoochun sudah mengetahui perasaannya? Jadi penolakan ini benar-benar nyata?

“Ne. Jeongmal mianhae.” Yoochun membungkuk lagi. Dia benar-benar merasa bersalah. Yoochun tidak tau jika dirinya dapat membuat salah satu sahabat baiknya menyukainya. Atau bahkan mencintainya?

Junsu sudah tidak terlalu terkejut lagi. Ia tau jika Yoochun adalah pria normal. Ia sangat tau itu. Ia hanya bisa tersenyum tipis saat ini. Agar Yoochun tidak lagi merasa bersalah padanya. Agar Yoochun tidak lagi menatpnya sendu. Sungguh, senyum ini sulit. “Gwenchana, Sunbae. Aku mengerti. Baiklah, aku harus pergi sekarang. Mianhae, Sunbae. Annyong..”

Yoochun merasakan sakit di dadanya. Senyum Junsu tadi benar-benar tulus ke arahnya. Tapi, Yoochun tau jika itu bukanlah senyum yang biasa Junsu perlihatkan padanya. Senyum Junsu yang biasanya jauh lebih indah. Senyum Junsu yang baru saja ia lihat adalah senyum palsu. Tentu. Bahkan senyum Junsu itu adalah senyum menahan sakit yang mencerminkan hatinya saat ini. Sangat sakit.

^^^^^^^^^^

“Yang paling terasa adalah rasa sakit yang selalu menyelimuti dadaku. Rasa sakit itu tiba jika aku melihatnya dengan seseorang.”

“Kau cemburu.” Cemburu? Seperti yang sudah Jaejoong duga, dirinya memang cemburu dengan Hyesu. Aish.

“Lalu?”

“Dan itu berarti, kau menyukainya.” Changmin mulai menatap Jaejoong yang lagi-lagi sedang menatapnya polos. Sepertinya Jaejoong lebih menarik daripada komik yang sedang dibacanya sekarang.

“Benarkah? Apa kau yakin, Hyung?” Pekerjaan Jaejoong di perpustakaan memang sudah selesai. Dan sekarang adalah jam istirahatnya, Namun, Jaejoong lebih tertarik untuk mendiskusikan perasaannya terhadap Yunho kepada salah satu hyungnya, Changmin. Changmin tampak ahli dalam bidang ini. Benarkah?

“Tentu. Untuk apa kau cemburu jika kau tidak menyukainya? Cepat katakan padanya sebelum ia direbut oleh orang lain.” Changmin mulai mengembangkan senyum menggodanya lagi. Mengatakan padanya? Bahkan Yunho memang sudah dimiliki oleh orang lain. Aish. Entahlah. Yang pasti, Jaejoong memang menyukai Yunho. Benarkah aku menyukainya?

^^^^^^^^^^

Benarkah aku menyukainya? Hanya pertanyaan itu yang memenuhi Jaejoong saat ini. Perjalanan dari perpustakaan menuju apartemennya tidak terlalu jauh, sehingga Jaejoong memang selalu pulang berjalan kaki. Dan sekarang Jaejoong sedang melakukan salah satu rutinitasnya. Berbelanja di supermarket yang hanya berjarak 1 blok dari perpustakaan. Membeli keperluan makan malam. Namun, Jaejoong tampak memasukkan secara asal barang-barang ke dalam keranjangnya. Tentu saja, bukan? Jaejoong sekarang tengah sibuk memikirkan hal lain. Apakah benar ia menyukai Yunho? Aish. Entahlah. Hatinya seperti tidak mau mengakuinya. Namun, semua tingkahnya terhadap Yunho memang menunjukkan bahwa ada perasaan berbeda ketika bersama atau menyangkut Yunho, bukan? Jaejoong terus saja berpikir hingga ia sukses menabrak seseorang. Dan semua barang di keranjangnya tentu saja jatuh berantakan.

“Mianhamnida. Jeongmal mianhamnida.” Jaejoong tentu langsung tersadar dan segera mengucapkan maaf sambil membungkukkan tubuhnya berkali-kali kepada seseorang yang ia tabrak tadi.

“Gwenchana.” Baru Jaejoong sadari jika ia menabrak seorang laki-laki. Laki-laki yang tampak lebih tua darinya. Sepertinya laki-laki itu seumur dengan Changmin. Dan laki-laki itu pun membantu Jaejoong untuk mengambil barang-barangnya yang berantakan.

“Biar saya saja. Anda tidak perlu membantu.” Jaejoong menolak pertolongan laki-laki itu dengan sopan.

“Tidak apa.” Laki-laki itu cukup tampan. Ia tersenyum kepada Jaejoong.

“Kamsha hamnida. Jeongmal kamsha hamnida.” Jaejoong membungkukan tubuhnya lagi. Dia benar-benar merasa berterimakasih pada laki-laki ini. Bagaimana pun juga, ini semua adalah kesalahannya dan dengan baik hati laki-laki ini memaafkannya dan membantunya.

“Ne. Cheonmaneyo.” Dan laki-laki itu menjauh dari Jaejoong. Jaejoong merasa ada yang janggal dari laki-laki itu. Hey! Bukankah itu Hyesu! Jaejoong melihat Hyesu sedang berada di luar supermarket, tampak seperti menunggu seseorang. Apa berarti Yunho juga berada di sini? Jaejoong mulai mencari-cari di sekitarnya. Namun, laki-laki baik hati tadi mengusik pandangannya lagi. Memang sepertinya ada yang aneh pada laki-laki itu. Setelah membayar di kasir, laki-laki itu mulai menghampiri Hyesu yang langsung menyambutnya dengan senyum manis di luar supermarket. Sama manisnya dengan senyumnya yang biasa ia perlihatkan pada Yunho. Hey! Apa Hyesu berselingkuh? Aish tidak mungkin. Mungkin saja jika laki-laki itu adalah kakaknya, bukan? Benar. Mungkin laki-laki itu adalah kakaknya. Jaejoong tidak ingin berprasangka buruk. Tetapi benang merah mereka yang saling terikat itu, apa maksudnya? Memang ada yang janggal dengan laki-laki itu. Benang merah laki-laki itu tersambung dengan benang merah Hyesu. Jaejoong masih saja menatap mereka berdua dari dalam supermarket. Hingga mereka berdua masuk ke dalam mobil dan mobil itu menghilang. Sepertinya mereka berdua memang berpacaran.

OMO! Hyesu telah berselingkuh!

Dan… OMO! Aku berhasil menemukan jodoh Hyesu!


T <B<C


FF / YUNJAE (YAOI) / MY RED YARN / PART 4

Title                       : MY RED YARN

Part                        : 4/?

Rating                   : PG+15 (YAOI)

Cast                       : Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Junsu, Park Yoochun, Shim Changmin, Kim Hyunjae, and other cast will appear

Author                  : Revi Junsu aka Han Hyesu aka Junsu’s Eternal Wife ^^


A/N        : Cerita ini aku buat sendiri tanpa memplagiat cerita manapun dan yang jelas ini cuma CERITA FIKTIF belaka.


douzo^^

^^^^^^^^^^

Masih sulit kupercaya. Jung songsaenim adalah orang yang bernasib sama sepertiku. Tapi, terasa aneh jika Jung songsaenim tak memiliki pasangan hidup. Laki-laki itu tampan, bukan? Bertubuh tinggi, berwajah keren, tubuhnya pun bagus. Sifatnya yang sedikit dingin pun turut mendukung betapa sempurnanya dia. Laki-laki berumur 20 tahun yang sebentar lagi akan lulus dari universitasnya dan demi mengisi liburannya, dia mengajar di sekolah ini. Aish, sudah banyak wanita yang mengagumi dan tergila-gila padanya. Tapi, aku benar-benar tidak melihat benang merahnya. Apa Tuhan memiliki rencana lain untuknya? Entahlah. Lalu, apa ada hubungannya antara aku dan dia? Apa mungkin kami adalah jodoh? Tapi, bukankah kami sama-sama pria? Aku sungguh tak mengerti.

“Kim Jaejoong..” Panggilannya menghapus lamunanku. Aku hampir saja lupa jika saat ini adalah jam pelajarannya.

“Ne, songsaenim..”

“Apa kau sakit?” Jung songsaenim tampak sedikit terperangah ketika melihatku. Omo! Apa Jung songsaenim mengingat soal pertemuannya denganku kemarin? Aish.

“Gwenchana..” Jawabku sedikit menunduk. Tentu tak berani menatapnya.

“Kau tampak sakit. Baiklah kalau kau memang baik-baik saja, kita teruskan pelajaran ini..” Jung songsaenim kembali memasang wajah dinginnya. Sepertinya dia memiliki rencana lain. Aku harus membujuknya.

^^^^^^^^^^

Saat bel istirahat berbunyi, Jaejoong segera mengejar guru Bahasa Jepangnya yang sudah keluar kelas lebih dulu. Dia yakin benar jika Jung songsaenim akan melaporkannya. Dan tentu dia akan mendapat peringatan dan tak bisa bekerja lagi. Dan pasti Hyunjae akan dipanggil ke sekolah, bukan? Aish. Ini gawat.

“Jung songsaenim!!” Jaejoong agak berteriak. Karena memang Yunho sudah cukup jauh darinya. Dengan terengah-engah, Jaejoong kembali berlari untuk menghampiri Yunho yang sudah berbalik menghadapnya.

“Ada apa?” Dengan wajah dingin, Yunho menatap Jaejoong yang masih sedikit terengah. Tentu Yunho ingat anak ini. Jika berdasarkan pada peraturan sekolah, Yunho pasti akan melaporkannya. Anak ini mengambil kerja sambilan. Dan dengan bodohnya dia bekerja di tempat yang bisa dikatakan dekat dari sekolah ini.

“A—aku, aku hanya ingin menjelaskan sesuatu padamu..”

“Mengenai pelajaran?” Yunho tampak memancing Jaejoong, agar Jaejoonglah yang mengaku, bukan dirinya yang menegur.

“Kau pasti tahu betul apa yang akan ku jelaskan, bukan?” Jaejoong memandang Yunho sedikit kesal. Gurunya itu berlagak tak tahu. Menyebalkan. “Mengenai kemarin, di Perpustakaan.” Lanjut Jaejoong.

“Arasseo. Ikut aku..” Jaejoong hanya bisa mengikuti Yunho. Dan ternyata Yunho membawanya ke ruangannya di sekolah itu.

“Masuk..” Yunho meletakkan buku-buku yang sejak tadi dibawanya. “Duduk saja di sana..” Sambil menunjuk sofa berukuran sedang di pojok ruangan itu, Yunho masih sedikit merapikan buku-buku di meja kerjanya. Yunho adalah guru pengganti, bukan? Tapi kenapa dia sudah memiliki ruangannya sendiri? Ini aneh. Apa Yunho berniat mengajar di sekolah ini setelah lulus?

“Ini ruangan yang kebetulan kosong..” Yunho tau apa yang dipikirkan Jaejoong. Sejak tadi Jaejoong memasang wajah berpikirnya sambil terus saja menatap ruangan ini. Aish, anak ini.

“Bicaralah.” Yunho duduk di hadapan Jaejoong. Ikatan dasinya agak kendur. Dua kancing kemejanya pun sudah terbuka. Sedikit dari dadanya yang tampak bagus itu terlihat. Kulit coklatnya menambah kesan sexy. Sexy? Aish, Jaejoong apa yang kau tatap? Dia laki-laki dan gurumu!

“Aku bekerja di Perpustakaan Seoul, karena Ayah dan Ibuku berada di Gyeonggi..” Jaejong memulai penjelasannya dengan sedikit gugup. Bagaimana tidak? Yunho menatapnya dingin dan jujur saja itu membuat wajahnya terasa panas dan jantungnya berdebar. Kenapa Jaejoong tampak aneh seperti Junsu?

“Kau tahu itu dilarang, bukan?” Dengan nada suara yang tetap dingin dan datar, Yunho seolah memperjelas kesalahan Jaejoong.

“Tentu aku tahu. Tapi, aku membutuhkannya..”

“Kau tinggal sendiri?”

“Ani. Bersama hyungku.”

“Apa dia tidak bekerja?”

“Dia bekerja. Hanya saja, hyungku pun harus kuliah sehingga aku harus membantunya..”

Helaan nafas panjang dari Yunho memecah keheningan di antara mereka. Apa yang harus dilakukannya? Tentu melaporkannya, bukan? Tetapi, mendengar penjelasannya itu Yunho tergerak untuk menolongnya. Untuk menutupi kebohongannya. Dilihatnya lagi siswa manis di hadapannya. Dia tampak menatap Yunho dengan penuh harap. Kenapa hatinya merasa terhanyut dengan mata itu? Mata besar yang indah. Sedikit merasa tertarik dengan siswanya ini, Yunho pun memutuskan sesuatu. “Arasseo..”

“Ehh—mwo?”

“Asal kau harus tetap belajar dengan rajin. Dan dengar, kau harus lebih berhati-hati lagi..” Yunho mengatakan itu masih dengan wajah dinginnya. Meski sejujurnya dia ingin sedikit tersenyum ketika melihat Jaejong yang tersenyum begitu lebar. Siswanya ini berwajah manis dan menarik.

“Kamsha hamnida, Songsaenim. Cheongmal kamsha hamnida. Aku tentu akan rajin belajar..” Jaejoong terus saja tersenyum. Tak diduganya jika guru tampan ini akan membantunya. Dan Jaejoong cukup bisa untuk melihat senyum tipis Yunho. Sepertinya di antara mereka memang ada suatu hubungan.

^^^^^^^^^^

Jaejoong lagi-lagi merasakan keanehan. Tentu dari sahabatnya itu, Junsu. Hari ini mereka akan makan siang di atap. Tetapi bukan hal itu yang tampak aneh. Keanehan itu tampak dari wajah Junsu. Sejak tadi Junsu terus saja tersenyum. Ada apa ini?

“Annyong, sunbae..” Aish. Pantas saja sejak tadi Junsu tersenyum. Ternyata hari ini Yoochun pun makan siang di atap bersama mereka. Tidak heran jika Junsu membawa dua kotak bekal.

“Annyong, sunbae..” Jaejoong pun ikut menyapa Yoochun yang tersenyum.

“Annyong..” Jawab Yoochun. Wajah Junsu memerah melihat Yoochun tersenyum. Anak ini memang jatuh cinta.

“Aku membawakanmu bekal, karena kupikir kau pasti akan berniat untuk membeli makanan di kantin..” Junsu mulai membuka kotak bekal dan menyerahkannya pada Yoochun. Junsu langsung mengambil posisi di samping Yoochun, sedang aku duduk berhadapan dengan mereka berdua.

“Ahh- Gomawo yo, Junsu-ah..”

“Mari makan..” Jaejoong memecah keheningan di antara mereka. Mereka makan dalam keheningan. Sepertinya Junsu terlalu gugup untuk memulai pembicaraan sedangkan Yoochun lebih tampak tak peduli.

“Junsu, tumben sekali kau mengajak Yoochun sunbae makan siang bersama kita.” Jaejoong tak tahan dengan keheningan yang terjadi. Sengaja dia mengeluarkan isi hatinya yang memang penasaran dengan usaha-usaha Junsu untuk mendekati Yoochun.

“Ak—aku hanya berpikir jika makan bertiga pasti akan lebih ramai. Lagipula aku harus mengucapkan rasa terima kasihku pada Yoochun sunbae yang selalu pulang bersamaku..”

“Ahh- soal itu, aku tidak merasa repot, kok..” Yoochun tampak sedikit terperangah mendengar penjelasan dari Junsu. Dia menghentikan makannya sambil menatap Junsu.

“Jadi, kau selalu pulang bersama Yochun sunbae? Syukurlah kalau kau sudah mendapatkan seseorang untuk pulang bersama, karena aku sedikit mengkhawatirkanmu..” Ujar Jaejoong sambil tersenyum. Junsu memandang Jaejoong sebal. Jelas-jelas itu aneh. Padahal selama ini, Jaejoong tampak lebih memperhatikan urusannya itu daripada pulang bersama Junsu. Aish.

Obrolan mereka terus saja berlanjut. Hingga bel masuk berbunyi. Junsu benar-benar serius untuk mendapatkan Yoochun. Dan bagaimana dengan Yoochun? Apakah dia tahu mengenai perasaan Junsu padanya? Sebenarnya, jika Yoochun tak menyadari perasaan Junsu itu terdengar aneh. Pasalnya Junsu sudah menunjukkan sinyal-sinyalnya. Namun, Yoochun masih tampak biasa jika bersama Junsu. Junsu memang harus lebih berusaha lagi.

^^^^^^^^^^

“Hyung, boleh aku bertanya sesuatu?” Hari ini hari Jumat. Tentu saja Jaejoong harus bekerja. Dan disinilah ia. Bersama Changmin yang sedang mencari-cari buku di salah satu rak di perpustakaan itu. Jaejoong bertemu lagi dengan Changmin.

“Tentu. Mwoya?” Changmin bertanya tanpa menatap dongsaeng barunya itu. Dia masih saja terpaku pada banyak buku yang tersusun rapi di raknya. Masih sibuk untuk mencari buku.

“Apa boleh seorang laki-laki mencintai laki-laki?” Tangan Changmin yang sejak tadi sibuk menunjuk rentetan buku, tiba-tiba berhenti. Changmin menatap Jaejoong dengan sebelah alisnya yang terangkat. Jaejoong hanya menatapnya polos.

“Apa maksudmu?”

“Um, apa boleh aku mencintai seorang laki-laki?” Jaejoong memperjelas pertanyaannya. Masih dengan wajahnya yang polos. Jaejoong hanya penasaran saja. Tentang Junsu dan Yoochun. Juga tentang dirinya dan mungkin dengan Jung songsaenim. Benang merah Junsu memang tersambung dengan benang merah Yoochun. Mereka adalah sepasang jodoh yang telah ditentukan. Lalu hubungan dirinya dan mungkin dengan Jung songsaenim adalah hubungan antara seseorang yang sama-sama tak memiliki benang merah. Walaupun hipotesisnya belum tentu benar, tapi Jaejoong menduga jika mereka mungkin saja jodoh, bukan?

“Kau menyukai seorang laki-laki?” Wajah Changmin sedikit tegang. Jaejoong adalah anak berumur 15 tahun. Dia masih terlalu dini untuk hubungan macam itu, bukan? Apa mungkin anak ini seorang—

“Apa tak boleh, Hyung?”

“Jadi kau memang menyukai seorang laki-laki?”

“Um, sebenarnya bukan aku. Tapi sahabatku..” Wajah Changmin sedikit lega. Pergaulan anak-anak zaman sekarang memang sedikit berbeda. Rasa khawatir mulai menjalari tubuh Changmin. Ia takut jika dongsaeng manisnya ini terpengaruh.

“Aku tak bisa bilang jika itu salah. Tetapi, hal seperti itu akan membuat kedua orang tuamu juga orang-orang di sekitarmu sedih dan kecewa..”

“Cheongmal? Tetapi, sahabatku benar-benar mencintainya? Jika kukatakan padanya seperti yang kau katakan padaku, pasti dia akan sedih, bukan?”

“Jaejoong-ah, cinta memang sedikit berbahaya. Seperti hal itu contohnya.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?” Jaejoong merasa bingung. Sejujurnya dia ingin membuktikan hipotesisnya. Seperti yang dilakukan Junsu pada Yoochun, dia pun akan mulai mendekati Jung songsaenim. Meski dia memang tak menyukainya. Tentu, Jaejoong masih laki-laki normal. Namun, Jaejoong tak ingin menghindari tentang benang merahnya yang tak ada itu. Jika dia menjalin sebuah hubungan dengan seseorang yang memiliki benang merah, mungkin saja atau pasti dia akan tersakiti. Karena memang bukan dia pasangannya. Orang-orang yang memiliki benang merah tentu punya pasangan yang telah ditentukan. Jaejoong tak mau mengusiknya. Hanya ini yang bisa ia pikirkan tentang benang merahnya yang entah kemana. Tentang dirinya dan Jung songsaenim.

“Jika memang sahabatmu itu mencintai seorang laki-laki, dan benar-benar tulus, biarkan saja. Karena tidak hanya berbahaya, cinta pun bisa memberikan seseorang keteguhan hati juga keberanian.  Sahabatmu itu pasti bisa menghadapi segala sesuatunya yang mungkin terjadi pada cintanya itu. Dukung dia, ne?”

“Bagaimana dengan kebahagiaan? Apa cinta memberikan kebahagiaan?”

“Tentu. Cinta bisa membuat seseorang menjadi lebih mensyukuri kehidupannya. Cinta bisa membuat seseorang selalu tersenyum. Meski cinta terkadang membuat seseorang menangis ataupun merasakan kekesalan, dan setelah kesedihan itu terlewati, cinta pasti akan mengajarkan seseorang untuk lebih tegar dan sabar. Bagaimana pendapatmu?”

“Woah, aku baru tahu jika cinta sebegitu hebatnya..” Jaejoong membuat ekspresi terkejut di wajahnya. Itu sangat manis juga menggemaskan. Changmin bersyukur bisa bertemu dengan Jaejoong.

“kau pasti akan merasakan cinta suatu hari nanti..” Tidak tahan dengan rasa gemasnya, Changmin mencubit kedua pipi Jaejoong sambil tertawa. “Kau sungguh menggemaskan.”

^^^^^^^^^^

“Songsaenim, bisa kau ulangi lagi. Aku belum mengerti..” Jaejoong telah memantapkan hatinya untuk mendekati Jung songsaenim. Dia mulai melakukan berbagai usahanya. Seperti saat ini, dia terus saja bertanya. Dia ingin Jung songsaenim mengingatnya terlebih dahulu. Meski sepertinya Jung songsaenim memang sudah mengingatnya karena kejadian waktu itu.

“Kenapa sejak tadi kau selalu bertanya, Jae-ah??” Junsu sudah merasakan keanehan pada Jaejoong. Sahabatnya ini sangat pandai di pelajaran Bahasa Jepang. Dia jarang sekali bertanya dengan Chieko songsaenim. Kenapa Jaejoong terus saja bertanya dengan Jung songsaenim?

“Karena aku belum mengerti..” Jawaban Jaejoong membuat Junsu sebal. Jelas-jelas sahabatnya ini sudah mengerti, bagaimana tidak? Hampir semua latihan di bukunya sudah dikerjakannya. Dan dia masih terus saja bertanya. Yunho pun hanya meladeni semua pertanyaan Jaejoong dengan datar. Meski dia sebenarnya sedikit heran. Kenapa dia tampak seperti ingin menarik perhatianku? Pikir Yunho.

^^^^^^^^^^

“Junsu-ah!!” Junsu berbalik dan mencari seseorang yang telah memanggilnya. Yoochun berdiri disana. Junsu pun langsung berlari menghampiri Yoochun yang sedang berdiri di depan ruang ganti klub sepak bola.

“Ada apa, sunbae?”

“Bisakah kau membantuku merapikan dan membersihkan ruang ganti di bagian sebelah sini? Karena manager kita sedang sakit.”

“Hyemi sakit??”

“Ne, kemarin beberapa anggota klub sepak bola sudah menjenguknya.”

“Arasseo. Kkajja!” Junsu tampak bersemangat. Lagi-lagi dia bersama Yoochun. Hanya berdua. Tentu saja Junsu senang. Dia akan lebih dekat dengan Yoochun. Senyum manisnya terkembang indah di wajahnya.

^^^^^^^^^^

“J—Ju—Jung songsaenim??” Jaejoong terperangah melihat songsaenimnya ada di depan apartemennya. Untuk apa dia kemari? Sebenarnya tadi Jaejoong malas untuk membukakan pintu ketika terdengar bel berbunyi. Namun, Hyunjae memaksanya untuk membuka pintu, Karena Hyunjae sedang sibuk menyiapkan materi mengajarnya untuk esok hari. Jika Jaejoong tahu bahwa tamunya adalah Jung songsaenim, dia pasti langsung membukakan pintu tanpa disuruh. Rasa senang sedang menyelubungi hatinya. Jaejoong merasa jika laki-laki tampan ini memang jodohnya. Mungkin.

“Jaejoong? Kau tinggal di sini?” Yunho pun sedikit kaget melihat siswa yang menurutnya manis ini yang membukakan pintu. Agak sedikit aneh, tapi Yunho merasa jika dirinya dan Jaejoong memang hampir selalu dipertemukan. Aish. “Apa ini benar apartemen Kim Hyunjae?”

“Hyunjae? Dia hyungku. Mari masuk songsaenim, tidak enak berbicara sambil berdiri.” Jaejoong mempersilakan Yunho untuk masuk dan duduk di sofa. “Kau ingin minum apa?”

“Apa saja. Um, bisakah kau panggilkan Hyunjae?”

“Tentu. Tunggu sebentar.” Jadi kakak Jaejoong adalah Hyunjae? Kenapa aku tidak tahu? Begitu pikir Yunho. Dia dan Hyunjae sudah berteman cukup lama. Mereka satu universitas dan mereka sama-sama mengikuti trainee menjadi guru. Aish.

Setelah cukup lama Hyunjae keluar dari kamarnya dan terkejut melihat temannya itu. Jaejoong hanya bisa mengintip mereka dari kamar tidurnya yang memang sedikit berdekatan dengan ruang tamunya. Jika Jung songsaenim adalah teman hyungnya, tentu ia bisa mencari tahu tentangnya lewat Hyunjae hyung, bukan? Ia akan bertanya pada hyungnya besok.

^^^^^^^^^^

Tidak sesuai dugaan, ternyata Hyunjae sudah lebih dulu berangkat. Padahal Jaejoong serius ingin tahu tentang Jung songsaenim. Aish. Jaejoong harus lebih berusaha lagi untuk mendekati Jung songsaenim. Hey, Jaejoong tampak menyukainya? Benarkah? Sepertinya memang. Semua usahanya untuk mendekati Jung songsaenim malah membuat Jaejoong merasakan getaran aneh jika berada dekat Jung songsaenim. Dan terkadang wajahnya pun memerah. Namun, Jaejoong belum begitu merasakan kehadiran cinta itu. Dia hanya ingin membuktikan hipotesisnya.

“Pagi Junsu-ah..” Sapa Jaejoong pada Junsu yang kini sudah sampai di kelasnya. Yang disapa hanya terdiam sambil tetap memandang jendela di sebelah kursinya. Wajah Junsu memperlihatkan kesedihan.

“Hey, Junsu-ah. Kau kenapa?” Jaejoong pun duduk di kursinya di samping Junsu.

Helaan nafas panjang terdengar dari bibir Junsu. Junsu mulai menatap Jaejoong sendu. Ada apa dengannya? Junsu terus saja terdiam. Ia seperti ingin menangis. “Boleh aku bercerita?”

“Tentu..” Jaejong yakin, ini pasti berhubungan dengan Yoochun.

“Mungkin aku akan mencoba untuk menjauhinya..” Sangat pelan Junsu memulai ceritanya. Jaejoong kaget mendengar kalimat itu. Bukankah Junsu tampak semangat sekali dalam mendekati Yoochun? Kenapa sekarang ia menyerah?

“Tapi, kenapa, Junsu-ah?”

“Dia—sepertinya Yoochun sunbae tak bisa mencintai laki-laki, tak bisa mencintaiku.”

“Apa itu benar? Apa kau sudah berusaha menyatakan cintamu padanya?”

“hampir dan—dia menolakku sebelum aku mengatakannya..”

***

Brruuukkk

Aku tidak merasakan sesuatu menimpaku. Padahal aku menjatuhkan banyak kardus. Kardus-kardus yang ingin aku bereskan cukup tinggi letaknya. Di atas loker-loker. Kuberanikan untuk membuka mata dan Yoochun sunbae ada di hadapanku. Kami benar-benar sangat dekat. Alhasil semua kardus itu menimpa tubuhnya. Wajahnya tampak kesakitan. Aku segera bangkit dan sedikit mendorongnya tentu.

“Yoochun sunbae, gwenchana??” Yoochun sunbae terduduk di hadapanku dengan ekspresi yang kesakitan. Segera ku usap punggungnya. Namun, Yoochun sunbae menepis tanganku pelan.

“Waeyo, Sunbae?”

“Kenapa kau baik padaku?” Sedikit tersentak ketika kudengar pertanyaan itu. Apa Yoochun sunbae tahu jika aku mencintainya?

“Te—tentu, karena kita sahabat.” Aku masih belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku takut jika Yoochun sunbae menolakku.

“Cheongmal? Tapi kenapa aku merasa jika kau perhatian denganku? Apa benar hanya karena kita bersahabat?”

“Aku rasa kau terlalu berlebihan, Junsu-ah. Perhatianmu itu sungguh baik jika kau berikan kepada orang yang kau cintai. Jangan berikan kepadaku—karena aku sahabatmu, bukan? Dan mianhae jika aku menjadi sedikit bergantung padamu..” Yoochun sunbae berkata lagi padaku yang baru saja ingin menyampaikan alasanku. Padahal saat itu terpikirkan olehku untuk menyatakan perasaan ini padanya, tetapi, tanpa kusangka, Yoochun sunbae seakan telah memupuskan keberanianku. Sungguh itu menyakiti hatiku. Aku hanya terdiam memandang kepergian Yoochun sunbae. Padahal pekerjaan untuk merapikan ruang ganti belum selesai. Aku ingin menangis.

***

“Dia hanya bingung..” Setelah sekian lama berpikir, Jaejoong hanya mengeluarkan kalimat itu untuk Junsu. Bingung. Apakah Yoochun menyukai Junsu atau tidak? Mereka sama-sama laki-laki! Pasti begitu.

“Bingung?”

“Ne, dia tidak tahu bagaimana perasaan sebenarnya padamu..”

“Benarkah begitu? Aku tak yakin, Jae-ah.”

“Kau harus yakin. Kau harus terus mencobanya. Bukankah kau mencintainya?”

“Tapi dia seperti menolakku.”

“Lupakan itu. Terus saja berikan perhatianmu kepadanya. Dan sebaiknya jangan memaksanya. Dia hanya tidak tahu tentang perasaannya kepadamu. Percayalah kepadaku.”

“Aku akan berusaha.” Junsu memang belum tersenyum. Kesedihan masih terlihat betul di wajahnya. Tetapi, setidaknya dia merasakan perhatian dan bantuan dari sahabat baiknya itu. Apa aku memang tak harus menyerah? Begitu pikir Junsu.

^^^^^^^^^^

Masih banyak waktu hingga Hyunjae pulang. Jaejoong memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Ya, hari ini hari Sabtu. Hari kerjanya. Selain itu, dia berharap dapat bertemu dengan Jung songsaenim. Karena berdasarkan penelitiannya, Jung songsaenim hanya pergi ke perpustakaan di hari Sabtu. Sebenarnya Jaejoong seperti merasakan sesuatu yang membuatnya senang jika bertemu dengan guru tampan itu. Dia pun sudah memutuskan untuk menunggu hyungnya pulang nanti malam, karena dia ingin mencari tahu tentang Jung songsaenim. Dengan riang Jaejoong melangkahkan kakinya. Senyum terus terlukis di wajahnya yang manis itu. Dan senyum itu harus sirna karena pandangan di hadapannya. Jung songsaenim tersenyum sangat menawan. Itu  membuatnya harus merasakan sesuatu yang seperti getaran di hatinya. Namun, senyum manis guru tampan itu bukanlah untuknya. Ada seorang gadis di hadapannya. Membalas senyum Jung songsaenim. Dan Jung songsaenim menjabat tangan gadis itu lalu pergi. Menjauh dari perpustakaan, dan entah kemana. Siapa gadis itu? Apa dia adalah kekasih Jung songsaenim? Padahal terlihat jelas jika benang merah gadis itu tak tersambung dengan benng merah Yunho. Karena Yunho memang seperti Jaejoong yang tidak memiliki benang merah. Jaejoong merasakan getaran di hatinya. Getaran yang cukup membuat hatinya sakit. Apa aku mulai menyukainya?

T<B<C


FF / YUNJAE (YAOI) / MY RED YARN / PART 3

Title                       : MY RED YARN

Part                        : 3/?

Rating                   : PG+15 (YAOI)

Cast                       : Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Junsu, Park Yoochun, Shim Changmin, Kim Hyunjae, and other cast will appear

Author                  : Revi Junsu aka Han Hyesu aka Junsu’s Eternal Wife ^^

A/N        : Cerita ini aku buat sendiri tanpa memplagiat cerita manapun dan yang jelas ini cuma CERITA FIKTIF belaka.

douzo^^

^^^^^^^^^^

“Argh! Kenapa aku masih belum bisa tidur juga??” Jaejoong terus saja berguling-guling di atas tempat tidurnya. Sudah sejak setengah jam yang lalu dia pergi tidur, namun Jaejoong masih belum bisa memejamkan matanya. Ia tak mengantuk. Jaejoong terus saja memikirkan laki-laki yang mungkin seperti dirinya. Tak memiliki benang merah. Entah itu benar atau tidak, Jaejoong pun tak yakin. Ia hanya melihat sekilas. Satu-satunya cara adalah dia harus memastikannya. Tapi bagaimana caranya? Dia tak ingat rupa laki-laki itu. Dia hanya tau jika tak ada benang merah di jarinya. Itu pun ia sendiri masih merasa ragu. Selain itu, Jaejoong hanya ingat jika laki-laki itu bertubuh tinggi dan berambut coklat tua dengan poni yang diangkat. Ada banyak orang yang bercirikan seperti itu di Seoul. Aish. Apa yang harus dilakukannya?

“ahhh! Perpustakaan. Tentu saja perpustakaan. Aku akan kembali ke sana besok..”

^^^^^^^^^^

Hari ini adalah hari Rabu. Salah satu hari kerja Jaejoong di Perpustakaan Seoul. Setelah sekolah usai, Jaejoong langsung menuju ke perpustakaan yang letaknya tak jauh jika dari sekolahnya. Tanpa berpamitan pada Junsu dia langsung pergi. Jaejoong benar-benar penasaran dengan laki-laki ini. Setelah ia sampai, Jaejoong segera mengganti seragamnya dengan seragam kerjanya. Jaejoong bekerja sambil mencari-cari laki-laki itu. Mungkin saja jika laki-laki itu sering datang ke perpustakaan ini, bukan? Jaejoong berharap jika laki-laki itu adalah seorang mahasiswa yang sedang membuat skripsinya, dengan begitu laki-laki itu pasti akan sering berkunjung ke perpustakaan ini. Jaejoong mempertajam penglihatannya begitu ia melihat seorang laki-laki di rak terpojok yang sedang berdiri membelakanginya. Berpostur tinggi dengan rambut yang berwarna coklat tua. Tanpa menelitinya lagi, Jaejong segera menghampirinya.

“Annyong..” Sapa Jaejoong lembut.

“Ahh- annyong. Ada yang bisa saya bantu?” Jaejoong langsung kecewa begitu laki-laki ini berbalik menghadapnya. Laki-laki ini tak berponi. Dan begitu Jaejoong melirik jari kelingking kiri laki-laki itu, terikat sehelai benang merah di sana. Aish, paboya Jaejoong.

“Um, cheongmal mianhae. Aku salah orang..” Jaejoong langsung membungkuk sedalam-dalamnya. Wajahnya kini sudah memerah. Dia terus saja mengumpat dirinya sendiri dalam hati. Sungguh memalukan.

“Gwenchana. e—ee..”

“Kim Jaejoong..” Jaejoong langsung menyebutkan namanya begitu melihat kebingungan laki-laki tampan dan manis di hadapannya.

“Ahh ne. Gwenchanayo Jaejoong-shi..”Jawabnya dengan senyuman. “Shim Changmin imnida. Mannaseo bangapsumnida, Jaejoong-shi..”

“Ne, mannaseo bangapsumnida, Changmin-shi.”

“Panggil aku biasa saja. Cukup dengan Changmin. Boleh aku memanggilmu Jaejoong saja?”

“Tentu..”

“Sepertinya kita akan sering bertemu. Aku sedang membuat skripsiku saat ini..” Jaejoong terkesima. Harapannya terkabul di orang yang salah. Aish. Namun, setidaknya dia mendapat teman baru.

“Aku lebih muda darimu, Hyung. Jadi aku akan memanggilmu Changmin hyung..”

“Cheongmal? Berapa umurmu?”

“Umurku 15 tahun..”

“Omo! Jarak umur yang cukup jauh. Umurku 20 tahun..”

“Mianhae, hyung. Aku harus kembali kerja.”

“Gwenchana. Apa besok kita bertemu lagi?”

“Mian, besok bukan hari kerjaku..” Jaejoong tak mengatakan jika besok dan sampai dia menemukan laki-laki itu, dia akan tetap pergi ke perpustakaan.

“Arraseo, sampai ketemu lagi Jaejoong-ah..”  Jaejoong segera melanjutkan pekerjaannya lagi. Sepertinya Jaejoong  harus berusaha lebih keras lagi. Dan jangan sampai salah lagi. Aish, paboya Kim Jaejoong.

^^^^^^^^^^

“kau sudah dengar berita baru, Jae?” Junsu sedikit mendorong bahu Jaejoong. Kini Jaejoong dan Junsu sudah duduk di kursi masing-masing karena bel masuk baru saja berbunyi.

“Berita baru? Berita apa?”

“Kita kedatangan guru Bahasa Jepang yang baru. Karena Chieko songsaenim sedang cuti hamil.”

“Cheongmal? Padahal aku menyukai cara mengajar Chieko songsaenim. Aish. Seperti apa dia?”

“Molla. Dan katanya dia tampan..”

“Aish, Junsu-ah. Kau sudah melupakan Yoochun, ya?”

“Ahh~” Seketika wajah Junsu memerah. Bahkan hingga ke telinganya. Jaejoong tersenyum penuh arti. “K—ka-kau..”

“Aku tak akan bilang siapa pun. Percayakan padaku, Junsu-ah..” Ujar Jaejoong sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri. Namun, wajah Junsu masih saja memerah. Dan akhirnya Jaejoong pun tertawa melihat tingkah lucu sahabatnya ini. Junsu benar-benar menggemaskan.

“Selamat pagi, anak-anak..” Tawa Jaejoong langsung berhenti ketika Lee songsaenim mengucapkan salam. Semua murid langsung duduk rapi dan memperhatikan Lee songsaenim.

“Seperti yang telah kita ketahui, Chieko songsaenim sedang cuti hamil, sehingga untuk mata pelajaran Bahasa Jepang akan digantikan dengan guru lain. Silahkan perkenalkan diri Anda..” Lee songsaenim menunjuk seorang laki-laki di sebelahnya. Benar kata Junsu, dia tampan.

“Annyong haseyo. Jung Yunho imnida. Mulai dari sekarang hingga Chieko songsaenim menyelesaikan cutinya, saya yang akan mengajar Bahasa Jepang. Mohon Bantuannya..” Hey, kenapa Jaejoong merasa pernah melihatnya? Seingatnya, Jaejoong tak memiliki kenalan dengan nama Jung Yunho. Aish, entahlah. Mungkin ini hanya perasaannya.

^^^^^^^^^^

“Kita akan bertanding kira-kira 1 bulan lagi. Maka dari itu, kita harus lebih berusaha lagi. Dengan latihan yang sungguh-sungguh kita pasti bisa meraih kemenangan dengan mudah. Dan tentunya juga dengan siasat dan strategi. Jangan lupa dengan kekompakkan. Karena kekompakkan sangat dibutuhkan di lapangan. Ayo kita mulai berlatih!!” Yoochun, sang kapten tim sepak bola Shinki Senior High School seperti biasa selalu memberikan semangat sebelum latihan dimulai. Sebagai kapten, Yoochun memang dihormati, namun, dia tak pernah menyalahgunakan jabatannya itu. Dia adalah kapten yang baik selama 2 tahun ini. Tahun kemarin, Shinki berhasil memenangkan pertandingan sepak bola antar sekolah di Seoul, dengan Yoochun sebagai kaptennya. Namun menurut Yoochun, ini semua berkat kerja keras Shinki, bukan karena dirinya. Dan Kim Junsu selalu saja merasa bangga dengan laki-laki pujaannya itu. Dia selalu saja mengagumi  Yoochun. Kim Junsu benar-benar telah mencintai Park Yoochun. Sudah tak dipedulikannya lagi soal jenis kelamin mereka yang jelas-jelas sama. Seorang laki-laki. Cinta bisa melupakan segalanya. Terlebih Yoochun memang jodoh Junsu, bukan?

Tak terasa latihan selama dua jam terlewati begitu saja. Banyak para siswa yang telah bersiap untuk pulang. Begitu pun Junsu. Setelah merasa siap untuk kembali ke rumah, Junsu segera meninggalkan lapangan sepak bola. Namun, Junsu menghentikan langkahnya ketika melihat Yoochun yang masih berlatih menggiring bola. Ia letakkan lagi tasnya. Dengan segenap keberanian, Junsu menghampiri sunbaenya itu.

“Yoochun sunbae, kau tak pulang?”

“Ahh—Junsu-ah. Aku masih ingin berlatih di sini. Kau duluan saja..” Jawabnya sambil tersenyum. Peluh telah membuat tubuhnya basah. Begitu pun kaos dan celana pendek yang ia kenakan. Itu terlihat sexy.

“um.. boleh ku temani?” Wajah Junsu sudah memerah. Tidak hanya karena melihat Yoochun yang sedikit tampak sexy, tapi juga karena menahan malu. Junsu tak berani mengatakan hal itu.

“Kalau kau tak merepotkan..” Kini senyum Yoochun benar-benar membuatnya hampir jatuh. Junsu tak kuat. Laki-laki di hadapannya memiliki pesona yang besar. Segera ia balas senyum Yoochun dengan senyum tipis dan langsung ia alihkan pandangannya kemana pun.

“T—te—tentu tidak, Sunbae..” Junsu segera berlari ke arah lapangan dan berlatih bersama Yoochun. Junsu terus saja tersenyum saat itu. Dia benar-benar bahagia.

^^^^^^^^^^

Hari ini, Jaejoong lagi-lagi meninggalkan Junsu. Ia segera menuju ke perpustakaan begitu sekolah usai. Namun kali ini, Jaejoong tidak bekerja. Ia hanya akan mencari laki-laki itu. Jaejoong mempertajam penglihatannya lagi. Sudah sekitar 1 jam Jaejoong di sana, namun tak juga ditemukannya laki-laki itu. Aish, apa dia tidak pergi ke perpustakaan hari ini? Setelah merasa cukup lama, akhirnya Jaejoong kembali ke apartemennya karena ia harus segera menyiapkan makan malam. Hari ini Hyunjae pulang cepat. Senyum pun terlukis di bibir Jaejoong. Dia akan memasak makanan spesial.

Pukul 06.00, Jaejoong sampai di apartemennya. Setelah tadi mampir ke sebuah supermarket untuk berbelanja bahan masakannya. Sudah ia putuskan, Jaejoong akan memasak makanan Jepang hari ini. Hyungnya memang penggemar makanan Jepang. Jaejoong memilih Okonomiyaki sebagai makanan utamanya. Dia juga akan memasak tempura, karaage, dan tentu kimchi.

Semua makanan siap pada pukul 07.15. Tepat waktu. Hyunjae akan sampai sekitar jam 07.30, saat ini dia sedang dalam perjalanan pulang. Selama menunggu hyungnya, Jaejoong memilih untuk mandi.

“Aku pulang..” akhirnya Hyunjae sampai di apartemen. Jaejoong segera menyambut hyungnya itu. Tak lupa dengan senyuman.

“Selamat datang..”

“Hey, little Joongieku. Umm.. sepertinya ada seseorang yang memasak makanan enak..”

“Ayo cepat mandi, hyung. Aku sudah membuat okonomiyaki untukmu..”

“Cheongmal? Woah, little Joongieku memang baik..” Hyunjae mengusap kepala Jaejoong hingga rambutnya sedikit berantakan. Jaejoong hanya cemberut karena merasa diperlakukan seperti anak kecil. “Aku mandi dulu yaaa..”

Setelah Hyunjae selesai mandi. Ia segera menghampiri adiknya yang sedang menyiapkan makanan untuknya. Ini semua tampak lezat. Tak percuma ia bawa adiknya itu untuk tinggal di Seoul.

“Ini, hyung. Harus dihabiskan.”

“Dengan senang hati..”

Malam itu mereka habiskan berdua saja. Sudah lama sekali Hyunjae tidak berkumpul dengan Jaejoong. Karena tugas-tugasnya di Universitas Seoul memang sangatlah banyak. Belum lagi pekerjaannya sebagai guru. Hari ini dia pulang lebih cepat, karena setengah tugasnya sudah selesai. Sehingga dia meluangkan waktu untuk berkumpul dengan adiknya. Dan besok dia akan pulang larut seperti biasa.

^^^^^^^^^^

“Jae-ah, kenapa akhir-akhir ini kau meninggalkanku?” Atap sekolah sekarang menjadi tempat mereka untuk makan siang. Ini semua adalah permintaan Junsu. Dan hingga sekarang Jaejoong masih belum tau alasannya.

“Hehe, mianhae Junsu-ah. Aku ada urusan penting. Jadi kau tidak usah menungguku lagi..”

“Urusan apa? Apa penting sekali hingga sudah dua kali kau tinggalkan aku?” Junsu mulai cemberut.

“Mian, aku tak bisa cerita. Jadi mulai hari ini hingga urusanku selesai, kau boleh pulang duluan. Tak usah menungguku. Mianhae..”

“Aish, gwenchana. Lagipula akhir-akhir ini aku harus latihan setiap sepulang sekolah..”

“Pertandingannya bulan depan, bukan? Masih cukup lama, kenapa kau sudah berusaha keras sejak sekarang?”

“Meskipun pertandingan masih sebulan lagi, tetapi kita harus siap sebelum pertandingan itu..”

“Kau pasti senang dilatih oleh kapten Shinki..” Jaejoong mulai menggoda Junsu. Hobi barunya mungkin. Dan sesuai dugaan, Wajah Junsu langsung memerah.

“A—apa maksudmu?”

“Tak usah mengelak. Aku sangat tahu tentang hatimu yang sedang mengagumi seseorang..”

“Tidak seperti itu, Jae-ah..” Kini Junsu menundukkan wajahnya dalam-dalam. Dia benar-benar menggemaskan. Perasaan iri yang dulu membelenggu hati Jaejoong, secara perlahan mulai sirna. Meski mungkin dia tidak memiliki pasangan hidup tetapi setidaknya ia memiliki banyak orang yang menyayanginya.

“Apa atap sekolah ini pun karenanya?”

“ehh–!” Wajah Junsu semakin merah. Hingga ke telinganya. Ternyata atap sekolah adalah tempat yang nyaman menurut Yoochun. Pantas Junsu selalu saja mengajak Jaejoong untuk makan siang disini.

“Ternyata benar. Tapi kenapa aku tak pernah melihatnya??” Tanya Jaejoong.

“Karena ia selalu kesini untuk tidur. Aku pun tak tau dia selalu tidur dimana?”

“Bagaimana kalau kita mencarinya??” Jaejoong menggoda Junsu lagi.

“Ani ani ani ani.. itu benar-benar bukan ide yang bagus. Nanti akan mengganggunya..”

“Kau benar juga. Woah, lima menit lagi bel masuk berbunyi, ayo kita turun..”

“Ne..” Jaejoong dan Junsu segera pergi menuju kelas mereka. Dan tak menyadari kehadiran seseorang di sana.

^^^^^^^^^^

Setelah tadi Jaejoong berpamitan dengannya, Junsu segera berlari ke arah lapangan sepak bola. Sesampainya di sana, dia segera mengganti seragamnya. Dan segera berlari ke arah lapangan. Latihan dilakukan seperti biasanya. Selama 2 jam. Dan lagi, Junsu menemani Yoochun latihan setelah latihan usai. Seperti kemarin. Namun, ada yang berbeda untuk hari ini.

“Yoochun sunbae, maukah kau pulang bersamaku?” Junsu dengan gugup mengatakan hal itu. Wajah yang merah dan kepala yang tertunduk menunjukkan kegugupannya.

Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Yoochun. Entah merasa berat hati atau tak bisa menolak. Yang pasti, Junsu sedang mencoba keberuntungannya. “ne..”

“Mwo??”

“Ayo kita pulang..” Junsu langsung merasa sangat sangat bahagia ketika mendengar hal itu, ternyata usahanya membuahkan hasil. Ia berhasil membujuk Yoochun untuk pulang bersamanya. Satu lagi hari membahagiakan untuk Kim Junsu.

^^^^^^^^^^

Semenjak Jaejoong tak lagi pulang bersama Junsu, Yoochun sudah menjadi penggantinya. Sejak kejadian saat itu, Yoochun selalu pulang bersamanya. Tanpa Junsu membujuknya lagi. Yoochun pasti akan mengajaknya pulang bersama. Rumah mereka memang tak searah, sehingga mereka akan berpisah di halte bus. Meski begitu, Junsu sudah sangat senang. Junsu semakin mencintai Yoochun. Dan bagaimana dengan Yoochun? Dia tak tampak seperti itu, bukan? Junsu harus berusaha keras lagi.

^^^^^^^^^^

Jaejoong memiliki kebiasaan baru sekarang. Setelah sekolah usai, dia pasti akan pergi ke Perpustakaan Seoul. Saat hari kerjanya ataupun bukan. Sudah sekitar 5 hari ini, Jaejoong masih saja belum menemukan laki-laki itu. Apa dia benar-benar salah melihat? Rasa putus asa sedikit demi sedikit menguasai hatinya. Namun teman barunya, Changmin selalu mendukungnya. Mereka hampir selalu bertemu dan akhirnya mulai sedikit akrab. Jaejoong pun menceritakan tentang laki-laki yang ia cari itu. Tentu dengan alasan lain. Terlalu mustahil jika Jaejoong menceritakan alasan sebenarnya, bukan?  Hari ini, hari Sabtu. Hari kerja Jaejoong di Perpustakaan Seoul. Jaejoong tetap bekerja sambil mencari laki-laki itu. Dia tak boleh menyerah sekarang. Hatinya benar-benar ingin bertemu dengan laki-laki itu. Meski sebenarnya Jaejoong pun tak tau harus melakukan apa jika sudah bertemu dengannya.

Brraaaakkk..

“Ah- mianhae..” Jaejoong segera menatap orang yang sedang berlutut di hadapannya untuk mengambil buku yang telah ia jatuhkan. Jaejoong pun segera mengambil buku itu dari tangan seorang laki-laki yang sepertinya ia kenal.

“Mian, biar aku yang merapikan..” Ujar Jaejoong sambil menumpuk buku-buku yang berjatuhan untuk ia susun kembali di raknya.

“Gomawo..” OMO!! Guru Bahasa Jepang Jaejoong ada di hadapannya sekarang. Ini benar-benar gawat. Shinki Senior High School adalah sekolah yang melarang siswanya untuk kerja sambilan. Jaejoong langsung berharap semoga Jung Songsaenim tak mengenalinya.

“Biar aku bantu..” Ujar guru itu. Aish, apa yang harus ku lakukan?  Namun, sepertinya Yunho tak mengenali Jaejoong sebagai muridnya. Dia guru baru, bukan? Mana mungkin ia bisa langsung hafal semua muridnya? Jaejoong menghela nafas lega. Hey, ada yang aneh dari laki-laki tampan di sampingnya ini. Kenapa tak ada benang merah di jarinya??? Apa Jaejoong salah melihat? Dengan jarak yang baru ia sadari ternyata dekat, Jaejoong yakin jika gurunya itu memang tak memiliki benang merah sepertinya.

“Yak, selesai. Mian, aku membuatnya berantakan..” Dan baru Jaejoong sadari jika Jung songsaenim seperti laki-laki yang ia tabrak waktu itu. Bertubuh tinggi dengan rambut berwarna coklat tua dan poni yang di angkat. Dia tampan. Aish, Kim Jaejoong apa yang kau pikirkan?

“Gwenchana??” Merasa aneh dengan laki-laki manis di hadapannya, Yunho mulai menepuk bahu Jaejoong. Dan Jaejoong langsung tersadar dari lamunannya.

“Ahh-“

“Gwenchana?” Yunho mengulang lagi pertanyaannya.

“Ne, gwenchana..”

“Aku permisi dulu..” Jung Yunho sepertinya melupakan Jaejoong. Melupakan jika Jaejoong adalah salah satu muridnya juga melupakan jika Jaejoonglah yang waktu itu membuatnya kesal. Apa yang harus kulakukan, Tuhan? Begitu pikir Jaejoong. Jaejoong merasa bahagia sekarang. Laki-laki yang selama ini dicarinya telah ditemukannya. Terima kasih Tuhan.

T<B<C