Title                       : MY RED YARN

Part                        : 3/?

Rating                   : PG+15 (YAOI)

Cast                       : Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Junsu, Park Yoochun, Shim Changmin, Kim Hyunjae, and other cast will appear

Author                  : Revi Junsu aka Han Hyesu aka Junsu’s Eternal Wife ^^

A/N        : Cerita ini aku buat sendiri tanpa memplagiat cerita manapun dan yang jelas ini cuma CERITA FIKTIF belaka.

douzo^^

^^^^^^^^^^

“Argh! Kenapa aku masih belum bisa tidur juga??” Jaejoong terus saja berguling-guling di atas tempat tidurnya. Sudah sejak setengah jam yang lalu dia pergi tidur, namun Jaejoong masih belum bisa memejamkan matanya. Ia tak mengantuk. Jaejoong terus saja memikirkan laki-laki yang mungkin seperti dirinya. Tak memiliki benang merah. Entah itu benar atau tidak, Jaejoong pun tak yakin. Ia hanya melihat sekilas. Satu-satunya cara adalah dia harus memastikannya. Tapi bagaimana caranya? Dia tak ingat rupa laki-laki itu. Dia hanya tau jika tak ada benang merah di jarinya. Itu pun ia sendiri masih merasa ragu. Selain itu, Jaejoong hanya ingat jika laki-laki itu bertubuh tinggi dan berambut coklat tua dengan poni yang diangkat. Ada banyak orang yang bercirikan seperti itu di Seoul. Aish. Apa yang harus dilakukannya?

“ahhh! Perpustakaan. Tentu saja perpustakaan. Aku akan kembali ke sana besok..”

^^^^^^^^^^

Hari ini adalah hari Rabu. Salah satu hari kerja Jaejoong di Perpustakaan Seoul. Setelah sekolah usai, Jaejoong langsung menuju ke perpustakaan yang letaknya tak jauh jika dari sekolahnya. Tanpa berpamitan pada Junsu dia langsung pergi. Jaejoong benar-benar penasaran dengan laki-laki ini. Setelah ia sampai, Jaejoong segera mengganti seragamnya dengan seragam kerjanya. Jaejoong bekerja sambil mencari-cari laki-laki itu. Mungkin saja jika laki-laki itu sering datang ke perpustakaan ini, bukan? Jaejoong berharap jika laki-laki itu adalah seorang mahasiswa yang sedang membuat skripsinya, dengan begitu laki-laki itu pasti akan sering berkunjung ke perpustakaan ini. Jaejoong mempertajam penglihatannya begitu ia melihat seorang laki-laki di rak terpojok yang sedang berdiri membelakanginya. Berpostur tinggi dengan rambut yang berwarna coklat tua. Tanpa menelitinya lagi, Jaejong segera menghampirinya.

“Annyong..” Sapa Jaejoong lembut.

“Ahh- annyong. Ada yang bisa saya bantu?” Jaejoong langsung kecewa begitu laki-laki ini berbalik menghadapnya. Laki-laki ini tak berponi. Dan begitu Jaejoong melirik jari kelingking kiri laki-laki itu, terikat sehelai benang merah di sana. Aish, paboya Jaejoong.

“Um, cheongmal mianhae. Aku salah orang..” Jaejoong langsung membungkuk sedalam-dalamnya. Wajahnya kini sudah memerah. Dia terus saja mengumpat dirinya sendiri dalam hati. Sungguh memalukan.

“Gwenchana. e—ee..”

“Kim Jaejoong..” Jaejoong langsung menyebutkan namanya begitu melihat kebingungan laki-laki tampan dan manis di hadapannya.

“Ahh ne. Gwenchanayo Jaejoong-shi..”Jawabnya dengan senyuman. “Shim Changmin imnida. Mannaseo bangapsumnida, Jaejoong-shi..”

“Ne, mannaseo bangapsumnida, Changmin-shi.”

“Panggil aku biasa saja. Cukup dengan Changmin. Boleh aku memanggilmu Jaejoong saja?”

“Tentu..”

“Sepertinya kita akan sering bertemu. Aku sedang membuat skripsiku saat ini..” Jaejoong terkesima. Harapannya terkabul di orang yang salah. Aish. Namun, setidaknya dia mendapat teman baru.

“Aku lebih muda darimu, Hyung. Jadi aku akan memanggilmu Changmin hyung..”

“Cheongmal? Berapa umurmu?”

“Umurku 15 tahun..”

“Omo! Jarak umur yang cukup jauh. Umurku 20 tahun..”

“Mianhae, hyung. Aku harus kembali kerja.”

“Gwenchana. Apa besok kita bertemu lagi?”

“Mian, besok bukan hari kerjaku..” Jaejoong tak mengatakan jika besok dan sampai dia menemukan laki-laki itu, dia akan tetap pergi ke perpustakaan.

“Arraseo, sampai ketemu lagi Jaejoong-ah..”  Jaejoong segera melanjutkan pekerjaannya lagi. Sepertinya Jaejoong  harus berusaha lebih keras lagi. Dan jangan sampai salah lagi. Aish, paboya Kim Jaejoong.

^^^^^^^^^^

“kau sudah dengar berita baru, Jae?” Junsu sedikit mendorong bahu Jaejoong. Kini Jaejoong dan Junsu sudah duduk di kursi masing-masing karena bel masuk baru saja berbunyi.

“Berita baru? Berita apa?”

“Kita kedatangan guru Bahasa Jepang yang baru. Karena Chieko songsaenim sedang cuti hamil.”

“Cheongmal? Padahal aku menyukai cara mengajar Chieko songsaenim. Aish. Seperti apa dia?”

“Molla. Dan katanya dia tampan..”

“Aish, Junsu-ah. Kau sudah melupakan Yoochun, ya?”

“Ahh~” Seketika wajah Junsu memerah. Bahkan hingga ke telinganya. Jaejoong tersenyum penuh arti. “K—ka-kau..”

“Aku tak akan bilang siapa pun. Percayakan padaku, Junsu-ah..” Ujar Jaejoong sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri. Namun, wajah Junsu masih saja memerah. Dan akhirnya Jaejoong pun tertawa melihat tingkah lucu sahabatnya ini. Junsu benar-benar menggemaskan.

“Selamat pagi, anak-anak..” Tawa Jaejoong langsung berhenti ketika Lee songsaenim mengucapkan salam. Semua murid langsung duduk rapi dan memperhatikan Lee songsaenim.

“Seperti yang telah kita ketahui, Chieko songsaenim sedang cuti hamil, sehingga untuk mata pelajaran Bahasa Jepang akan digantikan dengan guru lain. Silahkan perkenalkan diri Anda..” Lee songsaenim menunjuk seorang laki-laki di sebelahnya. Benar kata Junsu, dia tampan.

“Annyong haseyo. Jung Yunho imnida. Mulai dari sekarang hingga Chieko songsaenim menyelesaikan cutinya, saya yang akan mengajar Bahasa Jepang. Mohon Bantuannya..” Hey, kenapa Jaejoong merasa pernah melihatnya? Seingatnya, Jaejoong tak memiliki kenalan dengan nama Jung Yunho. Aish, entahlah. Mungkin ini hanya perasaannya.

^^^^^^^^^^

“Kita akan bertanding kira-kira 1 bulan lagi. Maka dari itu, kita harus lebih berusaha lagi. Dengan latihan yang sungguh-sungguh kita pasti bisa meraih kemenangan dengan mudah. Dan tentunya juga dengan siasat dan strategi. Jangan lupa dengan kekompakkan. Karena kekompakkan sangat dibutuhkan di lapangan. Ayo kita mulai berlatih!!” Yoochun, sang kapten tim sepak bola Shinki Senior High School seperti biasa selalu memberikan semangat sebelum latihan dimulai. Sebagai kapten, Yoochun memang dihormati, namun, dia tak pernah menyalahgunakan jabatannya itu. Dia adalah kapten yang baik selama 2 tahun ini. Tahun kemarin, Shinki berhasil memenangkan pertandingan sepak bola antar sekolah di Seoul, dengan Yoochun sebagai kaptennya. Namun menurut Yoochun, ini semua berkat kerja keras Shinki, bukan karena dirinya. Dan Kim Junsu selalu saja merasa bangga dengan laki-laki pujaannya itu. Dia selalu saja mengagumi  Yoochun. Kim Junsu benar-benar telah mencintai Park Yoochun. Sudah tak dipedulikannya lagi soal jenis kelamin mereka yang jelas-jelas sama. Seorang laki-laki. Cinta bisa melupakan segalanya. Terlebih Yoochun memang jodoh Junsu, bukan?

Tak terasa latihan selama dua jam terlewati begitu saja. Banyak para siswa yang telah bersiap untuk pulang. Begitu pun Junsu. Setelah merasa siap untuk kembali ke rumah, Junsu segera meninggalkan lapangan sepak bola. Namun, Junsu menghentikan langkahnya ketika melihat Yoochun yang masih berlatih menggiring bola. Ia letakkan lagi tasnya. Dengan segenap keberanian, Junsu menghampiri sunbaenya itu.

“Yoochun sunbae, kau tak pulang?”

“Ahh—Junsu-ah. Aku masih ingin berlatih di sini. Kau duluan saja..” Jawabnya sambil tersenyum. Peluh telah membuat tubuhnya basah. Begitu pun kaos dan celana pendek yang ia kenakan. Itu terlihat sexy.

“um.. boleh ku temani?” Wajah Junsu sudah memerah. Tidak hanya karena melihat Yoochun yang sedikit tampak sexy, tapi juga karena menahan malu. Junsu tak berani mengatakan hal itu.

“Kalau kau tak merepotkan..” Kini senyum Yoochun benar-benar membuatnya hampir jatuh. Junsu tak kuat. Laki-laki di hadapannya memiliki pesona yang besar. Segera ia balas senyum Yoochun dengan senyum tipis dan langsung ia alihkan pandangannya kemana pun.

“T—te—tentu tidak, Sunbae..” Junsu segera berlari ke arah lapangan dan berlatih bersama Yoochun. Junsu terus saja tersenyum saat itu. Dia benar-benar bahagia.

^^^^^^^^^^

Hari ini, Jaejoong lagi-lagi meninggalkan Junsu. Ia segera menuju ke perpustakaan begitu sekolah usai. Namun kali ini, Jaejoong tidak bekerja. Ia hanya akan mencari laki-laki itu. Jaejoong mempertajam penglihatannya lagi. Sudah sekitar 1 jam Jaejoong di sana, namun tak juga ditemukannya laki-laki itu. Aish, apa dia tidak pergi ke perpustakaan hari ini? Setelah merasa cukup lama, akhirnya Jaejoong kembali ke apartemennya karena ia harus segera menyiapkan makan malam. Hari ini Hyunjae pulang cepat. Senyum pun terlukis di bibir Jaejoong. Dia akan memasak makanan spesial.

Pukul 06.00, Jaejoong sampai di apartemennya. Setelah tadi mampir ke sebuah supermarket untuk berbelanja bahan masakannya. Sudah ia putuskan, Jaejoong akan memasak makanan Jepang hari ini. Hyungnya memang penggemar makanan Jepang. Jaejoong memilih Okonomiyaki sebagai makanan utamanya. Dia juga akan memasak tempura, karaage, dan tentu kimchi.

Semua makanan siap pada pukul 07.15. Tepat waktu. Hyunjae akan sampai sekitar jam 07.30, saat ini dia sedang dalam perjalanan pulang. Selama menunggu hyungnya, Jaejoong memilih untuk mandi.

“Aku pulang..” akhirnya Hyunjae sampai di apartemen. Jaejoong segera menyambut hyungnya itu. Tak lupa dengan senyuman.

“Selamat datang..”

“Hey, little Joongieku. Umm.. sepertinya ada seseorang yang memasak makanan enak..”

“Ayo cepat mandi, hyung. Aku sudah membuat okonomiyaki untukmu..”

“Cheongmal? Woah, little Joongieku memang baik..” Hyunjae mengusap kepala Jaejoong hingga rambutnya sedikit berantakan. Jaejoong hanya cemberut karena merasa diperlakukan seperti anak kecil. “Aku mandi dulu yaaa..”

Setelah Hyunjae selesai mandi. Ia segera menghampiri adiknya yang sedang menyiapkan makanan untuknya. Ini semua tampak lezat. Tak percuma ia bawa adiknya itu untuk tinggal di Seoul.

“Ini, hyung. Harus dihabiskan.”

“Dengan senang hati..”

Malam itu mereka habiskan berdua saja. Sudah lama sekali Hyunjae tidak berkumpul dengan Jaejoong. Karena tugas-tugasnya di Universitas Seoul memang sangatlah banyak. Belum lagi pekerjaannya sebagai guru. Hari ini dia pulang lebih cepat, karena setengah tugasnya sudah selesai. Sehingga dia meluangkan waktu untuk berkumpul dengan adiknya. Dan besok dia akan pulang larut seperti biasa.

^^^^^^^^^^

“Jae-ah, kenapa akhir-akhir ini kau meninggalkanku?” Atap sekolah sekarang menjadi tempat mereka untuk makan siang. Ini semua adalah permintaan Junsu. Dan hingga sekarang Jaejoong masih belum tau alasannya.

“Hehe, mianhae Junsu-ah. Aku ada urusan penting. Jadi kau tidak usah menungguku lagi..”

“Urusan apa? Apa penting sekali hingga sudah dua kali kau tinggalkan aku?” Junsu mulai cemberut.

“Mian, aku tak bisa cerita. Jadi mulai hari ini hingga urusanku selesai, kau boleh pulang duluan. Tak usah menungguku. Mianhae..”

“Aish, gwenchana. Lagipula akhir-akhir ini aku harus latihan setiap sepulang sekolah..”

“Pertandingannya bulan depan, bukan? Masih cukup lama, kenapa kau sudah berusaha keras sejak sekarang?”

“Meskipun pertandingan masih sebulan lagi, tetapi kita harus siap sebelum pertandingan itu..”

“Kau pasti senang dilatih oleh kapten Shinki..” Jaejoong mulai menggoda Junsu. Hobi barunya mungkin. Dan sesuai dugaan, Wajah Junsu langsung memerah.

“A—apa maksudmu?”

“Tak usah mengelak. Aku sangat tahu tentang hatimu yang sedang mengagumi seseorang..”

“Tidak seperti itu, Jae-ah..” Kini Junsu menundukkan wajahnya dalam-dalam. Dia benar-benar menggemaskan. Perasaan iri yang dulu membelenggu hati Jaejoong, secara perlahan mulai sirna. Meski mungkin dia tidak memiliki pasangan hidup tetapi setidaknya ia memiliki banyak orang yang menyayanginya.

“Apa atap sekolah ini pun karenanya?”

“ehh–!” Wajah Junsu semakin merah. Hingga ke telinganya. Ternyata atap sekolah adalah tempat yang nyaman menurut Yoochun. Pantas Junsu selalu saja mengajak Jaejoong untuk makan siang disini.

“Ternyata benar. Tapi kenapa aku tak pernah melihatnya??” Tanya Jaejoong.

“Karena ia selalu kesini untuk tidur. Aku pun tak tau dia selalu tidur dimana?”

“Bagaimana kalau kita mencarinya??” Jaejoong menggoda Junsu lagi.

“Ani ani ani ani.. itu benar-benar bukan ide yang bagus. Nanti akan mengganggunya..”

“Kau benar juga. Woah, lima menit lagi bel masuk berbunyi, ayo kita turun..”

“Ne..” Jaejoong dan Junsu segera pergi menuju kelas mereka. Dan tak menyadari kehadiran seseorang di sana.

^^^^^^^^^^

Setelah tadi Jaejoong berpamitan dengannya, Junsu segera berlari ke arah lapangan sepak bola. Sesampainya di sana, dia segera mengganti seragamnya. Dan segera berlari ke arah lapangan. Latihan dilakukan seperti biasanya. Selama 2 jam. Dan lagi, Junsu menemani Yoochun latihan setelah latihan usai. Seperti kemarin. Namun, ada yang berbeda untuk hari ini.

“Yoochun sunbae, maukah kau pulang bersamaku?” Junsu dengan gugup mengatakan hal itu. Wajah yang merah dan kepala yang tertunduk menunjukkan kegugupannya.

Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Yoochun. Entah merasa berat hati atau tak bisa menolak. Yang pasti, Junsu sedang mencoba keberuntungannya. “ne..”

“Mwo??”

“Ayo kita pulang..” Junsu langsung merasa sangat sangat bahagia ketika mendengar hal itu, ternyata usahanya membuahkan hasil. Ia berhasil membujuk Yoochun untuk pulang bersamanya. Satu lagi hari membahagiakan untuk Kim Junsu.

^^^^^^^^^^

Semenjak Jaejoong tak lagi pulang bersama Junsu, Yoochun sudah menjadi penggantinya. Sejak kejadian saat itu, Yoochun selalu pulang bersamanya. Tanpa Junsu membujuknya lagi. Yoochun pasti akan mengajaknya pulang bersama. Rumah mereka memang tak searah, sehingga mereka akan berpisah di halte bus. Meski begitu, Junsu sudah sangat senang. Junsu semakin mencintai Yoochun. Dan bagaimana dengan Yoochun? Dia tak tampak seperti itu, bukan? Junsu harus berusaha keras lagi.

^^^^^^^^^^

Jaejoong memiliki kebiasaan baru sekarang. Setelah sekolah usai, dia pasti akan pergi ke Perpustakaan Seoul. Saat hari kerjanya ataupun bukan. Sudah sekitar 5 hari ini, Jaejoong masih saja belum menemukan laki-laki itu. Apa dia benar-benar salah melihat? Rasa putus asa sedikit demi sedikit menguasai hatinya. Namun teman barunya, Changmin selalu mendukungnya. Mereka hampir selalu bertemu dan akhirnya mulai sedikit akrab. Jaejoong pun menceritakan tentang laki-laki yang ia cari itu. Tentu dengan alasan lain. Terlalu mustahil jika Jaejoong menceritakan alasan sebenarnya, bukan?  Hari ini, hari Sabtu. Hari kerja Jaejoong di Perpustakaan Seoul. Jaejoong tetap bekerja sambil mencari laki-laki itu. Dia tak boleh menyerah sekarang. Hatinya benar-benar ingin bertemu dengan laki-laki itu. Meski sebenarnya Jaejoong pun tak tau harus melakukan apa jika sudah bertemu dengannya.

Brraaaakkk..

“Ah- mianhae..” Jaejoong segera menatap orang yang sedang berlutut di hadapannya untuk mengambil buku yang telah ia jatuhkan. Jaejoong pun segera mengambil buku itu dari tangan seorang laki-laki yang sepertinya ia kenal.

“Mian, biar aku yang merapikan..” Ujar Jaejoong sambil menumpuk buku-buku yang berjatuhan untuk ia susun kembali di raknya.

“Gomawo..” OMO!! Guru Bahasa Jepang Jaejoong ada di hadapannya sekarang. Ini benar-benar gawat. Shinki Senior High School adalah sekolah yang melarang siswanya untuk kerja sambilan. Jaejoong langsung berharap semoga Jung Songsaenim tak mengenalinya.

“Biar aku bantu..” Ujar guru itu. Aish, apa yang harus ku lakukan?  Namun, sepertinya Yunho tak mengenali Jaejoong sebagai muridnya. Dia guru baru, bukan? Mana mungkin ia bisa langsung hafal semua muridnya? Jaejoong menghela nafas lega. Hey, ada yang aneh dari laki-laki tampan di sampingnya ini. Kenapa tak ada benang merah di jarinya??? Apa Jaejoong salah melihat? Dengan jarak yang baru ia sadari ternyata dekat, Jaejoong yakin jika gurunya itu memang tak memiliki benang merah sepertinya.

“Yak, selesai. Mian, aku membuatnya berantakan..” Dan baru Jaejoong sadari jika Jung songsaenim seperti laki-laki yang ia tabrak waktu itu. Bertubuh tinggi dengan rambut berwarna coklat tua dan poni yang di angkat. Dia tampan. Aish, Kim Jaejoong apa yang kau pikirkan?

“Gwenchana??” Merasa aneh dengan laki-laki manis di hadapannya, Yunho mulai menepuk bahu Jaejoong. Dan Jaejoong langsung tersadar dari lamunannya.

“Ahh-“

“Gwenchana?” Yunho mengulang lagi pertanyaannya.

“Ne, gwenchana..”

“Aku permisi dulu..” Jung Yunho sepertinya melupakan Jaejoong. Melupakan jika Jaejoong adalah salah satu muridnya juga melupakan jika Jaejoonglah yang waktu itu membuatnya kesal. Apa yang harus kulakukan, Tuhan? Begitu pikir Jaejoong. Jaejoong merasa bahagia sekarang. Laki-laki yang selama ini dicarinya telah ditemukannya. Terima kasih Tuhan.

T<B<C