Title                       : MY RED YARN

Part                        : 4/?

Rating                   : PG+15 (YAOI)

Cast                       : Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Junsu, Park Yoochun, Shim Changmin, Kim Hyunjae, and other cast will appear

Author                  : Revi Junsu aka Han Hyesu aka Junsu’s Eternal Wife ^^


A/N        : Cerita ini aku buat sendiri tanpa memplagiat cerita manapun dan yang jelas ini cuma CERITA FIKTIF belaka.


douzo^^

^^^^^^^^^^

Masih sulit kupercaya. Jung songsaenim adalah orang yang bernasib sama sepertiku. Tapi, terasa aneh jika Jung songsaenim tak memiliki pasangan hidup. Laki-laki itu tampan, bukan? Bertubuh tinggi, berwajah keren, tubuhnya pun bagus. Sifatnya yang sedikit dingin pun turut mendukung betapa sempurnanya dia. Laki-laki berumur 20 tahun yang sebentar lagi akan lulus dari universitasnya dan demi mengisi liburannya, dia mengajar di sekolah ini. Aish, sudah banyak wanita yang mengagumi dan tergila-gila padanya. Tapi, aku benar-benar tidak melihat benang merahnya. Apa Tuhan memiliki rencana lain untuknya? Entahlah. Lalu, apa ada hubungannya antara aku dan dia? Apa mungkin kami adalah jodoh? Tapi, bukankah kami sama-sama pria? Aku sungguh tak mengerti.

“Kim Jaejoong..” Panggilannya menghapus lamunanku. Aku hampir saja lupa jika saat ini adalah jam pelajarannya.

“Ne, songsaenim..”

“Apa kau sakit?” Jung songsaenim tampak sedikit terperangah ketika melihatku. Omo! Apa Jung songsaenim mengingat soal pertemuannya denganku kemarin? Aish.

“Gwenchana..” Jawabku sedikit menunduk. Tentu tak berani menatapnya.

“Kau tampak sakit. Baiklah kalau kau memang baik-baik saja, kita teruskan pelajaran ini..” Jung songsaenim kembali memasang wajah dinginnya. Sepertinya dia memiliki rencana lain. Aku harus membujuknya.

^^^^^^^^^^

Saat bel istirahat berbunyi, Jaejoong segera mengejar guru Bahasa Jepangnya yang sudah keluar kelas lebih dulu. Dia yakin benar jika Jung songsaenim akan melaporkannya. Dan tentu dia akan mendapat peringatan dan tak bisa bekerja lagi. Dan pasti Hyunjae akan dipanggil ke sekolah, bukan? Aish. Ini gawat.

“Jung songsaenim!!” Jaejoong agak berteriak. Karena memang Yunho sudah cukup jauh darinya. Dengan terengah-engah, Jaejoong kembali berlari untuk menghampiri Yunho yang sudah berbalik menghadapnya.

“Ada apa?” Dengan wajah dingin, Yunho menatap Jaejoong yang masih sedikit terengah. Tentu Yunho ingat anak ini. Jika berdasarkan pada peraturan sekolah, Yunho pasti akan melaporkannya. Anak ini mengambil kerja sambilan. Dan dengan bodohnya dia bekerja di tempat yang bisa dikatakan dekat dari sekolah ini.

“A—aku, aku hanya ingin menjelaskan sesuatu padamu..”

“Mengenai pelajaran?” Yunho tampak memancing Jaejoong, agar Jaejoonglah yang mengaku, bukan dirinya yang menegur.

“Kau pasti tahu betul apa yang akan ku jelaskan, bukan?” Jaejoong memandang Yunho sedikit kesal. Gurunya itu berlagak tak tahu. Menyebalkan. “Mengenai kemarin, di Perpustakaan.” Lanjut Jaejoong.

“Arasseo. Ikut aku..” Jaejoong hanya bisa mengikuti Yunho. Dan ternyata Yunho membawanya ke ruangannya di sekolah itu.

“Masuk..” Yunho meletakkan buku-buku yang sejak tadi dibawanya. “Duduk saja di sana..” Sambil menunjuk sofa berukuran sedang di pojok ruangan itu, Yunho masih sedikit merapikan buku-buku di meja kerjanya. Yunho adalah guru pengganti, bukan? Tapi kenapa dia sudah memiliki ruangannya sendiri? Ini aneh. Apa Yunho berniat mengajar di sekolah ini setelah lulus?

“Ini ruangan yang kebetulan kosong..” Yunho tau apa yang dipikirkan Jaejoong. Sejak tadi Jaejoong memasang wajah berpikirnya sambil terus saja menatap ruangan ini. Aish, anak ini.

“Bicaralah.” Yunho duduk di hadapan Jaejoong. Ikatan dasinya agak kendur. Dua kancing kemejanya pun sudah terbuka. Sedikit dari dadanya yang tampak bagus itu terlihat. Kulit coklatnya menambah kesan sexy. Sexy? Aish, Jaejoong apa yang kau tatap? Dia laki-laki dan gurumu!

“Aku bekerja di Perpustakaan Seoul, karena Ayah dan Ibuku berada di Gyeonggi..” Jaejong memulai penjelasannya dengan sedikit gugup. Bagaimana tidak? Yunho menatapnya dingin dan jujur saja itu membuat wajahnya terasa panas dan jantungnya berdebar. Kenapa Jaejoong tampak aneh seperti Junsu?

“Kau tahu itu dilarang, bukan?” Dengan nada suara yang tetap dingin dan datar, Yunho seolah memperjelas kesalahan Jaejoong.

“Tentu aku tahu. Tapi, aku membutuhkannya..”

“Kau tinggal sendiri?”

“Ani. Bersama hyungku.”

“Apa dia tidak bekerja?”

“Dia bekerja. Hanya saja, hyungku pun harus kuliah sehingga aku harus membantunya..”

Helaan nafas panjang dari Yunho memecah keheningan di antara mereka. Apa yang harus dilakukannya? Tentu melaporkannya, bukan? Tetapi, mendengar penjelasannya itu Yunho tergerak untuk menolongnya. Untuk menutupi kebohongannya. Dilihatnya lagi siswa manis di hadapannya. Dia tampak menatap Yunho dengan penuh harap. Kenapa hatinya merasa terhanyut dengan mata itu? Mata besar yang indah. Sedikit merasa tertarik dengan siswanya ini, Yunho pun memutuskan sesuatu. “Arasseo..”

“Ehh—mwo?”

“Asal kau harus tetap belajar dengan rajin. Dan dengar, kau harus lebih berhati-hati lagi..” Yunho mengatakan itu masih dengan wajah dinginnya. Meski sejujurnya dia ingin sedikit tersenyum ketika melihat Jaejong yang tersenyum begitu lebar. Siswanya ini berwajah manis dan menarik.

“Kamsha hamnida, Songsaenim. Cheongmal kamsha hamnida. Aku tentu akan rajin belajar..” Jaejoong terus saja tersenyum. Tak diduganya jika guru tampan ini akan membantunya. Dan Jaejoong cukup bisa untuk melihat senyum tipis Yunho. Sepertinya di antara mereka memang ada suatu hubungan.

^^^^^^^^^^

Jaejoong lagi-lagi merasakan keanehan. Tentu dari sahabatnya itu, Junsu. Hari ini mereka akan makan siang di atap. Tetapi bukan hal itu yang tampak aneh. Keanehan itu tampak dari wajah Junsu. Sejak tadi Junsu terus saja tersenyum. Ada apa ini?

“Annyong, sunbae..” Aish. Pantas saja sejak tadi Junsu tersenyum. Ternyata hari ini Yoochun pun makan siang di atap bersama mereka. Tidak heran jika Junsu membawa dua kotak bekal.

“Annyong, sunbae..” Jaejoong pun ikut menyapa Yoochun yang tersenyum.

“Annyong..” Jawab Yoochun. Wajah Junsu memerah melihat Yoochun tersenyum. Anak ini memang jatuh cinta.

“Aku membawakanmu bekal, karena kupikir kau pasti akan berniat untuk membeli makanan di kantin..” Junsu mulai membuka kotak bekal dan menyerahkannya pada Yoochun. Junsu langsung mengambil posisi di samping Yoochun, sedang aku duduk berhadapan dengan mereka berdua.

“Ahh- Gomawo yo, Junsu-ah..”

“Mari makan..” Jaejoong memecah keheningan di antara mereka. Mereka makan dalam keheningan. Sepertinya Junsu terlalu gugup untuk memulai pembicaraan sedangkan Yoochun lebih tampak tak peduli.

“Junsu, tumben sekali kau mengajak Yoochun sunbae makan siang bersama kita.” Jaejoong tak tahan dengan keheningan yang terjadi. Sengaja dia mengeluarkan isi hatinya yang memang penasaran dengan usaha-usaha Junsu untuk mendekati Yoochun.

“Ak—aku hanya berpikir jika makan bertiga pasti akan lebih ramai. Lagipula aku harus mengucapkan rasa terima kasihku pada Yoochun sunbae yang selalu pulang bersamaku..”

“Ahh- soal itu, aku tidak merasa repot, kok..” Yoochun tampak sedikit terperangah mendengar penjelasan dari Junsu. Dia menghentikan makannya sambil menatap Junsu.

“Jadi, kau selalu pulang bersama Yochun sunbae? Syukurlah kalau kau sudah mendapatkan seseorang untuk pulang bersama, karena aku sedikit mengkhawatirkanmu..” Ujar Jaejoong sambil tersenyum. Junsu memandang Jaejoong sebal. Jelas-jelas itu aneh. Padahal selama ini, Jaejoong tampak lebih memperhatikan urusannya itu daripada pulang bersama Junsu. Aish.

Obrolan mereka terus saja berlanjut. Hingga bel masuk berbunyi. Junsu benar-benar serius untuk mendapatkan Yoochun. Dan bagaimana dengan Yoochun? Apakah dia tahu mengenai perasaan Junsu padanya? Sebenarnya, jika Yoochun tak menyadari perasaan Junsu itu terdengar aneh. Pasalnya Junsu sudah menunjukkan sinyal-sinyalnya. Namun, Yoochun masih tampak biasa jika bersama Junsu. Junsu memang harus lebih berusaha lagi.

^^^^^^^^^^

“Hyung, boleh aku bertanya sesuatu?” Hari ini hari Jumat. Tentu saja Jaejoong harus bekerja. Dan disinilah ia. Bersama Changmin yang sedang mencari-cari buku di salah satu rak di perpustakaan itu. Jaejoong bertemu lagi dengan Changmin.

“Tentu. Mwoya?” Changmin bertanya tanpa menatap dongsaeng barunya itu. Dia masih saja terpaku pada banyak buku yang tersusun rapi di raknya. Masih sibuk untuk mencari buku.

“Apa boleh seorang laki-laki mencintai laki-laki?” Tangan Changmin yang sejak tadi sibuk menunjuk rentetan buku, tiba-tiba berhenti. Changmin menatap Jaejoong dengan sebelah alisnya yang terangkat. Jaejoong hanya menatapnya polos.

“Apa maksudmu?”

“Um, apa boleh aku mencintai seorang laki-laki?” Jaejoong memperjelas pertanyaannya. Masih dengan wajahnya yang polos. Jaejoong hanya penasaran saja. Tentang Junsu dan Yoochun. Juga tentang dirinya dan mungkin dengan Jung songsaenim. Benang merah Junsu memang tersambung dengan benang merah Yoochun. Mereka adalah sepasang jodoh yang telah ditentukan. Lalu hubungan dirinya dan mungkin dengan Jung songsaenim adalah hubungan antara seseorang yang sama-sama tak memiliki benang merah. Walaupun hipotesisnya belum tentu benar, tapi Jaejoong menduga jika mereka mungkin saja jodoh, bukan?

“Kau menyukai seorang laki-laki?” Wajah Changmin sedikit tegang. Jaejoong adalah anak berumur 15 tahun. Dia masih terlalu dini untuk hubungan macam itu, bukan? Apa mungkin anak ini seorang—

“Apa tak boleh, Hyung?”

“Jadi kau memang menyukai seorang laki-laki?”

“Um, sebenarnya bukan aku. Tapi sahabatku..” Wajah Changmin sedikit lega. Pergaulan anak-anak zaman sekarang memang sedikit berbeda. Rasa khawatir mulai menjalari tubuh Changmin. Ia takut jika dongsaeng manisnya ini terpengaruh.

“Aku tak bisa bilang jika itu salah. Tetapi, hal seperti itu akan membuat kedua orang tuamu juga orang-orang di sekitarmu sedih dan kecewa..”

“Cheongmal? Tetapi, sahabatku benar-benar mencintainya? Jika kukatakan padanya seperti yang kau katakan padaku, pasti dia akan sedih, bukan?”

“Jaejoong-ah, cinta memang sedikit berbahaya. Seperti hal itu contohnya.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?” Jaejoong merasa bingung. Sejujurnya dia ingin membuktikan hipotesisnya. Seperti yang dilakukan Junsu pada Yoochun, dia pun akan mulai mendekati Jung songsaenim. Meski dia memang tak menyukainya. Tentu, Jaejoong masih laki-laki normal. Namun, Jaejoong tak ingin menghindari tentang benang merahnya yang tak ada itu. Jika dia menjalin sebuah hubungan dengan seseorang yang memiliki benang merah, mungkin saja atau pasti dia akan tersakiti. Karena memang bukan dia pasangannya. Orang-orang yang memiliki benang merah tentu punya pasangan yang telah ditentukan. Jaejoong tak mau mengusiknya. Hanya ini yang bisa ia pikirkan tentang benang merahnya yang entah kemana. Tentang dirinya dan Jung songsaenim.

“Jika memang sahabatmu itu mencintai seorang laki-laki, dan benar-benar tulus, biarkan saja. Karena tidak hanya berbahaya, cinta pun bisa memberikan seseorang keteguhan hati juga keberanian.  Sahabatmu itu pasti bisa menghadapi segala sesuatunya yang mungkin terjadi pada cintanya itu. Dukung dia, ne?”

“Bagaimana dengan kebahagiaan? Apa cinta memberikan kebahagiaan?”

“Tentu. Cinta bisa membuat seseorang menjadi lebih mensyukuri kehidupannya. Cinta bisa membuat seseorang selalu tersenyum. Meski cinta terkadang membuat seseorang menangis ataupun merasakan kekesalan, dan setelah kesedihan itu terlewati, cinta pasti akan mengajarkan seseorang untuk lebih tegar dan sabar. Bagaimana pendapatmu?”

“Woah, aku baru tahu jika cinta sebegitu hebatnya..” Jaejoong membuat ekspresi terkejut di wajahnya. Itu sangat manis juga menggemaskan. Changmin bersyukur bisa bertemu dengan Jaejoong.

“kau pasti akan merasakan cinta suatu hari nanti..” Tidak tahan dengan rasa gemasnya, Changmin mencubit kedua pipi Jaejoong sambil tertawa. “Kau sungguh menggemaskan.”

^^^^^^^^^^

“Songsaenim, bisa kau ulangi lagi. Aku belum mengerti..” Jaejoong telah memantapkan hatinya untuk mendekati Jung songsaenim. Dia mulai melakukan berbagai usahanya. Seperti saat ini, dia terus saja bertanya. Dia ingin Jung songsaenim mengingatnya terlebih dahulu. Meski sepertinya Jung songsaenim memang sudah mengingatnya karena kejadian waktu itu.

“Kenapa sejak tadi kau selalu bertanya, Jae-ah??” Junsu sudah merasakan keanehan pada Jaejoong. Sahabatnya ini sangat pandai di pelajaran Bahasa Jepang. Dia jarang sekali bertanya dengan Chieko songsaenim. Kenapa Jaejoong terus saja bertanya dengan Jung songsaenim?

“Karena aku belum mengerti..” Jawaban Jaejoong membuat Junsu sebal. Jelas-jelas sahabatnya ini sudah mengerti, bagaimana tidak? Hampir semua latihan di bukunya sudah dikerjakannya. Dan dia masih terus saja bertanya. Yunho pun hanya meladeni semua pertanyaan Jaejoong dengan datar. Meski dia sebenarnya sedikit heran. Kenapa dia tampak seperti ingin menarik perhatianku? Pikir Yunho.

^^^^^^^^^^

“Junsu-ah!!” Junsu berbalik dan mencari seseorang yang telah memanggilnya. Yoochun berdiri disana. Junsu pun langsung berlari menghampiri Yoochun yang sedang berdiri di depan ruang ganti klub sepak bola.

“Ada apa, sunbae?”

“Bisakah kau membantuku merapikan dan membersihkan ruang ganti di bagian sebelah sini? Karena manager kita sedang sakit.”

“Hyemi sakit??”

“Ne, kemarin beberapa anggota klub sepak bola sudah menjenguknya.”

“Arasseo. Kkajja!” Junsu tampak bersemangat. Lagi-lagi dia bersama Yoochun. Hanya berdua. Tentu saja Junsu senang. Dia akan lebih dekat dengan Yoochun. Senyum manisnya terkembang indah di wajahnya.

^^^^^^^^^^

“J—Ju—Jung songsaenim??” Jaejoong terperangah melihat songsaenimnya ada di depan apartemennya. Untuk apa dia kemari? Sebenarnya tadi Jaejoong malas untuk membukakan pintu ketika terdengar bel berbunyi. Namun, Hyunjae memaksanya untuk membuka pintu, Karena Hyunjae sedang sibuk menyiapkan materi mengajarnya untuk esok hari. Jika Jaejoong tahu bahwa tamunya adalah Jung songsaenim, dia pasti langsung membukakan pintu tanpa disuruh. Rasa senang sedang menyelubungi hatinya. Jaejoong merasa jika laki-laki tampan ini memang jodohnya. Mungkin.

“Jaejoong? Kau tinggal di sini?” Yunho pun sedikit kaget melihat siswa yang menurutnya manis ini yang membukakan pintu. Agak sedikit aneh, tapi Yunho merasa jika dirinya dan Jaejoong memang hampir selalu dipertemukan. Aish. “Apa ini benar apartemen Kim Hyunjae?”

“Hyunjae? Dia hyungku. Mari masuk songsaenim, tidak enak berbicara sambil berdiri.” Jaejoong mempersilakan Yunho untuk masuk dan duduk di sofa. “Kau ingin minum apa?”

“Apa saja. Um, bisakah kau panggilkan Hyunjae?”

“Tentu. Tunggu sebentar.” Jadi kakak Jaejoong adalah Hyunjae? Kenapa aku tidak tahu? Begitu pikir Yunho. Dia dan Hyunjae sudah berteman cukup lama. Mereka satu universitas dan mereka sama-sama mengikuti trainee menjadi guru. Aish.

Setelah cukup lama Hyunjae keluar dari kamarnya dan terkejut melihat temannya itu. Jaejoong hanya bisa mengintip mereka dari kamar tidurnya yang memang sedikit berdekatan dengan ruang tamunya. Jika Jung songsaenim adalah teman hyungnya, tentu ia bisa mencari tahu tentangnya lewat Hyunjae hyung, bukan? Ia akan bertanya pada hyungnya besok.

^^^^^^^^^^

Tidak sesuai dugaan, ternyata Hyunjae sudah lebih dulu berangkat. Padahal Jaejoong serius ingin tahu tentang Jung songsaenim. Aish. Jaejoong harus lebih berusaha lagi untuk mendekati Jung songsaenim. Hey, Jaejoong tampak menyukainya? Benarkah? Sepertinya memang. Semua usahanya untuk mendekati Jung songsaenim malah membuat Jaejoong merasakan getaran aneh jika berada dekat Jung songsaenim. Dan terkadang wajahnya pun memerah. Namun, Jaejoong belum begitu merasakan kehadiran cinta itu. Dia hanya ingin membuktikan hipotesisnya.

“Pagi Junsu-ah..” Sapa Jaejoong pada Junsu yang kini sudah sampai di kelasnya. Yang disapa hanya terdiam sambil tetap memandang jendela di sebelah kursinya. Wajah Junsu memperlihatkan kesedihan.

“Hey, Junsu-ah. Kau kenapa?” Jaejoong pun duduk di kursinya di samping Junsu.

Helaan nafas panjang terdengar dari bibir Junsu. Junsu mulai menatap Jaejoong sendu. Ada apa dengannya? Junsu terus saja terdiam. Ia seperti ingin menangis. “Boleh aku bercerita?”

“Tentu..” Jaejong yakin, ini pasti berhubungan dengan Yoochun.

“Mungkin aku akan mencoba untuk menjauhinya..” Sangat pelan Junsu memulai ceritanya. Jaejoong kaget mendengar kalimat itu. Bukankah Junsu tampak semangat sekali dalam mendekati Yoochun? Kenapa sekarang ia menyerah?

“Tapi, kenapa, Junsu-ah?”

“Dia—sepertinya Yoochun sunbae tak bisa mencintai laki-laki, tak bisa mencintaiku.”

“Apa itu benar? Apa kau sudah berusaha menyatakan cintamu padanya?”

“hampir dan—dia menolakku sebelum aku mengatakannya..”

***

Brruuukkk

Aku tidak merasakan sesuatu menimpaku. Padahal aku menjatuhkan banyak kardus. Kardus-kardus yang ingin aku bereskan cukup tinggi letaknya. Di atas loker-loker. Kuberanikan untuk membuka mata dan Yoochun sunbae ada di hadapanku. Kami benar-benar sangat dekat. Alhasil semua kardus itu menimpa tubuhnya. Wajahnya tampak kesakitan. Aku segera bangkit dan sedikit mendorongnya tentu.

“Yoochun sunbae, gwenchana??” Yoochun sunbae terduduk di hadapanku dengan ekspresi yang kesakitan. Segera ku usap punggungnya. Namun, Yoochun sunbae menepis tanganku pelan.

“Waeyo, Sunbae?”

“Kenapa kau baik padaku?” Sedikit tersentak ketika kudengar pertanyaan itu. Apa Yoochun sunbae tahu jika aku mencintainya?

“Te—tentu, karena kita sahabat.” Aku masih belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku takut jika Yoochun sunbae menolakku.

“Cheongmal? Tapi kenapa aku merasa jika kau perhatian denganku? Apa benar hanya karena kita bersahabat?”

“Aku rasa kau terlalu berlebihan, Junsu-ah. Perhatianmu itu sungguh baik jika kau berikan kepada orang yang kau cintai. Jangan berikan kepadaku—karena aku sahabatmu, bukan? Dan mianhae jika aku menjadi sedikit bergantung padamu..” Yoochun sunbae berkata lagi padaku yang baru saja ingin menyampaikan alasanku. Padahal saat itu terpikirkan olehku untuk menyatakan perasaan ini padanya, tetapi, tanpa kusangka, Yoochun sunbae seakan telah memupuskan keberanianku. Sungguh itu menyakiti hatiku. Aku hanya terdiam memandang kepergian Yoochun sunbae. Padahal pekerjaan untuk merapikan ruang ganti belum selesai. Aku ingin menangis.

***

“Dia hanya bingung..” Setelah sekian lama berpikir, Jaejoong hanya mengeluarkan kalimat itu untuk Junsu. Bingung. Apakah Yoochun menyukai Junsu atau tidak? Mereka sama-sama laki-laki! Pasti begitu.

“Bingung?”

“Ne, dia tidak tahu bagaimana perasaan sebenarnya padamu..”

“Benarkah begitu? Aku tak yakin, Jae-ah.”

“Kau harus yakin. Kau harus terus mencobanya. Bukankah kau mencintainya?”

“Tapi dia seperti menolakku.”

“Lupakan itu. Terus saja berikan perhatianmu kepadanya. Dan sebaiknya jangan memaksanya. Dia hanya tidak tahu tentang perasaannya kepadamu. Percayalah kepadaku.”

“Aku akan berusaha.” Junsu memang belum tersenyum. Kesedihan masih terlihat betul di wajahnya. Tetapi, setidaknya dia merasakan perhatian dan bantuan dari sahabat baiknya itu. Apa aku memang tak harus menyerah? Begitu pikir Junsu.

^^^^^^^^^^

Masih banyak waktu hingga Hyunjae pulang. Jaejoong memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Ya, hari ini hari Sabtu. Hari kerjanya. Selain itu, dia berharap dapat bertemu dengan Jung songsaenim. Karena berdasarkan penelitiannya, Jung songsaenim hanya pergi ke perpustakaan di hari Sabtu. Sebenarnya Jaejoong seperti merasakan sesuatu yang membuatnya senang jika bertemu dengan guru tampan itu. Dia pun sudah memutuskan untuk menunggu hyungnya pulang nanti malam, karena dia ingin mencari tahu tentang Jung songsaenim. Dengan riang Jaejoong melangkahkan kakinya. Senyum terus terlukis di wajahnya yang manis itu. Dan senyum itu harus sirna karena pandangan di hadapannya. Jung songsaenim tersenyum sangat menawan. Itu  membuatnya harus merasakan sesuatu yang seperti getaran di hatinya. Namun, senyum manis guru tampan itu bukanlah untuknya. Ada seorang gadis di hadapannya. Membalas senyum Jung songsaenim. Dan Jung songsaenim menjabat tangan gadis itu lalu pergi. Menjauh dari perpustakaan, dan entah kemana. Siapa gadis itu? Apa dia adalah kekasih Jung songsaenim? Padahal terlihat jelas jika benang merah gadis itu tak tersambung dengan benng merah Yunho. Karena Yunho memang seperti Jaejoong yang tidak memiliki benang merah. Jaejoong merasakan getaran di hatinya. Getaran yang cukup membuat hatinya sakit. Apa aku mulai menyukainya?

T<B<C