Title                       : MY RED YARN

Part                        : 5/?

Rating                   : PG+15 (YAOI)

Cast                       : Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Junsu, Park Yoochun, Shim Changmin, Kim Hyunjae, and other cast will appear

Author                  : Revi Junsu aka Han Hyesu aka Junsu’s Eternal Wife ^^


A/N        : Cerita ini aku buat sendiri tanpa memplagiat cerita manapun dan yang jelas ini cuma CERITA FIKTIF belaka.


douzo^^

^^^^^^^^


Seorang laki-laki di umurnya yang 15 tahun belum pernah merasakan cinta, mungkin terdengar aneh. Tapi, sepertinya aku pun begitu. Dan semua yang terasa saat ini pun sedikit lebih belum kupahami. Hanya terasa sakit atau mungkin sesak. Apa seperti ini salah satu rasa yang dapat diberikan cinta? Apa ini cinta? Terdengar aneh jika aku berhipotesis seperti ini. Aku mulai menyukai Jung songsaenim. Aneh. Pertama, kami berdua laki-laki (meski ikatan jodoh antara Junsu dan Yoochun sunbae sudah membuktikan hubungan aneh ini). Kedua, Jung songsaenim adalah guruku (sebenarnya semua perbedaan dalam suatu hubungan pasti akan terlupakan dan melebur karena telah dipersatukan). Dan yang paling penting, aku sama sekali belum mengenalnya (seperti yang sering ada dalam drama-drama atau film, cinta pandangan pertama. Mereka tentu belum saling mengenal dan karena cinta yang sudah mulai tumbuh di hatinya, seseorang itu mulai berusaha mengenal seseorang yang dicintainya hingga akhirnya mereka saling mengenal. Masalah ini tak bisa dihitung). Aish. Apa-apaan ini? Kenapa aku selalu mendapatkan fakta dari semua hal yang aneh antara aku dan Jung songsaenim? Dan semua hal aneh itu terlihat menjadi lebih baik. Aish. Jadi—ini semua cinta? Jadi aku harus memperjuangkannya? Meski ada beberapa hal yang menurutku aneh? Sejujurnya, aku ingin sekali mengetahui hubungan yang mungkin antara aku dan Jung songsaenim. Kenapa kami berdua sama-sama tidak memiliki benang merah? Entahlah. Untuk saat ini aku hanya ingin membuktikan hipotesisku saja. Ada suatu hubungan antara aku dan Jung songsaenim. Lalu bagaimana dengan gadis itu? Jika memang dia kekasih Jung songsaenim, apa yang harus kulakukan? Kurasa gadis itu pun harus ku selidiki. Besok aku akan berusaha keras.

^^^^^^^^^^

Setelah berpikir keras semalam di meja belajarnya, Jaejoong terlihat sedikit segar. Dia memang sudah bertekad untuk menyelidiki suatu hubungan yang mungkin antara dirinya dan Yunho. Juga hubungan antara Yunho dan gadis itu. Meski kenyataan yang mungkin terjadi nantinya akan menghalangi Jaejoong untuk mengungkapkan hipotesisnya tentang suatu hubungan antara dirinya dan Yunho. Tetapi, Jaejoong tetap ingin berusaha dulu. Ini demi dirinya, bukan? Atau demi cintanya?

“Joongie, telurnya gosong.” Seakan tersadar dari lamunannya, Jaejoong segera mematikan kompor. Dia benar-benar lupa jika saat ini dia sedang memasak sarapan untuk Hyunjae hyung juga untuk dirinya sendiri. Aish. Benang merahnya benar-benar mengalihkan perhatiannya.

“Mian, Hyung.”

“Hey! Kau ini kenapa? Hanya soal telur yang gosong dan wajahmu benar-benar merasa bersalah seperti ini. Apa Joongie sedang memikirkan sesuatu?” Hyunjae mulai mengelus kepala Jaejoong lembut. Dan Jaejoong merasa sangat nyaman. Hyunjae tidak berubah. Kebiasaannya itu selalu saja ia lakukan ketika Jaejoong sedang merasa kesal atau tidak senang. Dan Jaejoong selalu suka itu.

“Hanya masalah kecil, Hyung.” Jaejoong segera berbalik dan kembali meneruskan kegiatan sebelumnya di dapur. Kenapa tiba-tiba ia merasa sangat sedih? Apa karena benang merahnya yang tidak ada? Tapi Yunho juga tidak memilikinya dan Jaejoong baru saja akan menyelidiki kebenaran yang mungkin terjadi di antara mereka, bukan? Seharusnya Jaejoong bersemangat. Sepertinya memang bukan itu yang membuat Jaejoong merasa sedih. Kenyataan di depan perpustakaan kemarin adalah kenyataan yang sudah berulang kali membuat beberapa tempat di dadanya sakit. Senyum tulus dan indah milik Yunho bukan untuknya. Gadis manis yang berjalan beriringan dengannya sangatlah manis dan serasi dengannya. Ini cinta dan ini sakit.

^^^^^^^^^^

“Ini hari Sabtu, Hyung.” Changmin mengalihkan pandangannya dari laptop putihnya ke arah dongsaeng manisnya yang masih sibuk merapikan buku-buku di rak buku. Changmin juga tau jika hari ini adalah hari Sabtu. Sangat tau bahkan. Dan dongsaeng manisnya itu masih saja menggodanya dengan wajah polos. Aish.

“Lalu?” Pura-pura tak mengerti sepertinya adalah ide bagus yang saat itu terlintas di pikiran Changmin. Mengelak dari Jaejoong.

“Kenapa kau masih di sini?”

“Memangnya kenapa jika aku di sini? Apa aku mengganggu?”

“Kau tidak pergi ke suatu tempat?” Jaejoong mulai mengalihkan pandangannya ke arah Changmin yang masih menatapnya sedikit jengkel. Jaejoong tidak merasa jika pertanyaannya menyindir Changmin yang memang ‘sendiri’ saat ini. Jaejoong pasti berpikir jika Changmin memiliki seseorang yang spesial dan seharusnya dia tidak di sini bersama tumpukan-tumpukan buku juga sebuah laptop. Seharusnya Changmin pergi ke suatu tempat bersama seseorang yang spesial itu. Terutama hari ini adalah hari Sabtu. Aish. Changmin harus memberitahunya.

“Untuk apa? Berkencan maksudmu? Aku sendiri!” Dengan suara yang terus terang saja cukup kencang dan nada yang blak-blakan, Changmin langsung mengalihkan pandangannya ke laptop lagi setelah selesai mengatakan hal itu. Jaejoong hanya terdiam dan masih menatap Changmin yang wajahnya benar-benar kesal. Changmin hyung tidak memiliki kekasih?

“Kau bercanda, Hyung.” Jaejoong mulai duduk di sebelah Changmin yang masih saja tampak sibuk dengan laptopnya. Namun, Jaejoong yakin jika pikiran Changmin sudah tidak terfokus lagi ke sana. Changmin pasti memikirkan hal lain.

“YA! Kau mengejekku!” Dengan wajah kesalnya Changmin memukul bahu Jaejoong. Dongsaeng manisnya itu hanya menatapnya polos. Aish. Jaejoong benar-benar dapat menjadi monster yang menjengkelkan juga menggemaskan di saat yang bersamaan.

“Tapi, kau kan sangat tampan, Hyung. Kau juga pintar dan keren. Seharusnya banyak gadis yang tergila-gila padamu!”

“Itu kan pendapatmu.”

“Jadi, tidak ada gadis yang menyukaimu?”

“Aish. Bukan seperti itu. Hanya saja aku merasa jika mereka merepotkan untukku saat ini.”

“Um. Bukankah memiliki seorang kekasih itu keren, Hyung?”

“Tidak juga. Terkadang aku merasa jika mereka terlalu berisik dan mengganggu.”

“Mengajaknya berkencan, memberikannya hadiah, berciuman, woah! Itu pasti seru kan, Hyung?” Jaejoong benar-benar menggambarkan ekspresi kebahagiaannya. Sepertinya Jaejoong sangat ingin memiliki kekasih saat ini.

“Hey! Ada apa denganmu? Kau ingin memiliki seorang kekasih?”

“Um. Mungkin.” Kekasih? Selama ini Jaejoong memang tidak pernah sekalipun berpikir untuk memiliki kekasih.  Padahal banyak gadis yang menyukainya. Wajahnya yang tampan dan menarik merupakan faktor utama para gadis yang melihatnya langsung tertarik untuk mendekatinya. Yea, lagi-lagi benang merahnya yang belum bahkan tidak jelas adalah penyebab Jaejoong tidak pernah berpikir untuk memiliki seorang kekasih. Aish. Dia hanya akan menjadi pengganggu.

“Dan tentunya kau termasuk siswa populer, bukan? Tentu mudah untukmu mendapatkan kekasih.” Changmin senang sekali untuk menggoda dongsaeng manisnya itu. Dia mulai memasang senyum menggodanya. Dan Jaejoong tetap menatapnya polos. Aish. Changmin benar-benar gemas pada Jaejoong.

“Populer? Entahlah.”

“Wajahmu itu manis, Jae-ah. Pasti para siswi-siswi di sekolahmu tertarik padamu.”

“Hyung, kau tidak menyukaiku, kan?” Jaejooong mulai merasa ada yang aneh dari hyungnya yang satu itu. Kenapa Changmin selalu tersenyum menjijikan kepadanya? Merasa bahwa ini gawat, Jaejoong mulai menggeser posisi duduknya menjauhi Changmin. Sepertinya Changmin telah membuat Jaejoong salah paham terhadapnya.

“YA! Aku ini normal! Dan aku juga bukan pencinta anak di bawah umur!” Changmin mulai merasa jengkel lagi terhadap Jaejoong. Anak ini tidak bisa diajak bercanda! Changmin bahkan hanya menggodanya dan Jaejoong malah mengira jika Changmin menyukainya. Aish.

“Hehe, mian, Hyung.” Dengan wajahnya yang menggemaskan, Jaejoong tersenyum lucu ke arah Changmin. Tidak tahan lagi dengan keinginannya, Changmin langsung saja mencubit kedua pipi gembil Jaejoong. Dan Jaejoong hanya bisa berteriak kesakitan.

“YA! Bisakah kalian tenang?” Suara yang baru-baru ini berusaha untuk diingat oleh Jaejoong terdengar membentak Jaejoong dan Changmin yang tidak sengaja membuat sedikit kegaduhan di salah satu sudut perpustakaan. Benarkah?

“Ju—Jung song—songsaenim??” Jaejoong berusaha melepaskan cengkraman kedua tangan Changmin di pipinya dan segera melihat ke arah suara tadi berasal. Dan wajah tampan Jung songsaenim tampak di sana. Berdiri dengan sedikit menyandar pada rak buku sambil membawa satu buah buku tebal di sebelah tangannya sedangkan tangan lainnya bertumpu pada pinggangnya. Masih dengan jasnya yang hitam, Yunho memang selalu tampan ketika memakainya. Dan ada dua hal penting yang baru saja Jaejoong sadari. Dasi yang Yunho kenakan sudah kendur dan dua kancing teratas kemejanya sudah terbuka. Itu Sexy! Dan jangan lupakan kacamata berbingkai persegi hitam itu! Yunho sangat tampan juga sexy saat itu. Woah!

“Kau bekerja disini, bukan? Kenapa justru kau yang membuat keributan?” Tersadar dari lamunannya yang indah, Jaejoong segera berdiri dan menghampiri Yunho yang masih bersandar di sana.

“Mianhamnida. Mianhamnida, songsaenim.” Dengan sedikit gugup, Jaejoong membungkukkan tubuhnya berkali-kali di depan Yunho. Sesungguhnya, beberapa tempat di dadanya masih terasa sakit jika melihat Yunho. Kejadian itu terputar lagi di otaknya.

“Itu bukan sepenuhnya kesalahan Jaejoong. Saya juga bersalah. Mianhamnida.” Changmin tidak tega melihat Jaejoong. Ia pun bersalah sehingga Changmin pun turut membungkukkan tubuhnya di depan Yunho.

“Gwenchana. Aku hanya tidak suka jika waktu membacaku terganggu.” Yunho mulai menarik Jaejoong berdiri lagi. Dan Jaejoong langsung terpana begitu melihat senyuman Yunho yang ditujukan untuknya. Senyuman ini untukku? Benarkah?

“Sekali lagi, mianhamnida.” Ujar Changmin yang membungkukkan tubuhnya lagi. Bagaimanapun juga ini adalah kesalahannya. Dia yang membuat Jaejoong berteriak kesakitan tadi. Aish. Mau bagaimana lagi? Jaejoong memang benar-benar menggemaskan!

“Gwenchanayo?” Yunho mulai merasa heran. Bagaimana tidak? Sejak tadi, Jaejoong terus saja menatapnya. Kenapa anak manis ini terlihat seperti menyukaiku?

“Ah! Gwenchana. Gwenchana, Songsaenim.” Jaejoong hanya bisa tersenyum gugup melihat senyum Yunho yang tertuju lagi padanya. Rasa sakit yang sejak tadi terasa di dadanya mulai menghilang perlahan. Ada apa ini? Rasa sakit ini mulai lenyap ketika aku melihat senyum indahnya. Benarkah?

“Kau bekerja sampai selarut ini? Apa hyungmu tidak akan mencarimu?” Nada khawatir terasa di pertanyaan yang Yunho lontarkan untuk Jaejoong. Rasa sakit itu sepenuhnya hilang saat ini. Jaejoong memang menyukainya.

“Tenang saja, hyungnya tidak akan tau mengenai hal ini. Karena setiap hari Sabtu, hyungnya selalu berken—-“ Changmin hyung terlalu banyak omong! Begitulah pikir Jaejoong. Mereka berdua memang sudah saling mengenal satu sama lain. Seringnya Changmin datang ke perpustakaan memang membuat dirinya jadi mengenal Jaejoong lebih jauh begitupun Jaejoong. Dan hal seperti ini pun Changmin tau. Seingatnya Jaejoong pernah menceritakannya pada Changmin dan dengan bodohnya Changmin mengatakan hal itu pada Yunho yang adalah teman Hyunjae hyung. Maka itu, Jaejoong segera membungkam mulut Changmin dan melanjutkan ucapan Changmin dengan ucapan yang dapat menyelamatkan dirinya.

“E—ee-ee… itu.. Hyunjae hyung memang selalu pulang agak larut setiap hari Sabtu, jadi aku pun mengambil waktu tambahan bekerja di hari Sabtu.” Jaejoong memasang senyum anehnya ke arah Yunho. Dan tentu saja Changmin memberontak di dekapannya. Membuat Jaejoong kesulitan. Tubuhnya yang tidak seimbang dengan tubuh Changmin adalah faktor utamanya. Aish. Ingatkan Jaejoong untuk menambah porsi susunya!

“Aish, baiklah. Tapi kau tidak boleh pulang larut, arraseo? Kau ini masih siswaku! Omo! Apa yang sudah kupikirkan saat itu sehingga aku tidak melaporkanmu?? Aish, sudahlah. Ingat jangan pulang larut!” Jaejoong masih terus menatap Yunho hingga Yunho menghilang lagi di beberapa rak buku di hadapannya. Jung songsaenim mengkhawatirkannya. Benarkah? Jaejoong tidak percaya ini!

“Aish! YA Jaejoong-ah! Kau benar-benar tega padaku!” Changmin langsung saja mengeluarkan semua kata-kata yang sejak tadi dipendamnya karena Jaejoong membungkam mulutnya erat. Tapi ada apa dengan anak ini? Jaejoong tidak mengacuhkannya yang sudah berteriak sedikit kencang di sampingnya. Jaejoong masih saja menatap lurus ke depannya. Aish.

^^^^^^^^^^

“Kau kenapa?” Jaejoong lagi-lagi merasa ada yang aneh dari Junsu. Biasanya junsu adalah seseorang yang paling pertama keluar kelas bila bel pertanda sekolah usai berbunyi. Biasanya dia sangat bersemangat untuk mengikuti latihan di klubnya. Dan ada apa dengannya hari ini?

“Kau duluan saja. Kau harus melakukan urusanmu, bukan?” Junsu tersenyum ke arah Jaejoong masih sambil merapikan buku-bukunya. Senyumannya memang seperti biasa tapi tatapannya tidak seperti biasanya. Junsu masih terpukul sepertinya. Kecewa akan penolakan Yoochun.

“Aku akan di sini.” Jaejoong tetap duduk di kursinya. Dia memang berniat ke perpustakaan tadi. Bukan untuk bekerja tetapi untuk mendekati Yunho yang mungkin saja berada di sana. Namun, Jaejoong tidak mungkin meninggalkan Junsu yang sedang sedih, bukan? Mereka sudah berteman baik sejak dulu.

“Kenapa? Aku baik-baik saja.” Masih saja Junsu tersenyum. Padahal Jaejoong tau betul jika Junsu masih sedih karena kejadian waktu itu. Dan Junsu tidak bercerita secara rinci kepadanya. Aish. Menyebalkan!

“Sebaiknya kau keluarkan semua hal yang memenuhi pikiran dan hatimu sekarang juga! Di sini! Bersamaku! Dan aku tidak menerima penolakan!” Dengan nada memerintah, Jaejoong mulai mengeluarkan isi hatinya. Dia ingin dia berguna sebagai sahabat baik Junsu.

Junsu sangat tau watak pemaksa Jaejoong. Dan Junsu pun tau jika ia tidak bisa membohongi Jaejoong dengan semua usahanya untuk menutupi perasaan sebenarnya. Sebaiknya Junsu memang bercerita pada sahabat baiknya itu, bukan? “Arraseo”

“Aku mendengarkan!” Jaejoong mulai merubah posisi duduknya agar lebih merapat ke arah Junsu yang duduk di sebelahnya. Junsu tersenyum kecil melihat sahabatnya yang begitu antusias. Junsu memang seharusnya tidak boleh terlalu sedih. Dia masih memiliki banyak orang yang menyayanginya termasuk Jaejoong. Junsu sungguh beruntung memiliki sahabat sebaik Jaejoong.

“Mungkin, aku memang akan menjauhinya.”

“Karena dia menolakmu?”

“Penolakannya membuatku sakit. Entahlah. Tetapi ketika aku mengingat Yoochun sunbae, aku hanya akan mengingat rasa sakit itu. Jadi aku menghindarinya. Dan mungkin akan menjauhinya dan melupakannya.”

“Tapi kau mencintainya. Seharusnya kau tetap mengejarnya, Junsu-ah!”

“Kau tidak mengerti, Jae-ah. Dia tidak menyukaiku dan aku memang harus mundur. Meskipun ini sakit.”

“Bahkan dengan tidak mengikuti latihan klub? Kau sangat mencintai sepak bola, bukan?”

“Yoochun sunbaelah kaptennya dan tentu saja aku tidak bisa menghindarinya di sana.”

“YA Junsu-ah! Kau terpilih dalam pemain inti, bukan? Kau harus ikut latihan! Jika kau memang ingin melupakannya, kau tidak harus melupakan cita-citamu juga hanya karena dialah kaptennya! Kau ingin menjadi pemain sepak bola professional, bukan? Maka kau harus berhasil mulai dari sekarang, Junsu-ah!” Jaejoong tidak lagi dapat menahan rasa kesalnya. Jika Junsu ingin melupakan Yoochun, hal itu tidak boleh mempengaruhi keinginannya untuk menjadi seorang pemain sepak bola professional, bukan? Aish.

“Tapi, rasa sakit itu akan menyergapku lagi, Jae-ah. Rasa sakit itu akan memaksa aku untuk menangis lagi. Aku benar-benar tidak ingin menjadi lemah karenanya. Hanya itu saja. Aku laki-laki dan aku harus kuat. Mungkin untuk saat ini aku akan jadi kuat jika aku menjauhinya dan melupakannya. Karena.. karena.. aku tentu masih mencintainya.” Air mata Junsu mulai mengalir perlahan. Dan Jaejoong hanya bisa memeluk Junsu saat itu. Junsu menangis tersedu di dalam pelukannya. Melupakan seseorang yang sangat kau cintai memang bukanlah hal mudah. Ini memang terasa sakit. Ini sama. Ya, ini sama. Antara dirinya, Yunho, dan gadis itu pun begitu. Jaejoong tampak seperti harus melupakan Yunho, bukan?

“Aku mengerti.”

^^^^^^^^^^

“Kau harus siap, Jaejoong! ini adalah salah satu kesempatanmu. Dan kau tidak boleh melewatkannya! Kau harus tau lebih banyak tentangnya. Ini demi dirimu. Demi dirimu yang tidak memiliki benang pengikat jodoh. Ini demi masa depanmu. Ini adalah perjuangan!” Jaejoong masih saja memberi sugesti-sugesti pada dirinya sendiri di ruang ganti di perpustakaan. Ya. Hari ini adalah hari Sabtu dan Yunho selalu datang ke perpustakaan di hari Sabtu. Jaejoong berhasil mengetahui hal ini setelah mengintip kartu perpustakaan milik Yunho sewaktu Yunho datang ke perpustakaan minggu lalu. Dan Jaejoong merasa harus memberi sugesti-sugesti seperti itu kepada dirinya sendiri. Jaejoong ingin lebih mengenal Yunho lagi.

Dan Jaejoong pun keluar dari ruang ganti. Langsung menuju ke beberapa rak yang memang terlihat berantakan. Tentu saja Jaejoong tidak boleh melupakan pekerjaannya, bukan? Dia harus tetap bekerja. Dan tentu sambil mencari Yunho yang biasanya lebih memilih membaca di sela-sela rak buku yang cukup lebar. Namun, sudah hampir semua sela-sela rak buku Jaejoong lewati dan Jaejoong tetap tidak menemukan Yunho. Apa dia tidak datang hari ini? Pertanyaannya langsung terjawab begitu ia menangkap sosok seseorang yang sedang ia cari itu duduk di salah satu sofa perpustakaan. Tidak biasanya, Jung songsaenim duduk di di sofa? Pertanyaan Jaejoong yang satu itu terjawab lagi ketika Jaejoong menghampiri Yunho. Ada seseorang disana. Ya. Gadis manis yang waktu itu Jaejoong lihat. Sedang apa dia di sana? Tidak biasanya Jung songsaenim mengajaknya, bukan? Rasa sakit itu mulai menghantam lagi beberapa tempat di dadanya.

“Jaejoong-ah!” Baru saja Jaejoong ingin pergi dari sana, Yunho sudah terlebih dulu melihatnya dan memanggilnya. Aish. Sial! Jaejoong tidak ingin menerima kenyataan soal gadis itu. Ia takut jika ia akan merasakan rasa sakit lagi. Tetapi, bukankah ia memang harus tau mengenai gadis itu? Agar ia bisa membuktikan hipotesisnya, bukan? Aish, baiklah.

“Songsaenim. Ada apa?” Jaejoong sudah mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menghampiri mereka berdua yang sedang tampak asik berbincang. Mereka berdua duduk bersebrangan di sofa coklat yang berada di dekat jendela perpustakaan yang menampakkan keadaan di luar sana. Jalanan yang sudah basah juga terdapat beberapa genangan air di sekitarnya. Hey! Sejak kapan di luar sana hujan? Jaejoong tidak menyadarinya. Hujan masih saja turun dan juga terlihat beberapa orang berlarian untuk mencari tempat berteduh. Kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang pun sudah berkurang jumlahnya. Embun-embun yang tercipta di jendela-jendela besar perpustakaan membuat atmosfir semakin romantis. Aish. Menyebalkan.

“Duduk di sini.” Yunho menyuruhnya duduk di sebelahnya. Dan Jaejoong mulai menatap gadis di hadapannya yang sedang tersenyum ke arahnya. Gadis ini memang manis. Rambutnya bergelombang dan pendek. Pakaiannya yang feminim menambah kesan kecantikannya. Dan senyumnya pun sungguh manis dan menggemaskan. Aish. Kenapa gadis semanis ini yang menjadi sainganku? Begitu pikir Jaejoong. Saingan? Saingan apa?

“Aku ingin memperkenalkannya padamu. Hyesu-ah ini Kim Jaejoong, salah satu siswaku di Shinki Senior High School. Dan Jaejoong, ini Han Hyesu, kekasihku.” Tepat seperti dugaan Jaejoong, gadis manis ini memang kekasih Yunho. Aish. Jaejoong sedikit enggan untuk menjabat tangan Hyesu yang sudah terulur ke arahnya. Namun, Jaejoong tetap menjabat tangan Hyesu yang masih saja tersenyum manis ke arahnya. Hatinya mulai terasa sakit.

“Mannaseo bangapsumnida, Jaejoong-shi.”

“Ne. Mannaseo bangapsumnida, Hyesu noona.”

“Hyunjae belum tau mengenai ini. Jadi jangan katakan padanya karena aku yang akan mengatakannya langsung, arraseo?” Untuk apa aku mengatakannya pada Hyunjae hyung? Pikir Jaejoong kesal. Yunho mengatakan hal tersebut dengan sangat ringan dan senyum manis yang terkembang di wajahnya. Padahal dada Jaejoong sudah terasa sakit lagi. Dan itu karenanya. Aish. Jaejoong kau memang harus bersabar.

“Aku harus kembali bekerja, Songsaenim. Aku permisi.” Pergi adalah langkah yang tepat. Rasa sakit mulai menyebar lagi di dada Jaejoong. Hatinya sakit melihat Yunho bersama gadis itu. Usahanya untuk mendekati Yunho gagal sudah. Jaejoong pikir Yunho tidak akan memperkenalkan dirinya dengan Hyesu. Karena Jaejoong yakin jika kenyataan tentang gadis itu akan membuat dadanya sakit. Aish. Padahal Jaejoong ingin membuktikan suatu hubungan yang mungkin di antara dirinya dan Yunho. Hey! Bukankah Hyesu memiliki benang merah? Dan itu berarti, Hyesu memiliki jodohnya, bukan? Jodohnya sudah pasti bukan Yunho. Setitik cahaya mulai membangkitkan semangat Jaejoong.

“Aku harus menyelidikinya.”

^^^^^^^^^^

“Apa ada di antara kalian yang tau kemana Junsu?” Yoochun jelas tau mengenai ketidakhadiran Junsu. Bagaimana tidak? Junsu adalah salah satu pemain inti dan bisa-bisanya dia tidak hadir dalam latihan kali ini. Padahal pertandingan sudah hampir dua minggu lagi. Seharusnya dia hadir dan mengikuti latihan di sini. Ada apa ini? Tidak biasanya Junsu melupakan tanggung jawabnya. Dan bukankah Junsu sangat mencintai sepak bola? Seharusnya dia tidak pernah melewatkannya, bukan? Apa ini ada hubungannya dengan kejadian waktu itu? Yoochun memang belum bicara lagi dengan Junsu semenjak kejadian di ruang ganti itu. Bicara? Bahkan bertemu pun mereka tidak pernah lagi. Sepertinya Junsu menghindarinya.

“Dia sedang tidak enak badan, Kapten.” Minhyuk memang bertemu dengan Junsu tadi. Bertabrakan lebih tepatnya. Mereka bertabrakan di depan ruang kelas Junsu. Junsu memang tampak terburu-buru saat itu. Tidak hanya itu, wajahnya pun memerah dan sepertinya Junsu menangis. Wajahnya memang tampak kacau saat itu. Dan Minhyuk menyimpulkan jika Junsu memang sedang tidak enak badan. Ada apa dengan Junsu?

“Dia sakit? Benarkah?” Rasa khawatir sedikit demi sedikit mulai menyelimuti perasaan Yoochun. Apa ini ada hubungannya dengan dirinya? Dengan kejadian waktu itu?

“Aku melihatnya dan wajahnya memang tampak kacau.” Sepertinya semua ini adalah kesalahannya. Kejadian di ruang ganti itu adalah penyebabnya. Tapi bagaimana Yoochun tau? Entahlah. Tapi dia sangat yakin tentang hal ini. Sepertinya dia sedikit keterlaluan pada Junsu. Aish. Rasa bersalah sudah menutupi seluruh hatinya sekarang. Aku harus minta maaf.

^^^^^^^^^^

Bolehkah aku berharap? Berharap memilikinya? Rasa sakit itu sudah sejak tadi menyelimutiku. Aish. Rasa sakit ini memang berhubungan dengan Jung songsaenim. Setiap dia melakukan suatu hal yang tidak kusuka, perasaan ini selalu saja hadir. Cemburu? Aish baiklah, aku memang cemburu. Seperti saat ini. Jung songsaenim mengajak Hyesu lagi ke perpustakaan. Dan tepat di hari kerjaku. Menyebalkan! Lagipula, Jung songsaenim tidak biasanya datang ke perpustakaan di hari Jumat. Bukankah dia selalu ke sini di hari Sabtu? Apa kali ini ia ke perpustakaan bukan untuk membaca? Tapi untuk berkencan? Aish. Ini perpustakaan! Kau memang seharusnya membaca jika kau datang ke sini! Dan bukan untuk berkencan! Ingin sekali aku berteriak padanya. Melihat senyum tulusnya itu membuatku ingin melempar sapu ke arahnya juga ke arah gadis itu! Mereka berdua bahkan tidak sama sekali mengambil buku! Mereka berdua hanya berbincang-bincang sambil sesekali memegang tangan pasangannya yang terjulur di meja! Ya Tuhan! Ditambah lagi dengan tempat duduk mereka yang berada di pojok perpustakaan ini. Seakan menjauh dari orang-orang di sekitarnya! Menyebalkaaaaaaaaaaaaaaan!!

“YA! Apa yang kau lakukan di sini?” Suara ini. Aku mengenali suara ini. Sepertinya aku harus segera berlari atau aku akan dilahapnya.

“E—ee.. aku? Tentu saja aku sedang menyapu Ahjumma.” Senyumku pasti sangat aneh saat ini. Bagaimana tidak? Ahjumma yang selalu saja mengecek pekerjaanku ini sedang menatapku seram dan tajam. Tubuhnya yang tidak kecil semakin membuatnya terlihat besar di mataku. Aish.

“Benarkah?” Omo! Wanita ini sudah mengeluarkan senyum mengerikannya. Aku benar-benar harus lari saat ini!

“Se—seperti yang kau lihat..” Aish. Sekarang aku menyapu seperti orang tidak waras. Dan tentu masih dengan senyum aneh terkembang di bibirku. Ayolah percaya! Semua ini gara-gara Jung songsaenim!!

“Arraseo. Tapi, jika aku melihatmu bertingkah aneh lagi seperti tadi, maka kau harus menemuiku, Sweet Joongie!!” Dan pergilah wanita gemuk itu. Aish. Jung songsaenim, kau memang menyebalkan!! Lagipula apa yang telah aku perbuat tadi? Aku hanya memegang keras-keras sapu ini karena gemas melihat mereka berdua bersama. Apa itu tingkah yang aneh?? Terkadang aku tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita itu. Aish.

^^^^^^^^^^

Yoochun sudah berlari sekencang mungkin dan dia masih saja tidak menemukan Junsu. Bahkan Yoochun belum menemui Junsu dan seperti peramal, Junsu tau jika Yoochun ingin menemuinya. Begitu Yoochun hampir beberapa langkah lagi menuju kelas Junsu, Junsu sudah berlari sekencang mungkin. Untungnya Yoochun sadar jika itu adalah Junsu, maka di sinilah Yoochun sekarang. Mengejar Junsu yang entah di mana. Junsu memang salah satu pemain sepak bola terbaik di klub, sehingga tidak dipungkiri lagi jika ia bisa berlari secepat itu. Aish.

Sayup-sayup, Yoochun mendengar suara tangisan di arah tangga. Siapa yang menangis? Apa mungkin itu Junsu? Tanpa berpikir lebih lama, Yoochun segera menghampiri suara itu dengan perlahan. Dan Junsu memang di sana. Menangis sambil meringkukkan tubuhnya di pojok di bawah tangga besar itu. Memeluk tasnya erat. Ada apa dengannya? Apa ini semua karena Yoochun?

“Pergilah. Aku sungguh tidak mau bertemu denganmu.” Tanpa melihat, Junsu mengusir Yoochun yang masih diam terpaku menatap Junsu khawatir. Kenapa Junsu tau jika itu adalah Yoochun? Lagi-lagi Junsu terlihat seperti peramal.

“Ini salahku..” Penyataan pelan itu terdengar dari mulut Yoochun. Yoochun masih saja menatap Junsu yang tiba-tiba merasa kaget karena ucapan Yoochun. Yoochun menyadarinya? Benarkah? Itu berarti jika Yoochun juga mengetahui perasannya, bukan?

“Ini memang salahku. Benarkan, Junsu-ah?” Yoochun tidak bergeming dari tempatnya. Ia terus saja berdiri di sana. Lagi, ucapannya membuat Junsu terdiam. Bahkan membuat Junsu untuk melihat ke arahnya.

“A—apa maksudmu, Sunbae?” Junsu jelas sekali melihat wajah terkejut Yoochun. Dia benar-benar merasa bersalah sepertinya. Junsu tidak pernah berpikir jika Yoochun akan seperti ini padanya. Benarkah ini?

“Kau menangis karena aku, bukan? Pasti karena aku. Apa ucapanku keterlaluan?” Wajah Yoochun mulai melunak. Rasa bersalah itu jelas tergambarkan di wajah Yoochun. Dan Junsu hanya bisa terdiam menatap Yoochun yang masih berdiri di sana.

“A—aa—ku..”

“Mian. Jeongmal mianhae. Aku menyakiti perasaanmu. Mianhae.” Sekarang Yoochun membungkuk ke arahnya. Yoochun memang tau perasaan Junsu padanya. Hanya saja dia pun tidak tau bagaimana perasaanya pada Junsu. Yang pasti, dia masih merasa jika dirinya adalah pria normal.

“Sunbae, tau mengenai perasaanku?” Junsu mulai berdiri dan sedikit mendekati posisi Yoochun. Benarkah Yoochun sudah mengetahui perasaannya? Jadi penolakan ini benar-benar nyata?

“Ne. Jeongmal mianhae.” Yoochun membungkuk lagi. Dia benar-benar merasa bersalah. Yoochun tidak tau jika dirinya dapat membuat salah satu sahabat baiknya menyukainya. Atau bahkan mencintainya?

Junsu sudah tidak terlalu terkejut lagi. Ia tau jika Yoochun adalah pria normal. Ia sangat tau itu. Ia hanya bisa tersenyum tipis saat ini. Agar Yoochun tidak lagi merasa bersalah padanya. Agar Yoochun tidak lagi menatpnya sendu. Sungguh, senyum ini sulit. “Gwenchana, Sunbae. Aku mengerti. Baiklah, aku harus pergi sekarang. Mianhae, Sunbae. Annyong..”

Yoochun merasakan sakit di dadanya. Senyum Junsu tadi benar-benar tulus ke arahnya. Tapi, Yoochun tau jika itu bukanlah senyum yang biasa Junsu perlihatkan padanya. Senyum Junsu yang biasanya jauh lebih indah. Senyum Junsu yang baru saja ia lihat adalah senyum palsu. Tentu. Bahkan senyum Junsu itu adalah senyum menahan sakit yang mencerminkan hatinya saat ini. Sangat sakit.

^^^^^^^^^^

“Yang paling terasa adalah rasa sakit yang selalu menyelimuti dadaku. Rasa sakit itu tiba jika aku melihatnya dengan seseorang.”

“Kau cemburu.” Cemburu? Seperti yang sudah Jaejoong duga, dirinya memang cemburu dengan Hyesu. Aish.

“Lalu?”

“Dan itu berarti, kau menyukainya.” Changmin mulai menatap Jaejoong yang lagi-lagi sedang menatapnya polos. Sepertinya Jaejoong lebih menarik daripada komik yang sedang dibacanya sekarang.

“Benarkah? Apa kau yakin, Hyung?” Pekerjaan Jaejoong di perpustakaan memang sudah selesai. Dan sekarang adalah jam istirahatnya, Namun, Jaejoong lebih tertarik untuk mendiskusikan perasaannya terhadap Yunho kepada salah satu hyungnya, Changmin. Changmin tampak ahli dalam bidang ini. Benarkah?

“Tentu. Untuk apa kau cemburu jika kau tidak menyukainya? Cepat katakan padanya sebelum ia direbut oleh orang lain.” Changmin mulai mengembangkan senyum menggodanya lagi. Mengatakan padanya? Bahkan Yunho memang sudah dimiliki oleh orang lain. Aish. Entahlah. Yang pasti, Jaejoong memang menyukai Yunho. Benarkah aku menyukainya?

^^^^^^^^^^

Benarkah aku menyukainya? Hanya pertanyaan itu yang memenuhi Jaejoong saat ini. Perjalanan dari perpustakaan menuju apartemennya tidak terlalu jauh, sehingga Jaejoong memang selalu pulang berjalan kaki. Dan sekarang Jaejoong sedang melakukan salah satu rutinitasnya. Berbelanja di supermarket yang hanya berjarak 1 blok dari perpustakaan. Membeli keperluan makan malam. Namun, Jaejoong tampak memasukkan secara asal barang-barang ke dalam keranjangnya. Tentu saja, bukan? Jaejoong sekarang tengah sibuk memikirkan hal lain. Apakah benar ia menyukai Yunho? Aish. Entahlah. Hatinya seperti tidak mau mengakuinya. Namun, semua tingkahnya terhadap Yunho memang menunjukkan bahwa ada perasaan berbeda ketika bersama atau menyangkut Yunho, bukan? Jaejoong terus saja berpikir hingga ia sukses menabrak seseorang. Dan semua barang di keranjangnya tentu saja jatuh berantakan.

“Mianhamnida. Jeongmal mianhamnida.” Jaejoong tentu langsung tersadar dan segera mengucapkan maaf sambil membungkukkan tubuhnya berkali-kali kepada seseorang yang ia tabrak tadi.

“Gwenchana.” Baru Jaejoong sadari jika ia menabrak seorang laki-laki. Laki-laki yang tampak lebih tua darinya. Sepertinya laki-laki itu seumur dengan Changmin. Dan laki-laki itu pun membantu Jaejoong untuk mengambil barang-barangnya yang berantakan.

“Biar saya saja. Anda tidak perlu membantu.” Jaejoong menolak pertolongan laki-laki itu dengan sopan.

“Tidak apa.” Laki-laki itu cukup tampan. Ia tersenyum kepada Jaejoong.

“Kamsha hamnida. Jeongmal kamsha hamnida.” Jaejoong membungkukan tubuhnya lagi. Dia benar-benar merasa berterimakasih pada laki-laki ini. Bagaimana pun juga, ini semua adalah kesalahannya dan dengan baik hati laki-laki ini memaafkannya dan membantunya.

“Ne. Cheonmaneyo.” Dan laki-laki itu menjauh dari Jaejoong. Jaejoong merasa ada yang janggal dari laki-laki itu. Hey! Bukankah itu Hyesu! Jaejoong melihat Hyesu sedang berada di luar supermarket, tampak seperti menunggu seseorang. Apa berarti Yunho juga berada di sini? Jaejoong mulai mencari-cari di sekitarnya. Namun, laki-laki baik hati tadi mengusik pandangannya lagi. Memang sepertinya ada yang aneh pada laki-laki itu. Setelah membayar di kasir, laki-laki itu mulai menghampiri Hyesu yang langsung menyambutnya dengan senyum manis di luar supermarket. Sama manisnya dengan senyumnya yang biasa ia perlihatkan pada Yunho. Hey! Apa Hyesu berselingkuh? Aish tidak mungkin. Mungkin saja jika laki-laki itu adalah kakaknya, bukan? Benar. Mungkin laki-laki itu adalah kakaknya. Jaejoong tidak ingin berprasangka buruk. Tetapi benang merah mereka yang saling terikat itu, apa maksudnya? Memang ada yang janggal dengan laki-laki itu. Benang merah laki-laki itu tersambung dengan benang merah Hyesu. Jaejoong masih saja menatap mereka berdua dari dalam supermarket. Hingga mereka berdua masuk ke dalam mobil dan mobil itu menghilang. Sepertinya mereka berdua memang berpacaran.

OMO! Hyesu telah berselingkuh!

Dan… OMO! Aku berhasil menemukan jodoh Hyesu!


T <B<C