Title       : “Who are you??”

Part        : 1/2

Rating   : PG+15 (YAOI)

Cast        : Kim Jaejoong, Jung Yunho, Shim Changmin, and other cast will appear

Author  : Revi Junsu aka Han Hyesu aka Junsu’s Wife ^^


A/N : Cerita ini aku buat sendiri tanpa memplagiat cerita manapun. Hehe ^^
Dan yang jelas ini Cuma CERITA FIKTIF belaka.

Mianhae~

Ini cuma ff aku yang geje

ahahaha😄

yang mau baca

douzo😀

^^^^^^^^^^

Hidupku sungguh sangatlah biasa. Tak ada yang istimewa. Hanya dilalui dengan kegiatan yang
seperti biasanya saja. Tanpa seseorang yang menemaniku. Bosan? Tentu. Bagaimanapun, aku ini
tetap manusia yang butuh manusia lainnya. Tak ada yang bisa merubah kehidupanku ini. Tak akan ada.

^^^^^^^^^^

“Kau benar-benar tak mau pergi?” Mungkin itu adalah pertanyaan yang ke-10 untuk laki-laki yang
masih saja terpaku pada setumpuk dokumen. Laki-laki itu sama sekali tidak memberikan respon pada teman baiknya yang sudah 5 menit berdiam diri di hadapannya. Dia sungguh sangat menyebalkan. “Yunho hyung aku masih menunggumu.” Tangannya sudah  dilipat di dadanya. Dia benar-benar teman yang sangat baik, bukan?

“Apa harus aku pergi?” Rasa syukur langsung menjalari tubuh Changmin. Ya, Changmin. Teman yang
sangat baik pada seorang Jung Yunho yang sejak tadi masih saja tidak menatapnya. “Tentu. Kau
adalah direktur perusahaan ini. Maka kau harus pergi.”

“Gantikan aku.” Rasa syukur tadi langsung saja menguap dari tubuh Changmin. “Ini sudah yang
ke sekian kalinya aku menggantikanmu untuk datang ke acara makan malam antar direktur
perusahaan, hyung. Sebenarnya siapa itu Jung Yunho? Aku atau kau?” Nada suara Changmin
sudah menunjukkan rasa kesalnya. Yang ditanya hanyalah diam. Ini berarti sudah saatnya
Changmin pergi menggantikan hyungnya itu. “Aish.. Baiklah. Aku pergi dulu, Hyung.”

Setelah langkah kaki Changmin terdengar menjauh, dokumen yang sejak tadi ditatapnya pun
dilempar secara asal ke mejanya. Tubuhnya dirobohkan di kursinya. Dan kedua tangannya
langsung menutup seluruh wajahnya.

“Kenapa hidupku masih saja terasa biasa?”

^^^^^^^^^^

Sudah berapa kali aku dengan sengaja meninggalkan aktifitasku yang memperkeruh hidupku.
Namun tak ada sedikit pun yang berubah. Semua sama. Hanya pekerjaan dan pekerjaan yang
selalu saja ada di pikiranku ini. Bisakah sejenak saja aku memikirkan yang lain? Tuhan aku
sungguh bosan dengan hidupku ini.

Tak terasa aku sudah sampai di depan apartemenku. Segera kuparkirkan mobilku. Sepertinya
tempat tidur selalu saja menjadi tujuan akhir dari hariku. Hanya aktifitas inilah yang
masih dapat mewarnai hidupku. Aish.

Setelah aku masuk ke apartemen, segera saja aku buka sepatuku dan menuju kamarku. Namun,
saat aku melewati dapur terasa ada yang aneh disana. Banyak bungkus makanan tercecer. Ada
apa ini? Apa apartemenku baru saja dirampok? Tapi kenapa hanya dapur yang tampak berantakan?
Tujuanku selanjutnya pun pasti kamarku. Banyak benda berharga di sana. Dengan sangat
hati-hati aku membuka pintu kamarku dan tampak ada yang janggal pada sofa di kamarku.
Tampak seseorang disana dengan posisi memunggungiku. Apa dia malingnya? Tapi kenapa dia
tidur di kamarku? Dengan siaga aku menghampirinya dan menyentuhnya. Dia tak bergeming.
Akhirnya, kutarik perlahan tubuhnya sehingga wajahnya pun terlihat olehku. OMO!! Siapa dia ini?
Seorang wanita ada di kamarku? Tidak mungkin dia adalah seorang maling, bukan? Wajahnya yang
sangat cantik ini berhasil mempesonaku. Untung saja sang bulan mau memberikan cahayanya,
sehingga aku masih bisa melihat wajahnya di kamarku yang gelap ini. Dia tampak terusik dan
akhirnya gadis ini membuka matanya. Seketika dia membelalakkan matanya yang indah itu.
“Annyong. Nuguya?” Tanyaku padanya.

Gadis manis ini langsung bangkit berdiri siap untuk pergi dan segera saja kutarik dirinya.
“Meoww..” teriakannya membuatku tercengang. Kenapa dia berteriak seperti kucing? Wajahnya
masih terlihat samar-samar dan tatapan matanya menyiratkan rasa sakit sambil melihat ke arah
tanganku yang menggenggam.. ekornya?
“k–kau bukan manusia?”

“meoww” lagi-lagi suara itu terlontar dari mulutnya. Ia masih saja menatap ekornya yang
kutarik. Aku sangatlah tercengang. Siapa gadis ini? Dan aku pun baru sadar ternyata ada
sepasang telinga di atas kepalanya. Itu telinga kucing. Apa aku bermimpi? Dan tiba-tiba
gadis itu berlari ke arah jendela kamarku dan melompat dari sana. Aku langsung tersadar
dan segera berlari ke arah jendela kamarku. Gadis itu sudah tak ada lagi disana. Siapa dia?

^^^^^^^^^^

Tubuh yang kecil dengan bahu yang cukup lebar bagi seorang wanita. Wajah yang cantik dan
manis dengan sepasang mata besar yang indah. Serta suara yang lembut. Aku terus saja
memikirkan gadis aneh semalam. Bagaimana tidak aneh? Dia memiliki sebuah ekor dengan bulu
hitam yang lembut dan sepasang telinga kucing dengan warna yang sama tersembul di sela-sela
rambut pendeknya. “Meoww” Suara kucingnya masih saja ada di pikiranku. Sebenarnya siapa
gadis ini?

“Berterima kasihlah padaku, hyung. Sudah yang ke sekian kalinya aku menolongmu.” Changmin
sudah berdiri di hadapanku seperti biasanya. Kedua tangannya sudah dilipat di dadanya. Sopan
sekali anak ini. Apa dia lupa kalau aku ini bosnya? “Sikap macam apa itu? Kau pasti ingat,
bukan siapa aku ini?”

“Aku selalu ingat siapa kau. Maka itu aku selalu mengabulkan semua permintaanmu. Kau tau,
semalam aku terpaksa membatalkan janjiku dengan Chii-chan. Padahal dia sudah senang sekali
bisa kencan denganku.” Perasaan bersalah merasuki hatiku. Kurasa aku memang harus berterima
kasih padanya kali ini. “Jeongmal gomawo yo selalu membantuku, Minnie-ah” Ujarku sambil
menghampirinya. Tak lupa kuberikan senyum termanisku padanya.

“Tumben sekali kau tersenyum padaku? Ada apa ini?” Sebelah alisnya terangkat menandakan
keheranannya. “Apa aku tak boleh tersenyum padamu?”

“Tapi, kau jadi tampak aneh, hyung.” Ujarnya sambil menggaruk kepalanya yang tampak tak
gatal. “Sudahlah. Kembali kerja sana. Dan sekali lagi terima kasih atas semua bantuanmu.”

“Ne..” Changmin pun pergi masih dengan rasa heran melekat di wajahnya. Apa aku jarang sekali
tersenyum, ya? Kurasa hidupku yang sangat biasa adalah penyebabnya. Aish.

^^^^^^^^^^

Yunho kembali menemukan dapurnya dalam keadaan berantakan. Dia pun langsung menuju kamarnya
dengan perlahan dan gotcha! dia menemukan gadis kucing kemarin. Gadis kucing? Ya. Itulah
panggilan untuknya dari Yunho sekarang. Karena Yunho merasa panggilan ‘gadis aneh’ itu tak
pantas untuk gadis yang sebegitu cantiknya.

Tanpa meninggalkan suara, Yunho segera menarik gadis itu. Sudah dia pastikan bahwa yang
ditariknya adalah lengan si gadis. Bukan lagi ekornya. Gadis itu baru saja bersiap-siap
untuk membuka jendela kamar Yunho dan langsung membalikkan tubuhnya ketika tangannya terasa
di tarik.

“Annyong. Kau ini siapa?” Yunho langsung bertanya padanya. Gadis itu hanya terdiam. Lalu,
Yunho menariknya ke arah sofa dan mendudukkan gadis itu di sana. “Apa kau tak bisa bicara?”
Yunho bertanya lagi padanya. Gadis itu tetap tak bergeming. Sejak tadi hanya menunduk tak
berani menatap Yunho tampaknya.

“Apa kau mau ini?” Merasa diacuhkan. Yunho mencoba cara lain untuk menarik perhatiannya.
Dengan cara memberinya sekantung biskuit. Biskuit dengan rasa ayam panggang. Mata gadis itu
langsung berbinar begitu melihat sekantung biskuit yang ada di tangan Yunho. Ekornya pun
langsung berdiri tegak tanda dia sangat antusias. Si gadis langsung mengendus biskuit itu.
Dan tingkahnya berhasil membuat Yunho tercengang. Dia benar-benar seperti seekor kucing.
Diberikannya biskuit itu pada si gadis kucing dan dia langsung merobek bungkus biskuit itu
dengan giginya. Setelah berhasil dia pun memakan biskuit-biskuit itu dengan lahapnya. Tanpa
menggunakan kedua tangannya tentunya.

Yunho terus memandangi gadis itu. Betapa manisnya dia. Apa dia seekor kucing yang terperangkap
dalam tubuh manusia atau seorang manusia yang disihir hingga menjadi seperti ini? Rasa
penasaran dan keingintahuan memenuhi pikirannya. Bagaimana caranya dia mengungkap identitas
gadis ini? Bahkan si gadis pun hanya bisa mengeong padanya? Dia harus mencari cara.

^^^^^^^^^^

Gadis kucing itu sudah memiliki nama. Boo. Cocok bukan dengan wajahnya yang manis dan cantik?
Malam itu, Yunho mengurungnya. Boo pun tidak bisa kabur. Akhirnya Boo tidur di sofa kamar
Yunho. Dan pagi ini, Yunho sedang memberinya makan. Sepertinya biskuit adalah makanan favorit
Boo. Namun, kali ini biskuit itu memiliki rasa ‘teriyaki’. Dan Boo memakannya sangat lahap.
Bukankah Yunho tampak seperti sedang mengurus seekor hewan peliharaan? Sepertinya Boo memang
hewan peliharaannya.

“enakkah? Sepertinya kau suka sekali dengan biskuit..” Boo berhenti sejenak dari makannya
untuk menatap Yunho. Yunho pun tercengang. Lagi-lagi karena wajah cantik Boo yang mempesonanya.
Tiba-tiba Boo tersenyum padanya yang berada tepat di sisi Boo. Sehingga jarak wajah mereka
sangatlah tipis. Yunho makin tercengang melihatnya. Dia sangat manis. Tanpa mempedulikan
wajah Yunho yang merah karena hasil perbuatannya, Boo melanjutkan kembali makannya.
‘Apa aku menyukainya?’

Teett.. Teett..

Bunyi bel apartemen Yunho mengalihkan pikirannya. Secara tiba-tiba Boo langsung menarik
tubuh Yunho. Bermaksud sebagai tameng untuk dirinya. Sepertinya Boo ketakutan dengan bunyi
bel.

Teett.. Teett..

Tangan Boo yang mencengkeram bahu Yunho terasa bergetar. Boo benar-benar ketakutan. Yunho
langsung berbalik dan memeluk Boo. Ditatapnya wajah manis itu yang sekarang menunjukkan
ketakutannya. “Tenang saja. Itu tidak akan melukaimu. Tunggu disini..”

Yunho bangkit dari duduknya dan ternyata Boo masih belum melepaskan sebelah tangannya. Yunho
tersenyum melihat reaksi Boo. “Aku akan melindungimu. Jadi, tidak usah takut..” Boo langsung
melepas genggamannya pada tangan Yunho dan meringkuk ketakutan. Dan Yunho langsung berlari
menuju pintu. Memastikan siapa yang datang.

Setelah pintu terbuka, tampaklah Changmin disana. Tersenyum sangat manis.

“Kau datang, Changmin-ah?”

“Aku sedang senggang. Jadi aku datang.” Senyum Changmin belum pudar. Yunho merasakan kebahagiaan
di sekitarnya. Sepertinya Changmin yang menyebarkan kebahagiaan itu.

“Ayo masuk. Dan kau ini kenapa?”

“Hehe. Nanti malam aku akan kencan dengan Chii-chan. Jadi aku sangat senang hari ini.” Wajah
tampan Changmin makin terlihat tampan dengan senyum menghiasi wajahnya. Changmin langsung
duduk di sofa tanpa dipersilahkan oleh Yunho. Dan senyum itu tentu saja masih terkembang.

“Chii-chan itu, apa Chiemi Minamoto? Gadis mungil yang menjual bunga di toko dekat kantor?”
Tanya Yunho sambil duduk di hadapan Changmin.

“Yupp. Gadis mungil dan manis dari Jepang lebih tepatnya..”

“Aish. Jadi dia pacarmu..”

“Bukan, hyung. Dia adalah calon istriku..”

“Haahh- Dasar kau ini. Kau ingin minum apa?” Yunho mulai beranjak dari duduknya dan sudah
bersiap pergi ke dapurnya. Dapur? Dia jadi ingat kalau Boo masih duduk di kursi makannya di
dapur.

“Apa sajalah..”

Yunho langsung menuju dapurnya dan dia menemukan sosok Boo yang masih terdiam. Sepertinya
dia sudah tidak merasa takut lagi. Menyadari kedatangan Yunho, Boo langsung tersenyum padanya.
Aish. Lagi-lagi begini. Sepertinya Yunho memang menyukai Boo.

“Biskuitmu sudah habis?” Boo hanya mengangguk-angguk dengan sangat manis. Tingkahnya benar-
benar menggemaskan. Yunho hanya tersenyum melihatnya. Dan dia pun segera menuju lemari esnya
untuk mengambil jus strawberry. Lalu Yunho mengambil gelas di dalam lemari dapurnya dan
menuangkan jus strawberry ke dalamnya. Tiba-tiba ekor Boo langsung berdiri tegak. Tak lupa
matanya pun turut berbinar-binar menatap jus strawberry itu. Yunho tau apa maksud Boo.

“Kau menginginkanya kah?” Boo menganggukkan kepalanya semangat. Yunho tertawa kecil melihat
tingkah Boo yang lagi-lagi sangat menggemaskan. Lalu Yunho mengambil mangkuk dan menuangkan
jus strawberry di dalamnya. Setelah diberikan padanya, Boo langsung menjilat-jilat jusnya.
“Kau sangat menarik perhatianku. Sebenarnya siapa kau ini?”

“Hyung kau itu lama se–” Suara Changmin membuat Yunho dan Boo kaget dan menatap ke arahnya.
Boo langsung berlari ke belakang Yunho. Dia ketakutan.

“Woah! Siapa dia itu, hyung? Kenapa dia menggunakan kostum kucing?” Changmin melangkah
lebih dekat ke arah Yunho. Dan lagi. Yunho merasakan cengkraman Boo pada kausnya bergetar.

“Tak apa, Boo. Dia tak akan menyakitimu?” Ujar Yunho sambil mengelus kepala Boo. Tangannya
sudah berhenti bergetar namun wajahnya masih menunjukkan ketakutan.

“Dialah yang ingin kuceritakan padamu..” Kini Yunho mengalihkan pandangannya pada Changmin
yang tampak penasaran dengan Boo.

“Ayo duduk. Aku akan mulai bercerita.” Changmin pun duduk di kursi makan di dapur itu. Begitu
juga Yunho dan Boo yang masih takut menatap Changmin. Kini Yunho dan Boo berada di hadapan
Changmin. Ya. Yunho sudah memutuskan untuk menceritakan hal ini pada Changmin. Karena dia
butuh seseorang untuk membantunya mengetahui identitas Boo. Changmin adalah orang yang tepat.
Begitu pikirnya.

^^^^^^^^^^

Boo sudah tidur di sofa kamarnya malam itu. Namun Yunho belum terlelap juga. Dia masih memikirkan
perkataan Changmin pagi ini. Boo bukanlah seekor kucing, begitu pendapatnya. Benarkah?
Sungguh. Semua sikap Boo menunjukkan kalau dia itu adalah seekor kucing. Bahkan Yunho
pun ragu kalau Boo adalah manusia dan Changmin malah bersikukuh kalau Boo adalah manusia yang
mengalami gangguan pada diri dan jiwanya sehingga dia bisa bersikap layaknya seekor kucing.
Benarkah itu?? Yunho pun menghampiri Boo yang terlelap di sofa. Wajahnya sangatlah manis dan
indah. Memang aneh kalau dia berpikir gadis semanis ini adalah seekor kucing. Disibakkannya
poni Boo yang menutupi wajah manisnya. Telinganya sedikit begerak menerima respon dari
sentuhan Yunho. Yunho berlutut di samping Boo. Terus dipandanginya gadis manis itu. Seperti
magnet yang dapat menarik benda, begitupun bibir Boo yang merah merekah. Bibir itu sudah menarik
bibir Yunho. Yunho menciumnya. Rasanya sangatlah manis. Boo sama sekali tak bergeming ataupun
merespon. Dia sungguh sangat lelap tertidur. Setelah kehabisan nafas, Yunho menarik
bibirnya dari bibir Boo. Kenapa aku menciumnya? Kini pertanyaan itulah yang memenuhi pikirannya.

^^^^^^^^^^

“Kau tampak mengerikan, hyung..” Yunho disambut dengan sebuah pendapat dari Changmin. Dia baru
saja sampai di kantornya pagi itu. Dan sepagi ini Changmin sudah berada di ruangannya. Ada apa?

“Sedang apa kau disini?” Diletakannya tas yang sedari tadi dibawanya di meja kantornya. Yunho
bertanya pada Changmin tanpa menatapnya. Dia langsung duduk di kursi dan membuka dokumen-dokumen
yang akan menjadi temannya seharian ini.

“Aku ingin menyelidiki sesuatu.” Jawaban Changmin mampu membuat Yunho menatap ke arahnya.
Changmin beranjak dari duduknya dan menghampiri hyungnya itu yang masih menatap heran padanya.
“menyelidiki apa?”

“Tentu saja menyelidiki ‘kucingmu’ itu..” Changmin menjawab sambil membuat tanda peace di kedua
tangannya lalu menekunya berkali-kali. Yunho menghela nafasnya panjang. Hal ini lagi yang harus
memenuhi pikirannya. Namun, Yunho baru menyadarinya. Baru kali ini dia memikirkan hal lain
secara serius selain pekerjaannya. Hey, Boo sudah mulai mewarnai hidupnya, bukan?

“Hal itulah yang membuatku tak tidur semalaman. Apa aku terlihat mengerikan?” Yunho mengakui
keadaannya semalam pada Changmin yang kini bersandar pada meja kerjanya. Tidak semuanya.
Ia hanya mengakui keadaannya yang terus berpikir keras mengenai Boo. Tentu saja dia tidak
menceritakan kejadian lain malam itu. Kenapa Yunho menciumnya?

“Sejujurnya memang. Dan bolehkan aku menyelidikinya? Akan kubantu mengungkap identitasnya..”
Jawab Changmin mantap.

“Kenapa kau yakin sekali dengan perkataanmu kemarin, jika Boo adalah seorang manusia?”
Yunho mengeluarkan pertanyaan yang sudah berulang kali ia tanyakan pada dirinya sendiri.
Sehingga malam itu ia sama sekali tak tidur.

“Karena fisiknya memang seorang manusia, hyung. Hanya sikapnya saja yang aneh. Seperti kucing.
Ada kemungkinan dia mengalami gangguan pada dirinya, bukan?”

“Dan bagaimana dengan kedua telinganya juga ekornya? Apa ada seorang manusia yang memiliki
telinga di atas kepalanya? Dan lagi tak ada seorang manusia yang memiliki ekor, bukan?”

“Kau melupakan sesuatu, hyung. Pertanyaanmu itu sudah ada jawabannya. Dan jawaban itu ada di
rumahmu..” Sahut Changmin santai tanpa beban. Yunho yang mendengar jawaban Changmin semakin
bingung. Wajahnya benar-benar menyiratkannya.

“Apa kau pernah menyentuh telinga atau ekornya, hyung?”

“Itu sangat nyata, kau tau?” Tiba-tiba Yunho ingat pernah menarik ekor Boo di pertemuan
pertama mereka. Siapa sebenanya Boo ini?

“Selain identitasnya, berarti kita pun harus menyelidiki telinga dan ekornya..”

“Aish. Apa kita harus menariknya untuk membuktikan apakah telinga dan ekor itu asli?” Yunho
mulai kesal dengan argumen-argumen Changmin.

“Kau memang jenius, hyung…” Wajah Changmin tiba-tiba memancarkan pancaran sambil menatap
Yunho dengan pandangan berbinar-binar.

“YA! Shim Changmin. Kau tak serius dengan perkataanmu, bukan??”

“Sepertinya wajahku tak menyiratkannya. Jadi kita memang harus mulai menyelidiki Boo..”

T<B<C