Title: Beautiful Surprise

Part: Oneshoot

Rating: PG+15 (YAOI)

Cast: Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Junsu, Park Yoochun, and Shim Changmin

Author: Revi JaeJoong aka Han Hyesu

 

A/N        : Cerita ini aku buat sendiri tanpa memplagiat cerita manapun dan yang jelas ini cuma CERITA FIKTIF belaka.

 

^^^^^^^^^^

 

Menurutku, sepandai-pandainya seseorang untuk menutupi semua perasaannya, pasti semua yang ia sembunyikan itu akan terlihat juga. Memang benar seperti yang orang banyak katakan, mata adalah satu-satunya indera manusia yang tidak bisa berbohong ataupun menyembunyikan perasaan pemiliknya. Mata adalah indera yang jauh dari kebohongan. Tentu mata pria itu pun begitu. Terlihat menyiratkan rasa pilu meski bibir merahnya tersenyum manis. Matanya melukiskan kesedihan meski mulutnya terus saja berkata jika ia baik-baik saja. Matanya memancarkan kerinduan meski air matanya tidak pernah terurai. Pria itu lemah saat ini.

 

^^^^^^^^^^

 

Senyumanmu sangat indah. Terpancarkan sempurna tanpa penghalang. Semua orang yang melihatnya pasti akan terpesona. Dan tentu saja tidak ada yang akan menyangka jika kau sedang tidak baik-baik saja. Kau cukup pandai menutupi hatimu yang gundah saat ini. Dan hanya cukup pandai.

 

“Hyung, gwenchana?” Junsu. Kim Junsu. Sahabat terbaikmu itu merasakan auramu saat ini. Aura kesedihan. Kau hanya cukup pandai, bukan? Junsu sudah merasakan keanehan pada dirimu.

 

“Gwenchanayo, Junsu-ah. Waeyo?” Kau masih saja berusaha menyembunyikannya. Rasa tidak enak akan menyergapmu jika perasaanmu terbongkar. Kau tak ingin merepotkan orang lain.

 

“Kau tidak baik, Hyung. Auramu memancarkan sesuatu yang aneh..” Kali ini sahabat terbaikmu yang lain pun telah merasakannya. Yoochun hafal betul senyum indah hyungnya itu.

 

“Hm? Tapi aku benar-benar baik saat ini..” Lagi, kau merekahkan senyum itu. Pandanganmu kini teralihkan. Kau lebih memilih menikmati orang-orang yang sedang menari di bawah sana daripada menatap kedua pasang mata dari dongsaengmu yang terus saja menatapmu khawatir. Pub di Seoul memang selalu ramai. Termasuk pub yang sedang kau dan kedua dongsaengmu kunjungi kali ini. Sedikit keinginan untuk melupakan sejenak semua hal yang membuat kepalamu sakit dan terus berdenyut. Tentu, juga membuat hatimu terasa perih dan membuat dadamu seakan sesak seperti tak akan ada lagi udara segar yang akan mengisi paru-parumu. Namun, itu semua tidak terlalu berpengaruh. Segera kau ambil segelas vodka di meja dengan sedikit getaran di tanganmu. Kau meminumnya dengan cepat seakan semua hal yang membuatmu berat saat ini akan turut menguap dari dirimu seperti vodka yang telah habis dari gelasmu. Pandanganmu masih tertancap sedikit tajam ke arah dance floor itu, namun pikiranmu sudah tidak lagi berada di sana. Kau masih memikirkan semua itu. Kau masih memikirkan mereka. Kau masih memikirkannya.

 

“Cukup, Hyung” Junsu langsung menarik tanganmu yang sedari tadi menggenggam gelas panjang berisi vodka entah yang ke berapa. Junsu memang yakin dengan hatinya. Kau tentu tidak akan dengan mudah melupakan semuanya. Kunjungan mereka ke pub kali ini pun karena kemauanmu. Saat itu, Junsu berpikir mungkin kau ingin sedikit menenangkan dirimu. Namun, Junsu salah. Kau tidak bisa sejenak melupakannya. Terbukti dari tingkahmu yang terus saja meminum vodka dengan cepat dan banyak. Kau mulai terlihat gila.

 

“Aku masih ingin, Junsu. Berikan!” Kau sudah sedikit mabuk. Yea, kau memang peminum yang handal, tetapi keadaanmu yang sedari awal memang sedikit pucat tentu akan mengkhawatirkan Junsu dan Yoochun, bukan?

 

“Sebaiknya kita kembali, Hyung..” Yoochun segera mengambil kunci mobilnya di meja dan membantu Junsu untuk memapahmu yang sedikit memberontak. Apa salah jika kau ingin melupakannya? Kau hanya ingin berusaha melupakannya, bukan? Meskipun kau tahu betul jika kau memang tidak bisa melupakannya dengan mudah. Meski kau tahu semua ini sulit. Untuk dirinya sendiri. Ataupun untuk mereka semua. Kau terlalu lemah saat ini.

 

^^^^^^^^^^

 

“Lebih baik aku melihatmu menangis, Hyung” Yoochun memandang sedih dirimu yang sedang membaca komik di balkon apartemen. Menikmati sempurnanya lingkaran bulan malam ini. Perhatianmu berhasil teralihkan. Dari komik ke Yoochun yang sedang duduk di sampingmu dengan wajah yang khawatir. Kau hanya menatap dongsaengmu itu dengan heran. Kenapa kau harus menangis?

 

“Menangis?” Yoochun hanya menganggukan kepalanya berkali-kali dengan wajah yang masih khawatir dan dengan bibir yang dikerucutkan. Itu lucu.

 

“Hey, ada apa, Hyung?” Yoochun menatapmu heran kali ini. Tentu karena tawamu yang tiba-tiba meledak.

 

“Kau tau? Wajahmu sungguh menggemaskan..” Kau meletakkan komik itu di pangkuanmu dan mulai mencubit kedua pipi Yoochun. Terus begitu tanpa kau pedulikan tatapan meringis dari Yoochun.

 

“Appo, Hyung..” Rasa gemasmu belum hilang sebenarnya. Karena Yoochun makin membuat bibirnya bertambah maju. Dongsaengmu ini memang lucu. Namun, kau melepaskan kedua tanganmu dari pipinya ketika Yoochun mulai menatapmu khawatir. Lagi.

 

“Aku siap mendengarkan” Yoochun mulai mempersiapkan dirinya untuk sekedar mendengarkan kata-kata yang akan keluar dari bibirmu. Kau memang tidak pandai berbohong pada Yoochun ataupun Junsu, juga tidak pandai menyembunyikan dari mereka.

 

“Aku merindukan kalian semua” Kau memulai ceritamu dengan senyum. Namun, kau tidak menatap Yoochun. Pandanganmu terarah lembut kepada bulan yang sinarnya tak tertutupi apapun malam itu. Indah.

 

Helaan nafas panjang Yoochun sedikit terdengar olehmu. Kau tahu jika Yoochun berusaha lebih tegar daripada dirimu. Bukankah seharusnya kau yang lebih tegar? Kau memang terlihat tegar di luar sana. Dan tidak seperti itu di hadapan Yoochun ataupun Junsu. Kau masih saja menatap bulan. Dan kau pun masih merasakan tatapan Yoochun padamu. Tatapan lesu dan khawatir.

 

“Semua ini akan segera selesai, Hyung. Teruslah percaya bersama kami..” Bulan itu kini terhalangi sinarnya. Bukan karena awan ataupun sesuatu di langit sana. Karena sesuatu di matamu. Mengalir bebas turun ke pipimu. Kau memang menahan semua perasaanmu. Dan kau memang tidak seharusnya menutupi semua itu dari Junsu ataupun Yoochun. Mereka sudah bersama cukup lama, bukan? Seharusnya kau percaya kepada mereka berdua. Juga kepada mereka berdua di luar sana.

 

Yoochun tersenyum melihatmu yang mulai menangis. Akhirnya Yoochun melihat perasaanmu yang sebenarnya selama ini. Selama hampir 1 tahun terakhir kau memang menyembunyikan segalanya. Menyembunyikan semua perasaan di hatimu. Rasa kesal, sedih, ataupun tersakiti. Terlebih rasa rindu. Rasa rindu yang teramat kuat. Kau terpisah dari dua orang yang terlalu berharga di hidupmu. Terpisah cukup lama. Terpisah karena keputusan yang telah dibuat. Mata besarmu itu cukup membuat Junsu dan Yoochun tahu bagaimana sakitnya dirimu. Junsu dan Yoochun bahkan terkadang menangis karena perpisahan sementara ini. Tapi,, kau sama sekali tidak. Mungkin hanya saat itu. Saat bernyanyi di atas panggung. Ya. Tentu menyanyi dan panggung sangat memaksa pikiranmu untuk mengingat kenangan itu. Kenangan akan mereka berlima. Namun, setelahnya? Tidak. Sama sekali. Kau berusaha tegar sebagai yang tertua di antara mereka semua, bukan? Seharusnya kau percaya pada mereka semua yang menyayangimu. Mereka pasti akan membantumu melewati semua ini. Berhentilah kali ini menjadi seseorang yang paling kuat. Berhentilah. Lepaskan semua yang kau inginkan. Dan kau akan mendapatkan kekuatan baru, bukan? Kekuatan dari sekelilingmu. Dari mereka. Dongsaeng-dongsaengmu.

 

Junsu sedikit terkejut melihatmu. Kau masih terus menangis sambil menatap bulan malam itu. Tak jauh di sampingmu, Junsu melihat Yoochun yang tersenyum lega melihatmu. Junsu pun merasakan rasa kepuasan tersendiri di hatinya, ketika melihatmu juga melihat Yoochun di balkon. Junsu hanya memperhatikan mereka semua dari sofa ruang tamu yang tak jauh dari balkon apartemen. Junsu baru saja kembali dari kamarnya setelah mandi tadi. Dan dia mendapatkan pemandangan indah saat ini. Kau yang menangis sambil terus menatap sinar bulan malam itu adalah poin utamanya. Kedua dongsaengmu itu sangatlah lega melihatmu menangis. Melihatmu telah percaya kepada mereka berdua. Malam itu adalah malam yang indah, bukan?

 

^^^^^^^^^^

 

Setelah malam itu, kau memang sudah kembali menjadi dirimu yang mau terbuka dengan Junsu dan Yoochun. Kau tidak lagi menutupinya. Jika kau merasa tidak kuat, maka kau akan segera mencari Junsu ataupun Yoochun untuk bercerita. Begitupun Yoochun dan Junsu. Mereka memang bertambah dekat lagi karena semua ini. Karena masalah ini. Meskipun mereka masih saja menutupi semua kerapuhan mereka di luar sana. Mereka benar-benar tidak ingin merepotkan.

 

“Junsu-ah..” Yoochun menghampiri Junsu yang sedang sibuk dengan ponselnya. Segera Yoochun duduk di samping Junsu. Di sofa apartemen mereka. Kali ini kau sedang tidak di rumah. Kau memang sudah berencana untuk pergi membeli kebutuhan sehari-hari untukmu juga untuk Yoochun dan Junsu. Junsu masih saja menatap layar ponselnya juga menekan beberapa tombol di sana. Tak mengacuhkan atau mungkin tak mendengar panggilan Yoochun?

 

“Junsu-ah..” Yoochun memanggil Junsu lagi sambil sedikit menepuk pundaknya. Junsu menoleh. Sepertinya tadi Junsu tak mendengar panggilan Yoochun. Terlalu sibuk dengan ponselnya. Apa Junho menghubunginya?

 

“Mwoya?” Wajah Junsu menyiratkan rasa kebingungan sepertinya. Yoochun jadi sedikit ragu untuk bertanya padanya. Namun, dia tidak mungkin menyelesaikan masalah ini sendiri. Dia harus menyelesaikannya bersama Junsu. Yoochun menghela nafas sebelum bertanya pada Junsu. Dia sedikit bingung menyelesaikan masalah ini.

 

“Tentu kau ingat. Jaejoong hyung akan berulang tahun sebentar lagi..”

 

“Aku memang sedang berusaha menghubunginya..” Jawaban Junsu membuat Yoochun heran. Menghubungi? Siapa yang akan dihubungi Junsu? Apakah—

 

“Eee—e.. Siapa yang akan kau hubungi?” Yoochun bertanya dengan nada sedikit ragu. Jika benar pemikirannya, maka Junsu adalah seseorang yang sangat nekat. Lagipula, sepertinya mereka mengganti nomor ponsel mereka.

 

“Huh? Kau ini. Tentu saja aku akan menghubungi Bakery Shop di tengah kota Seoul itu. Jaejoong hyung sangat menyukai cake di sana, bukan? Kau melupakannya ya?” Mwo?? Aish, dasar Kim Junsu. Anak ini tentu sangatlah berhasil membuat Yoochun menatap heran padanya. Junsu benar-benar membuat Yoochun panik tadi dan sekarang Junsu malah membuatnya melongo menatapnya yang masih mencoba menghubungi Bakery Shop itu.

 

“Ahh~ Lalu sebaiknya kita memesan apa?” Yoochun sudah berusaha melupakan kejadian tadi. Junsu memang tidak berubah. Selalu berhasil membuatnya ataupun membuat semua anggota terheran-heran dengan jalan pikirannya. Aish, dia jadi merasakan perasaan rindu. Rindu akan kebersamaan mereka berlima. Padahal sebentar lagi anggota tertua akan berulang tahun. Yoochun sudah mulai merasakan sesak di dadanya.

 

“Molla~ Yang selalu hafal perubahan selera Jaejoong hyung itu Yunho hyung, bukan? Aku jadi bingung akan memesan apa untuk Jaejoong hyung nanti..” Perubahan suara Junsu sangatlah terasa. Suara dan wajahnya serempak menunjukkan rasa kerinduan. Rasa sesak di dada Yoochun mulai terasa lagi. Jangan sampai dia menangis. Dia harus memikirkan cara untuk membuatmu senang di hari bahagiamu. Yoochun tidak ingin mengecewakanmu.

 

“Berarti sekarang itulah tugas kita, bukan?” Yoochun harus lebih kuat lagi.Sudah terlalu lama baginya untuk bersedih. Kau sebagai yang tertua telah mampu tampak tegar. Sebaiknya Yoochun memang harus belajar mengikutimu.

 

“Hm.. Kau pintar, Chunnie. Ayo kita selidiki!”

 

^^^^^^^^^^

 

Apakah kau salah melihat? Ini musim dingin, bukan? Tapi, kenapa ada sekeranjang bunga Sweet Pea disini? Kau terus saja terdiam di depan pintu apartemen. Menatap sekeranjang bunga Sweet Pea yang tampak cantik dan segar itu. Keranjangnya pun diselimuti dengan beberapa untaian pita-pita berwarna senada. Untuk siapa? Apakah salah kirim?

 

Sungguh sangat beruntung si penerima sekeranjang Sweet Pea ini. Bagaimana tidak? Bunga Sweet Pea tampak sangat cantik dan segar di musim dingin seperti ini? Dan dalam jumlah yang banyak. Bunga ini hanya akan mekar di musim semi. Kau tahu betul mengenai bunga cantik ini. Tentu. Karena kau adalah salah satu penggemarnya.  Kau pun akhirnya tergerak untuk mencari sesuatu disana. Mungkin saja kau akan menemukan identitas pengiriman bunga ini. Dan dengan perlahan kau sedikit menyingkapkan beberapa tangkai bunga yang telah tersusun indah disana. Nihil. Tak menemukan apapun. Dan kau pun mengambil sekeranjang bunga itu untuk dibawa masuk setelah kau memastikan jika di sekeliling apartemen telah aman. Kenapa kau jadi tampak seperti pencuri?

 

“Hyung..” Kau hampir saja menjatuhkan sekeranjang bunga itu. Kau tersentak mendengar panggilan dari Yoochun. Aish. Kau memang jadi tampak seperti pencuri.

 

“Mwoya?”

 

“Itu dari siapa?” Yoochun mulai menghampirimu yang masih berada di ambang pintu. Yoochun sebenarnya sudah memperhatikan tingkahmu dari sejak kau menutup pintu dengan perlahan. Kau tiba-tiba bertingkah sedikit aneh. Hingga Yoochun memutuskan untuk memanggilmu.

 

“Hm.. Aku tidak tau..”

 

“Huh? Lalu, kenapa kau ambil?”

 

“Karena ini ada di depan pintu kita..”

 

“Apa tak ada secarik kertas atau apapun di dalamnya?”

 

“Tidak.. Sudahlah, mungkin saja ini dari penggemar, bukan?” Kau langsung berlari tanpa memedulikan Yoochun yang masih menatapmu sedikit heran. Hatimu sungguh senang. Siapa pun pemberi bunga ini, kau yakin jika ia adalah orang yang sangat baik. Senyum manismu terus terlukiskan hari itu.

 

^^^^^^^^^^

 

Apa ini? Lagi, kau menemukan sesuatu di depan pintu apartemen. Namun, bukanlah sekeranjang bunga. Boneka beruang coklat dengan ukuran mini tersenyum di sana. Sambil tangannya memegang sebuah permen lollipop. Rasa penasaran mulai mengusikmu. Apa ini pemberian penggemar juga? Dan lagi, kau tak menemukan apapun di sekitar beruang lucu itu. Kertas ataupun sesuatu sebagai petunjuk pengiriman. Namun, kau tidak lagi mengacuhkan hal itu. Kau mengambilnya dan membawa masuk beruang itu. Meskipun itu bukan untuknya ataupun bukan untuk Yoochun dan Junsu. Kau hanya berpikir untuk segera melindunginya. Tidak tega meninggalkan beruang mungil itu di depan sana.

 

Kau meletakkan beruang mungil itu di sebelah bunga yang kemarin bernasib sama seperti beruang itu. Kau temukan di depan pintu apartemen tanpa kau tahu apapun tentangnya. Senyummu terpancarkan ketika melihatnya. Siapa pengirimnya? Dan untuk siapa? Untukmu atau untuk kedua dongsaengmu? Atau mungkin salah kirim? Entahlah. Yang kau ingat hanyalah senyummu yang ingin mekar sekarang.

 

^^^^^^^^^^

 

“Dari siapa ini?” Junsu merasa janggal pada benda yang ada di atas meja. Meja di ruang santai tepatnya.

 

“Hn. Dari siapa, Hyung?” Yoochun yang memang saat itu sempat memergokimu seakan memperjelas pertanyaan Junsu. Agar lebih mengarah kepadamu.

 

“Aku tidak tau..” Ucapmu santai masih dengan mencuci piring. Junsu menatap Yoochun sedikit heran. Segeralah mereka menghampirimu di dapur. Membutuhkan penjelasan lebih.

 

“Apa dari penggemar?” Junsu langsung menarik kursi di sekitar sana masih dengan menatapmu yang tampak tidak terusik dengan tatapan mereka. Begitu pun Yoochun yang duduk di samping Junsu.

 

“Mungkin..”

 

“Aish. Kalau kau tidak mengetahuinya, kenapa malah kau bawa masuk?” Yoochun tampak sedikit tidak sabar. Apa mereka memiliki penggemar yang sedikit aneh?

 

“Karena benda itu ada di depan apartemen kita..” Kau masih saja tampak tenang. Padahal kedua dongsaengmu sedikit menaruh rasa kecurigaan pada benda itu.

 

“Kau yakin tak menemukan apapun di sekitar benda-benda itu, Hyung?” Junsu mulai penasaran sekarang. Karena Junsu memang tidak merasa jika benda-benda itu ditujukan untuknya.

 

“Tidak, Junsu-ah. Atau mungkin benda-benda itu untuk seseorang di antara kalian” Kau telah selesai mencuci piring sekarang. Kau segera membersihkan kedua tanganmu dan duduk di samping Junsu.

 

“Aku yakin jika benda-benda itu bukanlah untukku..” Junsu langsung mematahkan pendapatmu.

 

“Begitu pun denganku..” Yoochun mulai menatapmu dan Junsu yakin. Kau hanya tersenyum melihat wajah penasaran mereka. Lucu.

 

“Karena benda-benda itu ada di depan apartemen kita, mungkin saja itu untuk kita, bukan? Tak ada salahnya untuk disimpan. Lagipula aku suka. Sangat menyukainya..” Senyum indahmu terpancarkan bebas. Sesungguhnya kau memang berharap jika hadiah-hadiah itu untukmu. Kau adalah penggemar bunga Sweat Pea. Kau pun tidak membenci boneka beruang. Junsu dan Yoochun belum menyadari mengenai perubahan senyummu. Senyum tulusmu kini telah terpancarkan. Karena hadiah itu. Hadiah yang tidak jelas asalnya.

 

^^^^^^^^^^

 

“Kau sangat cantik.” Suara lembut itu membuatmu harus menoleh. Hey, siapa? Gadis mungil dengan permen besar juga balon tengah memandangmu. Dia sangat manis. Lalu kau tampak mencari-cari seseorang. Bersama siapa gadis ini? Saat ini, kau sedang berada di halaman salah satu gedung pemancar pesawat televisi. Baru saja kau menyelesaikan salah satu jadwal pekerjaanmu bersama Yoochun dan Junsu. Tentu aneh jika kau menemukan seorang gadis mungil yang sendirian di sekitar sini.

 

“Nuguseyo? Di mana orang tuamu?”  Tak berhasil menemukan seseorang yang mungkin saja adalah pendamping gadis ini, kau pun berjongkok di hadapannya. Gadis itu tampak asik dengan permennya. Terus dijilatinya hingga sedikit air liurnya menetes di dagunya. Gadis ini mengingatkanmu pada dirimu sendiri. Kau pun selalu bersemangat jika sudah mengulum permen. Entah permen Lollipop ataupun permen bentuk lainnya. Kau sangat menyukai permen.

 

“Ini untukmu.” Gadis itu mulai berbicara lagi padamu setelah kau menunggunya selesai mengulum permen lollipop besarnya. Gadis ini memang tak menjawab pertanyaanmu. Gadis mungil ini malah menyodorkanmu balon besar berwarna merah yang sejak tadi digenggamnya. Untukmu?

 

“Untukku?” Tanyamu sambil menunjuk dirimu sendiri. Dan gadis itu hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali masih dengan mengulum permen. Lucunya.

 

“Dari siapa?” Pertanyaanmu terabaikan. Setelah kau mengambil balon itu, gadis mungil yang manis tadi langsung berlari menjauhimu. Hey, apa ini? Kejutankah? Tadi pagi di saat dirimu, Yoochun dan Junsu keluar dari apartemen untuk beberapa pekerjaan memang membuatmu sedikit heran. Pasalnya, kau tidak lagi menemukan sesuatu di depan pintu apartemen. Padahal lusa dan kemarin secara berturut-turut, ada saja sesuatu di sana. Dan rasa heran itu seakan terjawab dengan kejutan yang diterimamu saat ini. Apa balon ini memiliki suatu hubungan dengan sekeranjang bunga dan beruang mungil di apartemen? Apa sebenarnya semua kejutan ini untukmu? Kau masih harus mencari tahu tentang semua ini.

 

Pandanganmu teralihkan. Sejak tadi kau terus saja menatap ke arah perginya gadis tadi dan sekarang pandanganmu terarahkan pada pemberat balon yang masih kau genggam. Permen lollipop kesukaanmu terikat disana. Dengan rasa kesukaanmu pula, Strawberry. Senyummu terkembang lagi di wajah manismu. Ada keyakinan jika semua ini memang berhubungan. Tentu saja untukmu.

 

^^^^^^^^^^

 

Hari ini mereka masih saja sibuk. Jadwal pekerjaan mereka hari ini memang sudah dijelaskan oleh manager. Namun, Junsu dan Yoochun tidak mau melewatkan hari ini begitu saja. Hari ini adalah hari yang istimewa. Kau berulang tahun. Dan tentu saja, Junsu dan Yoochun tidak ingin mengecewakanmu. Pagi-pagi benar, Junsu dan Yoochun sudah terbangun untuk menyiapkan pesta kejutan kecil untukmu. Tentu kau masih terlelap saat itu. Yoochun sudah menemukan kue yang sedang kau inginkan. Kue vanilla dengan banyak permen di sekitarnya. Junsu pun langsung setuju dengan kue pilihan Yoochun. Dan kue itu sudah berada di tangan Junsu sekarang. Lilin dengan bentuk angka ‘27’ menyala dengan cantik di atasnya. Dengan sedikit mengendap Junsu dan Yoochun memasuki kamarmu. Kau masih terselimuti mimpi. Dengan sedikit gerakan, Yoochun membangunkanmu.

 

Matamu tentu masih terasa berat. Ada apa ini? Kau lebih memilih menatap layar ponselmu untuk sekedar mengetahui pukul berapa saat ini. 04.13 tertera di sana. Ini sungguh masih sangat pagi, bukan? Namun, kau sudah cukup tidak tahan dengan goyangan lembut di tubuhmu. Segera kau bangun dan memaksa matamu untuk terbuka saat itu juga.

 

“Saengil chukha hamnida..” Sesuatu yang bercahaya di gelapnya kamarmu memaksa kedua matamu untuk terbuka. Dan pandanganmu langsung terarah pada lilin yang membentuk angka itu. Hey, hari ini ulang tahunmu, bukan? Kenapa kau melupakannya?

 

“Sepagi ini?” Dengan suara yang masih parau kau bertanya pada kedua dongsaeng yang sangat kau cintai itu. Sedang mereka hanya tersenyum manis padamu.

 

“Jadwal kita sangat padat hari ini, Hyung..” Yoochun menyahut. Dan Junsu hanya mengangguk. Kau tersenyum. Sungguh bahagia memiliki mereka. Kau saja melupakan hari ini, padahal mereka berdua mengingatnya. Apakah mereka berdua di sana mengingatnya juga?

 

“Jeongmal gomawo yo, Junsu-ah, Yoochun-ah..” Senyum ketulusan mengiringimu saat ini. Kau sungguh-sungguh sangat bahagia.

 

“Buat permohonan, Hyung. Lalu tiup lilinnya..” Ujar Junsu sambil mendekatkan kue yang sejak tadi di bawanya kepadamu.

 

Kau mulai menutup matamu dan mengucapkan permohonanmu. Kau sungguh-sungguh sangat ingin semua ini terselesaikan. Kau sungguh sangat ingin jika mereka kembali bersama. Tentu saja dalam kebahagiaan dan senyuman. Kembali menyampaikan perasaan mereka dalam sebuah harmoni yang indah. Kembali menyatukan suara mereka dalam symphoni yang dapat membuat semua orang tersenyum. Kembali tertawa bersama dengan luapan kebahagiaan yang hadir dalam hidup mereka. Juga kembali menangis bersama karena badai yang mengharuskan untuk lewat dalam jalan hidup mereka. Kau ingin kembali bersama mereka. Berlima dalam kebahagiaan.

 

Junsu sudah meneteskan air matanya sejak tadi. Begitupun dengan Yoochun. Kaulah yang membuat mereka menangis. Permohonanmu memang tak diketahui oleh Junsu ataupun Yoochun, namun, air matamulah yang seakan membongkar permohonanmu. Mereka tahu betul apa yang sedang kau mohonkan. Karena mereka pun menginginkan hal itu.

 

Masih dengan wajah yang basah, kau meniup lilin itu. Dan kau sedikit terkejut melihat Junsu dan Yoochun yang menangis. Sepertinya permohonanmu telah diketahui mereka. “Aku sudah memohonkan hal yang kita inginkan.”

 

“Aku merindukan mereka, Hyung. Aku sungguh sangat ingin seperti dulu.” Yoochun langsung memelukmu dengan wajah yang telah penuh dengan air mata. Setelah meletakkan kuemu di meja, Junsu pun memelukmu juga Yoochun. Atmosfir kerinduan menyesakkan kamarmu saat ini.

 

“Kita berlima akan segera bertemu dan kembali seperti semula.”

 

^^^^^^^^^^

 

Hatimu masih berharap. Meskipun ribuan ucapan selamat telah kau dapat. Masih saja terasa kurang. Jujur, kau ingin mendapatkan ucapan selamat dari dua orang yang berharga di sana. Namun, kau memang sudah mengetahuinya sejak awal. Itu tidak mungkin.

 

Sesuatu yang melayang berhasil menghamburkan pikiranmu yang sejak tadi duduk di kursi. Kau memang sedang bersantai di balkon apartemen. Dan lamunanmu harus terhapuskan karena sesuatu itu. Itu helikopter mainan, bukan? Merasa penasaran kau pun mendekatinya. Ada sesuatu di sana. Sebuah pesan. Setelah kau berhasil membaca pesan yang memang tergantung di helikopter itu, kau segera berlari keluar dari apartemen dan mengikuti perginya helikopter itu. Kau terus berlari tanpa memedulikan tubuhmu yang belum memakai jaket. Padahal saat ini sedang musim dingin.

 

Apa itu? Apa pesan itu berhubungan dengan semua hadiah yang telah diterimamu? Ternyata kejutan-kejutan itu memang belum berakhir. Kau sungguh ingin tahu mengenai semua ini. Siapa pengirimnya? Apakah benar semua hadiah itu untukmu?

 

Tiba-tiba kau berhenti berlari. Tak kau pedulikan lagi helikopter itu. Pandanganmu telah tertancap pada seseorang di sana. Seseorang yang mengendalikan helikopter itu. Kini kau telah berada di taman kota. Tak jauh memang dari apartemen. Dan sungguh aneh jika dia berada di sana. Benarkah itu?

 

“Hai..” Suara lembutnya berhasil membuatmu terpaku. Itu dia. Itu benar dirinya. Namun, kau masih saja membatu di tempatmu. Dengan senyum indahnya, pria tampan itu menghampirimu dan langsung saja menarikmu dalam pelukan hangatnya. Ini kehangatannya. Ini benar Jung Yunho.

 

“Ini musim dingin, Joongie. Kemana mantelmu?” Kau langsung menangis sekeras-kerasnya. Kau merindukan pria ini. Sungguh sangat merindukannya. Yunho tersenyum sambil terus mengusap kepalamu yang sudah tenggelam di dadanya. Yunho pun sangat merindukanmu.

 

“Jeongmal bogoshipo..” Hanya seperti bisikan kau mengatakannya. Namun, Yunho dapat mendengarnya. Yunho hanya terus tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. “Jeongmal nado bogoshipo..”

 

“Hyung, saengil chukae..” Suara ini tentu tidak akan pernah dilupakan olehmu. Kau masih sangat hafal. Segera kau berbalik dan kau menemukan senyum manis Changmin di sana. Tanpa keraguan kau langsung memeluknya. Changmin pun dengan senang hati membalas pelukan hangatmu. “Jeongmal bogoshipo, Minnie-ah..” Changmin hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya berkali-kali. Dan air matanya pun telah mengalir. Changmin juga sangat-sangat merindukanmu.

 

“Saengil Chukha Hamnida!!” Pita-pita telah berjatuhan. Kau terkejut. Kau pun melepaskan pelukanmu pada Changmin. Di hadapanmu kini juga telah ada Junsu dan Yoochun. Keempat dongsaengmu itu kini tengah tersenyum sambil menghamburkan beberapa untaian pita-pita indah ke arahmu. Mereka berlima kini bertemu. Benarkah ini? Melihat semua ini, benar-benar membuatmu merasa sangat behagia. Tuhan mendengar permohonanmu. Salah satu permohonanmu terkabulkan. Lagi. Kau menangis sekencang yang kau bisa. Rasa sesak akan kerinduan telah meluap-luap di dadamu. Mereka semua berkumpul di hari istimewamu.

 

“Uljima, Joongie..” Pria tampan yang selalu saja membuat dirimu seakan penuh karenanya kembali menarikmu dalam pelukannya. Yunho pun mengusap lembut kepalamu. Dan kau masih saja terus menangis. Melihat pemandangan indah itu, Junsu, Changmin, dan Yoochun pun menghambur ke arah kalian. Kalian berlima berpelukan erat di senja yang indah itu. Angin musim dingin yang selalu berhasil membuat tubuh bergidik, kali ini harus mengalah. Karena kehangatan telah menyelimuti kalian berlima. Suara tangisan sangat terdengar. Hanya sang pemimpin yang sejak tadi tersenyum indah. Yunho memang sangat tegar.

 

Kerinduan kalian sedikit demi sedikit telah menguap. Meskipun kalian tahu betul jika kebersamaan kalian belum dapat kembali seperti sedia kala. Masih banyak masalah yang harus kalian lalui terlebih dahulu. Namun, kalian kini telah mendapatkan kekuatan baru. Kekuatan baru yang akan memberi kalian keberanian untuk mewujudkan kebersamaan kalian lagi. Kalian akan segera bersama.

 

^^^^^^^^^^

 

“Jadi, semua itu untukku?” Kini mereka semua telah duduk di sofa. Di apartemenmu, Yoochun dan Junsu tepatnya. Dengan senyum yang terus saja terpancar dari setiap wajah tampan pria-pria di sana. Seperti tidak ingin melewatkan kesempatan, kau terus saja bermanja dengan pria tampan yang merupakan pujaan hatimu itu. Tentu saja Yunho tak keberatan.

 

“Hm.. Kau suka?” Yunholah si pengirim rahasia itu. Yunho memang ingin membuat kejutan untuk kekasih hatinya ini.

 

“Sangaaaat suka..” Kau tersenyum sangat lebar sambil menenggelamkan kepalamu di dada bidang Yunho. Junsu, Yoochun, dan Changmin pun turut merasakan kebahagiaan pasangan itu. Mereka masih saja tersenyum sambil memandangi tingkah manjamu pada Yunho.

 

Hari itu, mereka semua saling melepaskan rasa rindu. Karena mereka semua tahu jika keadaan belum kembali baik sepenuhnya. Mereka kembali seperti dulu. Mereka bercanda bersama. Mereka pun tertawa bersama. Bahkan mereka saling berkejaran. Hingga akhirnya mereka menangis bersama. Tak apa, karena pertemuan ini benar-benar memberikan kekuatan tersendiri bagi mereka. Kekuatan inilah yang akan mereka kenang. Kekuatan ini pula yang akan selalu memberikan mereka keberanian juga kepercayaan. Meski waktu belum mengizinkan mereka untuk kembali bersama. Tetapi, bukan berarti waktu tidak memberikan mereka kesempatan, bukan? Perjuangan mereka akan segera berbuah manis. Mereka pasti akan segera bersama kembali. Percayalah. Percayalah bersama mereka.

 

=END=

 

Saengil Chukae Ummaaaaaaaa (>o<)/

Wish u always healthy and happy :***

 

we still waiting for uri 5 namja! Cassiopeia always waiting cause we love u forever ♥♥♥

Always Keep The Faith!

CASSIEASTVXQ JJANG!

YUNJAE JJANG!